Beranda Berita Utama Contra flow Sholis, Jalur Alternatif Macet Parah

Contra flow Sholis, Jalur Alternatif Macet Parah

MACET PARAH: Antrean kendaraan melewati jalur Sholis yang diberlakukan contra flow. Sementara itu jalur alternatif macet parah (Meldrick/Radar Bogor)

BOGOR–Hari ini (15/11) sebagian ruas Jalan KH Sholeh Iskandar (Sholis) Kecamatan Tanahsareal sudah mulai diberlakukan contra flow. Artinya, para pengguna jalan harus rela berbagi lajur dengan kendaraan dari berlawanan arah.

Sementara jika memilih menggunakan jalur alternatif, maka mesti mewaspadai kepadatan yang lebih parah lagi. Pantauan Radar Bogor sepanjang hari kemarin, jalur-jalur alternatif di sekitaran Sholis terpantau padat.

Rencana penutupan satu titik ruas Sholis membuat mayoritas pengendara memilih jalur alternatif dan menimbulkan kemacetan. Seperti di Jalan Raya Cimanggu dan Tentara Pelajar. Sedari pagi kemarin, antrean kendaraan mengular di ruas jalur ini.

universitas pakuan unpak

’’Baru saja keluar gang rumah, sudah macet antrean kendaraan. Sampai lampu merah Manunggal. Saya keluar dari gang Pasama, tuh, langsung kejebak macet,’’ tutur Ketua RT 01/12 Kelurahan Ciwaringin, Bogor Tengah, Jatnika.

Tak hanya pagi hari, kondisi serupa juga terlihat sore di saat jam pulang kerja. Informasi yang dihimpun, antrean kendaraan sempat terpantau sekitar pukul 20.00 WIB. ’’Harus berangkat jam 06.00 berarti sekarang. Harihari biasa saja semenjak pembangunan Tol BORR bisa nyampe 45 menit,’’ ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, demi mempercepat pengerjaan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR), pelaksana proyek, PT Wijaya Karya (Wika) terpaksa menutup ruas Jalan Sholis, arah Kedunghalang, di satu titik. Petugas bakal menerapkan contra flow pada jalur superpadat lalu lintas ini.

Kepala Satlantas Polresta Bogor Kota, Kompol Bramastyo Priaji telah menyiapkan rekayasa lalu lintas terkait contra flow yang diberlakukan mulai dari P57 hingga P58 atau tepatnya dari SPBU hingga belokan At-Taufik. ’’Rencana akan dialihkan yang dari arah Yasmin masuk ke jalur yang menuju Yasmin atau lawan arah,’’ jelasnya kepada awak media kemarin (14/11).

Untuk mengantisipasi kemacetan saat contra flow, PT Wika sudah melakukan pelebaran ruas jalan dari arah Tol BORR menuju Yasmin. Sehingga, kini tersedia jalur selebar 14 meter yang bisa digunakan menjadi empat lajur kendaraan.

’’Bisa digunakan dua lajur ke arah Yasmin, dua lajur ke arah simpang BORR, dengan total jalan 14 meter,’’ beber pria yang akrab disapa Bram tersebut.

Ia meminta masyarakat tak perlu khawatir dalam permberlakuan contra flow di Jalan Sholis. Karena jalur tersebut tetap bisa dilintasi oleh kendaraan roda empat maupun sepeda motor selama penutupan di satu titik.

’’Pengendara tetap bisa melintas, tidak masalah. Tidak ada perubahan, intinya tetap dua lajur ke arah Yasmin dan dua lajur ke arah Tol BORR. Nantinya kalau sudah jadi, totalnya akan ada delapan lajur,’’ ujarnya.

Meski pemberlakuan contra flow untuk pengerjaan erection box girder di area P57 sampai P58 ditarget rampung lima hari, rupanya, pengerjaan yang sama dilakukan secara beruntun hingga ke P78. Sehingga, total waktu yang dibutuhkan sekitar 105 hari, atau hampir mencapai 4 bulan. ’’Pengalihan pertama sekitar satu minggu atau paling cepat 5 hari. Kalau sudah selesai, bergeser lagi dari P58 ke P59, dan seterusnya. Kurang lebih sampai akhir tahun,’’ kata Bram.

Selain pelebaran jalan di ruas yang terkena contra flow, polisi bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor menyiapkan 25 personel untuk membantu mengurai kemacetan di pagi dan sore hari.

”Petugas gabungan dari Satlantas dari Polresta Bogor Kota, Unit Lantas Tanahsareal, dan Dishub Kota Bogor. Jumlah petugas kurang lebih sekitar 25 personel pada pagi hari dan ditambah lagi pada sore hari,” paparnya.

Pengamat transportasi Universitas Pakuan Bogor, Budi Arif menyayangkan langkah rekayasa lalu lintas tidak all out. Pemberlakuan masing-masing dua lajur di contra flow dinilai tidak akan meminimalisasi kemacetan.

Karena bagaimanapun, kondisi jalan Sholis sehari-harinya selalu dipadati kendaraan. ’’Logikanya, pada saat kondisi normal kan sudah terjadi kemacetan. Sekarang ditambah contra flow,’’ ucapnya.

Beberapa yang perlu dikhawatirkan adalah perilaku pengendara yang kerap kali tidak tertib aturan. Seperti halnya pengendara sepeda motor yang selalu menyelip di tengah ataupun samping kiri ketika kondisi jalan sedang macet.

”Tentu perilaku orang berkendara juga akan berbeda. Dalam satu jalur kan melawan arah, apalagi kan yang dikhawatirkan roda dua suka menyerobot ke tengah. Kalau mobil kan tidak mungkin zigzag,’’ kata Budi. Meski begitu, menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan.

Pasalnya, kondisi tersebut hanya bersifat sementara dan untuk kepentingan pembangunan jalan. ’’Itu memang risiko dari pembangunan. Tapi kan itu bersifat temporary. Jadi, kebijakan itu bersifat sementara. Kecuali nanti kalau sudah jadi masih macet, nah, itu kan ada masalah berarti. Kalau ini sih saya anggap hal yang wajar,’’ tandasnya.

Sebelumnya, Project Manajer PT Wika, Ali Afandi mengatakan bahwa penutupan itu terpaksa dilakukan untuk pemasangan erection box yang tak lagi menggunakan alat launcher gantry (LG) seperti sebelumnya.

”Kita menggunakan cara shoring, yaitu dengan ditopang beberapa rangka baja. Kalau zona 1 sama zona 2 pakai LG. Zona yang sekarang dikerjakan ini merupakan irisan dari zona 1 dan 2 yang posisinya berada di tengah-tengah,’’ jelasnya.

Penggunaan metode shoring merupakan pilihan terakhir. Pasalnya, jika tetap memaksakan menggunakan LG, harus menunggu masa pemasangannya selama satu bulan. Sedangkan, pembangunan Tol BORR Seksi IIB ditarget rampung 100 hari lebih cepat, yakni pada Maret 2018 mendatang.

”Shoring itu rangka baja yang dari bawah, terus diangkat pake crane. Kalau pakai itu waktunya tidak akan cukup. Kalaupun dipaksain baru bisa berjalan di akhir Desember,’’ kata Ali.(rp1/d)