Beranda Bogor Raya Selatan Geliat PKL Jalan Raya Puncak usai Pembongkaran

Geliat PKL Jalan Raya Puncak usai Pembongkaran

BERKAH: Oki Darmawan dan Eliawati, mantan PKL yang membuka kafe di hotel. (Dpni/Radar Bogor)

Oki Darmawan (48) dan ­Eliawati (42), ­adalah ­pedagang kaki lima (PKL) yang ­bernasib ­mujur. ­Tangan dingin ­keduanya yang pandai ­mengolah ­makanan, ­mengantarkan hidup baru ­setelah ­penggusuran. Kini, pasangan suami istri ini ­menjadi ­pengelola kafe di Hotel Accram, ­Cipayung, ­Megamendung.

Laporan:Muhammad Aprian Romadhoni

Perut terasa begitu lapar. Di  tengah kemacetan, tampak parkiran hotel mewah bintang dua yang terlihat ramai. Ada kafe kecil nan ramai dipadati pengunjung. Kapasitasnya tak begitu besar, hanya mampu menampung 20 tamu.

universitas nusa bangsa unb

Menu yang dihidangkan di kafe ini pun beragam. Mulai dari roti bakar, pasta, bakso, hingga aneka minuman. Yang paling banyak dipesan adalah nasi goreng. Dengan varian aneka topping dari daging kambing hingga nasi goreng kampung. ”Alhamdulillah banyak yang bilang enak, dan saya dilirik sama bos-bos hotel untuk buka di sini,” ujar Oki kepada Radar Bogor.

Benar saja, saat mencicipi masakannya di suapan pertama, nasi goreng made in Cipayung ini berbeda dengan nasi goreng lain. Tak banyak minyak dan bumbu rempahnya terasa. ”Banyak yang bilang mirip nasi goreng hotel,” terangnya.

Oki menuturkan, sebelum membuka kafe di Hotel Accram, dia adalah salah satu PKL yang terkena penggusuran Agustus lalu.  Sempat luntang-lantung lebih dari satu bulan, tapi takdir berbicara lain.  Ia terpilih menjadi satu dari sekian ratus PKL yang mendapat binaan PHRI Kabupaten Bogor. Apalagi Oki memiliki pengalaman dalam dunia kuliner. “Saya sebelumnya pernah jadi koki di salah satu restoran,” ungkapnya.

Soal harga, pengunjung tidak perlu khawatir. Sebab, kafe yang baru buka satu minggu ini hanya membanderol seluruh makanannya di bawah Rp20 ribu saja. Dan, buka mulai pukul 08.00-22.00 WIB. Salah satu pembeli, Yusman (42), mengaku sangat puas dengan makanan yang dibelinya.  ”Tampilannya mewah dan rasanya luar biasa enak. Ini rekomendasi banget,” serunya.

Terpisah, Humas PHRI Kabupaten Bogor, Junaedi mengaku, tidak merasa tersaingi setelah memberi ruang usaha bagi PKL. Justru, pembinaan adalah satu moto organisasinya. ”Sebenarnya jika tertata rapi, baik, dan memiliki nilai pariwisata, pedagang bisa memajukan perekonomian di hotel. Ini yang seharusnya dilakukan Pemkab Bogor,” terang pengelola Hotel Accram ini.(*/c)