Beranda Metropolis 2.398 Guru Ngaji Hidup Susah

2.398 Guru Ngaji Hidup Susah

BOGOR–Kesejahteraan guru ngaji masih menjadi problem pelik. Di Kota Bogor, sebanyak 2.398 guru ngaji hidup di bawah upah minimum kota kabupaten/kota. Mereka hanya mendapat honor (insentif) Rp50 ribu setiap bulan. Malahan, masih ada 300 guru ngaji yang tak kebagian insentif dari Pemkot Bogor.

Masalah tersebut menjadi perjuangan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Alquran (LPPTKA) Kota Bogor pada 2018.

Direktur LPPTKA Jejen Hermawan mengungkapkan, pada 2017 Pemkot Bogor memberikan bantuan senilai Rp200 juta. “Bantuan ini dialokasikan untuk honor guru sebesar Rp120 juta,” ujarnya di sela-sela Rapat Kerja (Raker) LPPTKA BKPRMI Kota Bogor Tahun 2017, di gedung Pusat Pengembangan Islam Bogor (PPIB), Jalan Pajajaran, Kota Bogor, Sabtu (2/12).

universitas nusa bangsa unb

Jumlah itu diberikan kepada 200 guru taman pendidikan Alquran (TPA) dan taman kanak-kanak Alquran (TKA). Masing-masing guru memperoleh honor Rp50 ribu per bulan dan dibayarkan enam bulan sekali. “Bantuan ini baru menyentuh 200 guru. Artinya, masih ada sekitar 300 guru yang belum terbantu,” beber Jejen.

Meski demikian, lanjut Jejen, permasalahan finansial tersebut tidak terlalu meme­ngaruhi guru-guru dalam mengajar anak-anak. Apa pun yang terjadi, mereka terus maju mendidik anak-anak sebagai generasi bangsa. “Alhamdulillah, wali kota menjanjikan siap mem­bantu dan akan meng-omunika­sikan dengan kepala bagian Adkesra Setdakot Bogor,” imbuhnya.

Wali Kota Bogor Bima Arya menuturkan, pihaknya bukan hanya sekadar memperhatikan secara materi atau banyaknya guru ngaji yang ada di Kota Bogor. Akan tetapi, harus ada komitmen kuat untuk memb­angun pendidikan karakter sedini mungkin. “Guru-guru ngaji inilah yang menjadi garda terdepan masuk ke rumah tangga dan keluarga dalam membangun karakter anak,” tuturnya.

Dia berharap, insentif yang ada bisa ditingkatkan nominal­nya pada tahun depan sehingga bisa membantu ekonomi penerimanya. Hal yang sama juga akan diberikan kepada guru lain, semisal guru PAUD.

Karena merekalah yang pertama mengajarkan pendidikan formal kepada anak. “Kalau hal ini tidak digarap serius, saya kha­watir kecenderungan komer­sialisasi pendidikan sangat besar,” sebut Bima.

Sebelumnya, Kepala Bagian Administrasi Kesejahteraan Masyarakat Setda Kota Bogor, Iman mengatakan, tahun depan pemkot akan menambah jumlah guru ngaji yang menerima insentif, dari sebelumnya 2.398 orang menjadi 2.500. Tak hanya itu, jika saat ini hanya diberikan untuk 10 bulan sebesar Rp500 ribu per orang, nantinya akan ditingkat­kan menjadi 12 bulan sebesar Rp1,2 juta per orang.

“Kami harap usulan tersebut diterima DPRD Kota Bogor. Apalagi, tujuannya untuk menye­jahterakan para guru ngaji yang memang tidak me­miliki penghasilan tetap, alias mengajar dengan sukarela dan penuh keikhlasan,” katanya. (ran/c)