Beranda Bogor Raya Transyogi Jalur Gunung Lendong tak Layak

Jalur Gunung Lendong tak Layak


BAHAYA: Belum adanya bantuan dari Pemkab Bogor, membuat akses wisata menuju Gunung Lendong masih tanah. (Meldrick/Radar Bogor)

TANJUNGSARI–Tak dapat dimungkiri, Kecamatan Tanjungsari memiliki tempat wisata yang cukup baik. Namun, faktor penunjang berupa infrastruktur jalan masih dianggap minim.

Di antaranya, area agrowisata Gunung Lendong di Desa Tanjungsari, yang cukup diminati banyak wisatawan kendati jalan belum diaspal.

Penelusuran Radar Bogor, terdapat 17 tanjakan  curam, empat titik di antaranya jalur becek karena aliran mata air dari puncak gunung. Sehingga, butuh kendaraan khusus agar mudah melewatinya. Untuk mencapai puncak, para wisatawan harus menempuh jarak lebih dari 10 kilometer dari bawah gunung dan memakan waktu paling cepat satu setengah hingga dua jam.

universitas pakuan unpak

Minimnya infrastruktur  pendukung, membuat para pegunjung harus lebih dulu memastikan kondisi kendaraan. Ditambah lagi, tak ada penjual bahan bakar dan bengkel di sepanjang jalan menuju tempat wisata tersebut.

“Bengkel dan penjual bensin eceran ada di kampung bawah gunung, karena belum ramai. Ke depannya bisa diadakan setelah pembangunan jalan selesai,” kata Camat Tanjungsari, A Kosasih.

Lebih lanjut ia menerangkan, penger­jaan pembangunan jalan sudah dimulai sejak awal 2017 dengan menggunakan dana pribadi kepala desa.

“Untuk bantuan belum ada. Masih pakai (dana) pribadi. Semoga ke depannya bisa dibantu dana dari Kabupaten Bogor,” ujarnya.

Ia menilai, perkebunan kopi seluas 425 hektare ini patut mendapat dukungan dari pemerintah. Lantaran, selain menjadi produk unggulan, juga sudah menjadi penghasilan warga. “Karena tuntutan kecamatan juga akan mendo­rong pembangunan,” ucapnya.

Tak hanya menjadi media penghasilan warga. Tempat dengan sejuta pohon kopi terbaik dan beberapa tempat penginapan membuat gunung ini cukup dilirik oleh wisatawan dari Jakarta.

“Sudah banyak yang singgah di sini. Kebanyakan orang Jakarta di saat libur panjang,” tutur salah satu petani kopi, Mastito (34) pada Radar Bogor.

Namun, kata dia, para pengunjung masih dibatasi kalangan tertentu. Sementara ini, hanya para pencinta tantangan yang rutin menjadikan tempat ini sebagai medan uji adrenalin. “Kadang rombongan pengemudi motor cross. Atau mobil-mobil off-road yang sampai ke puncak gunung dan menginap,” tuturnya.(azi/c)