Beranda Bogor Raya Mengenali Fimosis pada Anak

Mengenali Fimosis pada Anak

CEGAH FIMOSIS : Jika belum ada keluhan, dokter biasanya akan memberikan obat.

Jika tiba-tiba buah hati mengeluh sering sakit saat buang air kecil, Anda sebagai orang tua perlu waspada. Bisa jadi, hal itu merupakan gejala fimosis. Apa itu fimosis, bahayakah bagi anak lelaki, bunda ?

Dokter spesialis bedah Nadifa Agil dari Rumah Sakit Hermina Bogor menjelaskan, fimosis adalah ketidakmampuan menarik preputium atau kulup atau kulit khitan ke belakang glans penis.

Sekitar 96 persen dari bayi laki-laki saat lahir memiliki kulup yang menonretraktil atau tidak dapat ditarik. Hal itu disebabkan terjadinya adhesi yang alamiah antara kulup atau preputium dengan glans. Kondisi tersebut merupakan bagian dari fimosis fisiologis.

universitas nusa bangsa unb

“Hampir 96 persen bayi yang lahir dalam keadaan fimosis, tetapi selama tidak ada keluhan itu tidak apa-apa,” jelas dr Nadifa Agil SpBA. Ia mengakui, memang bayi lahir memiliki kulit sempit dan nanti seiring waktu biasanya bertahap, dari lahir sampai usia 18 tahun, akan bisa tertarik dengan sendirinya.

Dokter Nadifa Agil menuturkan, fimosis memiliki dua jenis yaitu fimosis fisiologi dan fimosis patologis. Untuk fimosis fisiologi adalah keadaan kulit khitan yang tidak bisa ditarik ke belakang glans penis tanpa disertai adanya keluhan lain, hal ini masih tahap normal. Sedangkan fimosis patologis adalah keadaan kulit khitan yang tidak dapat ditarik ke belakang glans penis, disertai keluhan lain seperti infeksi berulang pada penis dan atau preputium, nyeri saat buang air kecil, ketika buang air kecil kulit akan terlihat menggelembung, ketika buang air kecil disertai darah, dan gejala memiliki riwayat infeksi saluran kencing berulang.

Cara melihat kelainan pada penis anak yang mengalami fimosis patologis, lanjut dr Nadifa, adalah ketika buang air kecil keadaan penis menggelembung, karena kulit yang sempit ketika buang air kecil tidak langsung keluar namun ditampung di antara kulit dan batang penis. Kemudian disertai ujung penis terlihat berwarna kemerahan, gatal, selalu mengedan saat akan buang air kecil.

”Ketika orang tua tidak peka dan tidak mengetahui bahwa anak menderita fimosis patologis, maka kemungkinan besar anak dapat mengalami keluhan saluran kencing berulang,” terangnya.

Apalagi, kata dia, semua usia bisa menderita fimosis tergantung kepada higienitasnya. “Fimosis patologis berbahaya untuk anak, dan jika sering mengalami infeksi saluran kencing berulang, dapat berpengaruh pada perkembangannya,” tuturnya.

Ada kemungkinan jika anak mengalami fimosis fisiologis akan menjadi fimosis patologis, tergantung pada beberapa hal di mana salah satunya adalah kebersihan pada penis, maka peran ibu sangat besar untuk mencegah anak menderita fimosis patologis.(cr6/c)