Beranda Bogor Raya Barat Utara Atap Ambruk, Nyawa Siswa Terancam

Atap Ambruk, Nyawa Siswa Terancam


AMBRUK: Atap plafon pada ruang kelas SDN Cipinang 01 ambruk karena kondisi kayunya telak lapuk dimakan usia.( Arifal/Radar Bogor)

RUMPIN–Elipiah (12), siswa kelas VI SDN Cipinang 01, Kampung Janala, Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, tidak fokus saat belajar. Sesekali matanya melirik ke langit-langit. Ia pun menggeser bangkunya karena debu terus berjatuhan hingga mengenai kepalanya. Rupanya, ia waswas atap kelas tempatnya belajar ambrol seperti ruang kelas lainnya.

Sebab, Sabtu (11/11) akhir pekan lalu, tiga ruang rombongan belajar (rombel) rusak berat. Atapnya ambruk saat berlangsung mata pelajaran olahraga. Beruntung, tak ada murid di dalam ruang kelas. “Ruang kelas I, II, dan III atapnya ambruk. Jadi saya sering lihat ke atas. Takut bernasib sama,” akunya kepada Radar Bogor, kemarin (13/11).

Elipiah tidak sendiri. Ada 190 murid SDN Cipinang 01 yang bernasib sama. Setiap hari, mereka harus melawan rasa cemas saat belajar. Khawatir bila atap kelas jatuh menimpa mereka.

universitas nusa bangsa unb

Hal serupa juga dirasakan oleh para guru. Terlebih saat memasuki musim hujan seperti saat ini. Bukan sekadar dituntut mengajar, mereka juga harus memastikan anak didiknya dalam keadaan aman. “Jika hujan deras, kami memulangkan anak-anak lebih cepat. Karena takut sekolah ambruk,” ujar guru SDN Cipinang 01, Erni.

Agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tak terganggu, pihaknya memberlakukan jam belajar bergilir dengan kelas IV hingga VI. “Selain ruang kelas, kantor kepala sekolah juga ikut ambruk,” singkatnya.

Namun sayangnya, renovasi bangunan SDN Cipinang 01 tidak masuk kebijakan umum anggaran dan prioritas plafon anggaran sementara (KUA-PPAS) dalam RAPBD 2018. Terlebih, saat ini dana alokasi khusus (DAK) untuk pendidikan, harus masuk rencana kerja pemerintah daerah tahun sebelumnya.

Kasi Sarana dan Prasarana TK/SD pada Disdik Kabupaten Bogor, Deddy Syarifudin mengungkapkan, sekolah tersebut belum bisa men­dapatkan bantuan dari pemerintah daerah. ”Hanya tahun ini ada kebijakan baru dari pemerintah pusat. Jadi agak sulit juga dan merasa kebingungan harus meng­gunakan dana apa untuk menanggulangi masalah seperti ini, karena sebelumnya selalu bisa ditanggulangi dengan DAK,” terangnya kepada Radar Bogor, kemarin (13/11).

Ia pun menjadwalkan akan segera meninjau langsung lokasi sekolah dan memastikan kem­bali apakah SDN Cipinang 01 bisa dimasukkan KUA-PPAS atau tidak.

”Saya masih berharap agar tidak terlalu kaku dalam hal ini. Ibaratkan 90 persen dari yang sudah kita masukkan se­belumnya, minimal 10 persen dibuka untuk plot-plot seperti ini. Paling tidak bisa kita pergunakan. Kalau tidak saya sendiri bingung mau pakai biaya dari mana. KUA-PPAS tidak masuk dan DAK terkunci,” pungkasnya. (rp2/c)