Beranda Berita Utama Makna Simbolis bagi Kerajaan Inggris

Makna Simbolis bagi Kerajaan Inggris

DI saat tindak rasisme meningkat di Inggris sejak Brexit, kehadiran Meghan Markle jadi semacam oase. Lebih mirip mendiang Lady Di ketimbang sang calon kakak ipar.

Pangeran Harry bukan putra mahkota Kerajaan Inggris. Dia hanya berada di urutan kelima ahli waris takhta yang sampai sekarang masih dipegang sang nenek, Ratu Elizabeth II. Posisi Harry bahkan bakal melorot ke urutan keenam pada April nanti. Yakni saat anak ketiga sang kakak, Pangeran William, lahir.

Namun, salah besar kalau lantas menganggap rencana pernikahannya dengan Meghan Markle pada Mei tahun depan sebagai ”royal wedding” biasa. Ada makna penting di balik pernikahan yang oleh penulis Afua Hirsch disebut tak akan mungkin terjadi dua dekade lalu itu.

universitas nusa bangsa unb

Apa itu? Pergeseran cara pandang masyarakat Inggris sehingga menjadi lebih toleran terhadap keberagaman ras. Juga, itu bukan hal sepele. Ingat, Inggris adalah negara yang tahun lalu memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa melalui referendum. Sebuah langkah yang dipandang sebagai kemenangan kaum ultranasionalis.

Ingat pula, itu monarki yang ratunya jadi kepala negara di berbagai penjuru dunia. Mulai Selandia Baru sampai Jamaika. ”Jangan pernah meremehkan simbolisme pernikahan Kerajaan Inggris,” tulis Hirsch, penulis keturunan Ghana, dalam kolomnya di The Guardian.

Markle lahir dari seorang ayah (Thomas Markle) kulit putih dan ibu (Doria Ragland) berdarah Afro-Amerika. Juga, tak ada darah biru yang mengalir dalam tubuh janda berusia 36 tahun itu. Ayahnya seorang juru lampu. Ibunya mencari nafkah sebagai instruktur yoga dan terapis.

Dari garis keturunan sang ibu, bahkan ada kisah kelam perbudakan yang dialami nenek moyang Markle. Sebuah latar belakang yang, kembali mengutip Hirsch, tak mungkin bisa bersanding dengan keluarga kerajaan.

Perlu diketahui, sejak British Exit alias keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada Juli 2016 sampai sepanjang 2017, terjadi peningkatan tindak rasisme sampai 22 persen. Karena itu, pernikahan Harry dan Markle pun seolah menjadi oase: Seorang perempuan keturunan kulit hitam, bahkan budak, bersanding dengan seorang pangeran kerajaan yang selama ini dikenal sangat ”putih”.

Latar belakang Markle sebagai aktivis, seperti juga mendiang ibunda Harry, Lady Di, kian memperkuat citranya. Dia adalah duta PBB untuk urusan perempuan.

Dia juga duta World Vision Kanada yang mengurusi banyak masalah lingkungan. Dia pernah mengampanyekan air bersih dan air minum yang sehat hingga Rwanda. Dia juga dua kali menjadi pembicara dalam seminar internasional One Young World dengan tema kesetaraan gender.

Pernikahannya dengan Pangeran Edward justru membuat sang suami kehilangan hak sebagai pewaris takhta. Dengan sukarela, Edward melepaskan takhta agar bisa bersanding dengan pujaan hatinya. (theindependent/theguardian/thesun/businessinsider/hep/c11/ttg)