Beranda Berita Utama Menteri Susi Bersantai di Studio Karawitan Dahlan

Menteri Susi Bersantai di Studio Karawitan Dahlan

KANAN-KIRI: Nafsiah Sabri istri Dahlan Iskan, Dahlan Iskan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti serta pelawak Kirun yang menjadi MC ketika peresmian serta syukuran Studio Karawitan Dahlan Iskan yang berada di samping halaman rumah Dahlan Iskan, kemarin (10/11/17). FOTO: Guslan Gumilang/Jawa Pos

SURABAYA–Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menjadi tamu istimewa dalam peresmian Studio Kara­witan Dahlan Iskan tadi malam (10/11). Dalam acara yang berlangsung santai itu, dia membeberkan cerita tentang sosok Dahlan yang dikenalnya.

Susi disambut Dahlan yang menge­na­kan beskap lengkap dengan belang­kon didampingi sang istri Nafsiah Dah­lan. Mereka duduk bersimpuh di de­pan studio karawitan yang berar­sitektur rumah adat itu sambil men­dengarkan karawitan dan banyolan pelawak Kirun.

Kedatangan Susi tidak direncanakan. Susi mengungkapkan, saat menerima gelar doktor honoris causa (HC) di ITS siangnya, dirinya mendengar bahwa Dahlan akan meresmikan studio karawitan di rumahnya. ”Saya bilang, boleh tidak saya datang? Saya juga suka musik,” ucapnya. Akhirnya Susi mendatangi rumah Dahlan di sela-sela kesibukannya di Surabaya.

universitas nusa bangsa unb

Kepada para tamu yang memadati halaman rumah Dahlan, Susi mengaku sudah lama kenal Dahlan. Mantan dirut PLN tersebut pernah mencarter pesawatnya dan mendatangi rumah Susi di Pangandaran, Jabar, dengan membawa direktur-direkturnya. Dahlan meminta para direktur itu menceritakan problemnya dan menjalankan apa yang dikatakan Susi.

Kenangan yang tidak pernah dilupakan adalah saat pesawatnya mengalami kecelakaan di Papua. Waktu itu Susi sedang sendirian membawa pilot turun dari gunung. Saat susah itulah, dia membaca tulisan Dahlan yang berjudul Susi Air Selalu di Hati. ”Tulisan itu sangat berharga untuk saya. Pak Dahlan punya jasa yang tidak mungkin saya lupakan. Sebagai kawan sekaligus orang yang saya hormati,” ucapnya.

Sementara itu, Dahlan sangat mengapresiasi Susi. ”Kita harus belajar ke beliau,” tuturnya. Dahlan punya pengalaman saat mencarter pesawat Susi Air. Dalam bayangannya, ada pramugari yang menyambut dan melayani. Dan ternyata, sang pemiliknya sendiri yang melayani, mengelapi, dan menyiapkan minuman. Karena itulah, Dahlan mengajak para direktur belajar ke Susi.

Sebelum bersilaturahmi ke rumah Dahlan, siangnya Susi menerima gelar doktor honoris causa (Dr HC) di bidang manajemen dan konservasi sumber daya kelautan dari ITS Surabaya. Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) ITS merupakan penggagas ide itu. Prof Dr Ketut Buda Artana menjadi ketua tim promotor. Kemudian, Prof Semin dan Dr Raja Oloan Saut Gurning menjadi co-promotornya.

Setelah penganugerahan, Susi menyatakan, gelar tersebut sangat penting bagi dirinya. Terutama dalam perannya sebagai seorang profesional dan pejabat publik. ’’Laut kita adalah masa depan bangsa. Gelar ini menjadi kekuatan untuk melanjutkan kebijakan KKP,’’ tuturnya kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, Susi menyatakan harapannya terhadap Indonesia. Yakni, laut adalah kekuatan utama Indonesia. Karena itu, perempuan kelahiran 15 Januari 1965 tersebut mengajak semua elemen masyarakat untuk peduli terhadap kelestarian alam. Khususnya laut.

Susi mengungkapkan, pengelo­laan sumber daya alam harus tetap sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. Keinginan terbesarnya adalah menjadikan Perpres 44/2016 tentang perikanan tangkap ditetapkan sebagai undang-undang. ’’Demi kedau­latan laut Indonesia, semestinya bangsa Indonesia punya semangat yang sama,’’ tegasnya.

Laut Indonesia merupakan yang terluas kedua di dunia dan memiliki potensi besar dalam peningkatan ekonomi. Namun, pencapaian Indonesia dalam hal perikanan dan kelautan masih kurang baik. Hanya mampu menduduki peringkat ketiga di ASEAN. Luas laut tidak sebanding dengan kesejahteraan nelayan.

Menurut Susi, tantangan terbesar dalam menjaga kekayaan laut Indonesia adalah illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing. Saat ini, KKP berfokus pada tiga pilar pembangunan. Yakni, kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. ’’Sudah saatnya semua program kita memastikan keberpihakan pada yang lemah untuk menjaga pertumbuhan Indonesia,’’ imbuhnya.

Penganugerahan gelar Dr HC itu dilakukan bersamaan dengan Dies Natalis Ke-57 ITS kemarin. Prosesi dipimpin Rektor ITS Prof Joni Hermana. ITS memberikan gelar Dr HC kepada Susi setelah mempertimbangkan kiprahnya yang luar biasa. Tidak hanya memperhatikan perikanan dan kelautan dari segi ekonomi, Susi juga peduli terhadap kelestarian lingkungan.’’Karena itu, kami memberikan pengakuan terhadap kiprahnya selama ini,’’ ungkap Joni.

Meski demikian, ITS membutuhkan waktu cukup lama untuk memutuskan pemberian gelar kehormatan tersebut. Ide tersebut tercetus sejak awal 2016, kemudian diajukan ke senat ITS. Hasilnya, senat menyetujui penganugerahan gelar kehormatan doktor HC dari fakultas teknik kelautan.

Sebelum memutuskan, tim ITS melakukan penelusuran terhadap kinerja Susi. Rupanya, menteri nyentrik tersebut telah mengantongi sertifikat Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) level 9 yang setara dengan doktor. Pengakuan kompetensi itu dikeluarkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Hal tersebut semakin memantap­kan langkah ITS dalam mem­berikan gelar Dr HC kepada Susi. ’’Bukan sekadar baik, tetapi juga harus teruji,’’ ucapnya. (ant/eko/gun/nw)