Beranda Bogor Raya Transyogi Ngopi, Satu Warga Tewas

Ngopi, Satu Warga Tewas

EVAKUASI: Polisi dibantu warga membawa para korban yang tertimpa pohon di Jalan alternatif Cibubur-Cileungsi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis, kemarin.

CILEUNGSI–Berhati-hatilah berada di bawah pohon saat musim penghujan dan angin kencang seperti saat ini. Sebab, dapat berakibat fatal.

Kemarin, Henri Hutabarat (41) warga Gunungputri dan Herman (55) warga Desa Pasirangin, Kecamatan Cileungsi, menjadi korban setelah tertimpa pohon.
Kapolsek Cileungsi, Kompol Jaka Mulyana mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 06.00. Saat itu, kedua korban sedang minum kopi di kios tambal ban yang berada di pinggir Jalan alternatif Cibubur-Cileungsi.

Tiba-tiba, pohon jenis palem tumbang dan menimpa kedua korban. “Henri mengalami luka robek di bagian pelipis mata kanan atas, sedangkan Herman luka di kepala,” ujarnya kepada Radar Bogor.

universitas pakuan unpak

Lebih lanjut ia mengatakan, korban sempat dibawa ke RS Thamrin untuk mendapatkan penanganan medis.

“RS Thamrin menyatakan bahwa korban atas nama Herman telah meninggal dunia saat di tempat kejadian,” jelasnya.

Dirinya mengimbau agar masyarakat berhati-hati dan menghindari pohon-pohon besar yang rawan tumbang saat hujan maupun angin kencang.

Imbauan Kapolsek cukup beralasan. Bahkan, kemarin terjadi fenomena alam munculnya tiga angin puting beliung di perairan Kepulauan Seribu, walaupun tidak bersifat merusak.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, puting beliung yang bersamaan terjadi di perairan Kepulauan Seribu, yaitu di daerah Karang Lebar, Kelurahan Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu pukul 09.00.

Fenomena terjadinya tiga puting beling bersamaan, kata dia, merupakan hal yang langka, terlebih untuk kawasan tropis seperti di Indonesia.

“Ini makin menunjukkan bahwa iklim telah berubah akibat dari rusaknya lingkungan dan terganggunya keseim­bangan sistem bumi,” kata dia.

Lebih lanjut ia mengatakan, fenomena kemunculan puting beliung meningkat saat pergantian musim (pancaroba) seperti saat ini dari kemarau menuju penghujan. Adanya perbedaan temperatur yang kontras antara permukaan daratan, perairan dan atmosfer, menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan udara sehingga terbentuk puting beliung.

Masyarakat, kata dia, diimbau untuk selalu waspada dengan cuaca ekstrem selama musim panca­roba. Hujan deras yang diikuti dengan angin kencang dan puting beliung ber­potensi meni­ngkat keja­diannya.

“Hindari aktivitas di bawah pohon-pohon besar dan papan-papan reklame yang besar karena berpotensi roboh tertiup angin kencang. Waspadai banjir akibat meluapnya drainase dan sungai yang ada,” pungkasnya.(azi/net/c)