Beranda Traveling El Nido, Secuil Surga Tropis di Filipina

El Nido, Secuil Surga Tropis di Filipina

LANDSCAPE KHAS: Pemandangan El Nido diambil dari atas bukit sedikit mengingatkan kita pada keagungan Raja Ampat. Tampak perairan berwarna tosca sebening kristal yang dipagari pegunungan kapur.

EL NIDO merupakan kota kecil di tepi laut yang berlokasi di Palawan, berbatasan langsung dengan Laut Tiongkok Selatan. Panorama pulaupulau batuan kapur (karst) dan taman bawah laut sepintas mengingatkan saya pada Raja Ampat. Indahnya keterlaluan. Tidak hanya Instagrammable, tapi juga wallpaper-able! Hehehe…

Tidak ada direct flight dari Indonesia ke El Nido. Karena itu, saya mesti transit dulu di Manila. Dari ibu kota Filipina tersebut, saya melanjutkan dengan penerbangan domestik selama sejam ke Puerto Princesa, lalu naik bis menuju El Nido selama sekitar 6 jam. Sepanjang perjalanan menuju El Nido, kita bisa menikmati pemandangan pegunungan dan pantai di bagian utara Palawan. Harga tiket bus PHP 480 peso atau sekitar Rp125ribu dengan fasilitas AC, cukup bersahabat di kantong backpacker.

Setiba di terminal bus El Nido, ada banyak tricycle yang menawarkan jasa ojek. Tapi, saya memilih jalan kaki karena lokasi hostel hanya 500 meter dari terminal. Perlu dicatat, kalau malam masih sering mati lampu di kawasan ini.

Karena pasokan listrik yang belum maksimal, malam di El Nido tak terlalu glamor seperti di Kuta atau Phuket. Hanya ada beberapa kafe serta restoran seafood yang buka di kawasan pantai.

Ada empat pilihan paket tur untuk traveler di El Nido. Yakni Tour A, Tour B, Tour C, dan Tour D. Masing-masing punya ciri khas dan keunikan. Tapi, kesamaannya, semua tur berdurasi satu hari, dimulai setiap puku 8 pagi dan berakhir puku 3–4 sore. Karena punya waktu efektif tiga hari di El Nido, saya memilih Tour A pada hari kedua dan Tour C di hari ketiga.

Tour A akan membawa traveler ke lima destinasi. Yaitu, Big Lagoon, Secret Lagoon, Small Lagoon, Simizu Island, dan Seven Commandos Beach. Paket tur itu paling banyak dipilih wisatawan karena tempat-tempat yang dituju merupakan ’’must visit place’’ di El Nido. Harganya PHP 1200 per orang, atau sekitar Rp330 ribu.

Big Lagoon dengan air jernih dan batuankarang landmark El Nido menjadi tempat yang sempurna untuk bermain kayak. Siapkan PHP 300 (sekitar Rp80 ribu) untuk sewa kayak selama 45 menit. Satu kayak bisa dipakai dua orang. Selain kayak, tak sedikit traveler yang berenang dan snorkeling di Big Lagoon yang airnya sebening kaca itu.

Dari Big Lagoon, tujuan berikutnya adalah Secret Lagoon Simizu Island. Wisatawan akan dijamu makan siang berupa seafood dan sambal khas Filipina yang sepintas mirip sambal dabudabu ala Manado. Bahan yang fresh dan bumbu yang cocok di lidah bikin acara makan siang di sini sungguh nikmat. Bikin semangat mendatangi dua lokasi lagi, Small Lagoon dan Seven Comandos Beach. Dua-duanya merupakan spot snorkeling dan bermain kayak dengan latar belakang perbukitan karst.

Keesokannya, saya mengambil one day tour paket C dengan destinasi Helicopter Island, Secret Beach, Tapuitan Island, Matinloc Shrine, dan Hidden Beach. Sesuai dengan namanya, Helicopter Island adalah sebuah pulau tanpa penghuni dengan bukit yang dari kejauhan berbentuk menyerupai helikopter.

Secret Beach yang menjadi tujuan berikutnya adalah spot yang unik. Sesuai namanya, pantai itu memang ’’rahasia’’ karena tertutup bukit karang. Untuk menuju pantai, kami harus berenang melewati lubang kecil yang lebarny hanya sekitar dua meter. Untuk makan siang, kami dibawa ke Tapuitan Island sebelum menikmati landscape El Nido dari ketinggian di Matinloc Shrine. Hidden Beach menjadi tujuan terakhir dengan pantai yang jernih, dangkal, dan dikelilingi batuan karst yang menjulang tinggi.

El Nido tak melulu menyajikan wisata laut dan pantai. Pada hari terakhir di kota kecil nan cantik ini, saya sempatkan menuju Taraw Cliff. Perlu waktu sekitar 30 menit untuk trekking ke puncak tebing. Setiba di atas, rasa lelah dan waswas karena tajamnya karang terbayar oleh pemandangan indah Kota El Nido dari ketinggian.