Beranda Bogor Raya Sungai Cileungsi Tercemar, DLH Surati Kabupaten Bogor

Sungai Cileungsi Tercemar, DLH Surati Kabupaten Bogor

PENCEMARAN: Kali Bekasi yang tercemar limbah perusahaan terus mendapat sorotan dari masyarakat.

CIBUBUR–Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi menyayangkan aliran sungai yang mengalir ke Curug Parigi, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantarge­bang, Kota Bekasi, kerap dicemari limbah pabrik. Padahal, lokasi ini punya potensi wisata yang dapat dikembangkan Pemkot Bekasi.

Sekretaris DLH Kota Bekasi, Kustantina mengatakan, sudah banyak masyarakat yang mengeluh karena adanya limbah pabrik di aliran curug itu. Pihaknya bahkan kerap menguji kandungan air di laboratorium dan hasilnya tercemar limbah pabrik.

“Air akan terus tercemar selama pabrik di bantaran Sungai Cileungsi atau di bagian hulu terus membuang limbahnya yang tidak sesuai baku mutu ke sungai,” ujarnya kepada wartawan, kemarin (3/9).

universitas pakuan unpak

Kustantina mengatakan, telah melakukan berbagai upaya menjaga kebersihan aliran air di sana. Salah satunya menjalin nota kesepahaman (MoU) tentang penanganan limbah dengan DLH Kabupaten Bogor. Namun, berdasarkan inspeksi mendadak (sidak) petugas beberapa waktu lalu, pencemaran justru bersumber dari aliran Sungai Cileungsi. “Kami sudah sering berkirim surat ke Kabupaten Bogor sebagai bentuk pering­atan terhadap kebersihan Kali Bekasi,” ujarnya.

Sementara, Pemerintah Kota Bekasi mengucurkan dana hingga Rp8 miliar untuk menata Curug Parigi di Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantarge­bang, sebagai wisata alam pada 2018.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi, Ahmad Zarkasih, dana sebesar itu akan digunakan untuk menata beberapa fasilitas umum. Seperti lahan parkir pengunjung, musala, dua menara pandang, jembatan, dan fasilitas lainnya untuk mendukung wisata di sana.

“Penataan Curug Parigi dilakukan sesuai feasibility study (FS) atau studi kelayakan dan detail engineering design (DED) atau proyek perencanaan fisik yang ada,” ujar Zarkasih kepada wartawan.

Menurutnya, kajian FS dan DED sudah mereka lakukan sejak awal 2017. Hasil kajian itu menyatakan jika air terjun mini ini layak dijadikan wisata alam, apalagi Kota Bekasi belum memiliki wisata serupa.(dka/c)