Beranda Bogor Raya Mantan Atlet Bogor Terkucilkan, Mantan Atlet Bogor Terkucilkan

Mantan Atlet Bogor Terkucilkan, Mantan Atlet Bogor Terkucilkan

CITEUREUP–Nama Wawan Darmawan mungkin terasa asing di telinga warga Bogor saat ini. Padahal, namanya dulu pernah mengharumkan Kabu­paten Bogor. Ya, mantan atlet sepak bola ini pernah berjaya di era 70-80-an.

Namun siapa sangka, pria berusia 55 tahun ini kini ter-asing­kan. Penyakit kusta mem­bu­atnya terpaksa hidup di penga­singan. Warga Kelurahan Pus­pa­­negara, RT 03/02 ini tinggal sebatang kara bersama penya­kitnya. Karena khawatir tertular, kerabatnya enggan berdekatan. Hanya segelintir yang masih peduli dan mau mengenang jasanya sebagai atlet sepak bola. “Adik perem­puan saya selama ini banyak membantu saya,” ujarnya.

Bahkan, untuk mendapat pengo­batan yang layak, kerabat­nya yang masih peduli harus banting tulang mencari bantuan. “Biaya (pengobatan, red) dari saudara perempuan saya. Belum ada bantuan dari pemerintah,” tukasnya.

universitas nusa bangsa unb

Atlet yang sempat jadi kebang­gaan jutaan warga Bogor itu kini tak berdaya. Bukan hanya karena umurnya yang mulai renta, kondisi penyakit gula dan kusta perlahan meng-gerogoti tubuhnya. Badannya tak lagi dapat mengikuti api semangat yang dimiliki. “Sudah susah gerak,” kata Lego, pang­gilan Wawan Darmawan.

Lego yang terkenal sebagai atlet tampan di eranya, telah meng­harumkan nama Kabu­paten Bogor di berbagai ajang pertandingan. Tidak sedikit prestasi yang dikanto­nginya. Menurut keterangan teman setim sepak bola, Dudung Abdullah (55) dan Sobri Marja­dinata (55), mereka beberapa kali berlaga di lapangan hijau bersama-sama.

Di antaranya saat Porda Cirebon tahun 1977, kemudian men­jadi bintang di klub Persi­kabo, UMS tahun 1980 ikut kompetisi Galatama. Pada 1982 Lego pindah ke Warna Agung hingga 1985. “Selain dikenal atlet tampan, Lego juga punya skill permainan bola yang bagus,” ucap Sobri.

Lego bahkan juga masuk kepengurusan PS’SI. Ia dikenal sebagai pimpinan PSSI yang punya pengaruh. Sebagai Sie Pertandingan di PSSI Kabupaten Bogor 2005–2015, Lego selalu jadi andalan. Tak hanya itu, ia pun pernah menjadi Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Bogor (DPP) pada 1984, jauh sebelum kepemimpinan Joni Tambunan.

Sementara itu, saudara perem­puannya, Imas Masria (49) mengatakan, kakaknya itu mulai mengidap penyakit kusta sejak 2002. Saat itu, satu per satu ujian hidup harus dilalui­nya. Salah satunya, keluarga yang menjauh.

Karena penyakit yang dianggap kutukan itu, para keluarga dekat­nya tak lagi mau hidup berdam­pingan. “Ia harus jauh dari anak-anak dan istrinya. Karena khawatir akan tertular,” ujarnya.

Tanpa ada sumpah serapah, Lego berlapang dada mening­galkan rumahnya dan memilih untuk menetap di pegunungan di area Kecamatan Sukamakmur. “Di gunung, abang saya tinggal di gubuk sebatang kara, karena memilih menjauh dari keluarga,” kata dia.

Lego jalani pengasingan sejak 2005. Saat harta yang dipero­lehnya selama puluhan tahun di dunia olahraga tak tersisa barang sepeser. “Semua harta­nya sudah habis. Uang sepeser ­pun abang saya tidak punya. Dia jalani hidupnya dengan mandiri di gunung,” kata dia.

Imas baru ­tahu kondisi mem­prihatinkan abangnya saat temannya menga­barkan sang kakak ter­jatuh di jurang sekitar pegunungan.(azi/c)