Beranda Bogor Raya Barat Utara Kampung Urug Pertahankan Tradisi

Kampung Urug Pertahankan Tradisi

TRADISI: Warga Kampung Urug, Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, selalu menjaga tradisi nenek moyang mereka. Arifal/Radar Bogor

SUKAJAYA–Kebesaran Prabu Siliwangi tak pupus oleh waktu. Bahkan, saat ini banyak kelompok masyarakat yang selalu mengaitkannya dan mengklaim sebagai turunan Prabu Siliwangi.

Nama Prabu Siliwangi seakan masih abadi sekalipun keberadaan kerajaannya bak hilang ditelan bumi. Salah satu yang ditinggalkan Maha Raja Parabu Siliwangi sebelum menghilang, yakni Prasasti Batutulis.

Berbagai kelompok masyarakat bahkan mengaku turunan langsung dari Prabu Siliwangi. Salah satunya masyarakat Kampung Urug. Kampung ini berada di Desa Urug, Kecamatan Sukajaya.

universitas pakuan unpak

Menurut Kokolot Kampung Adat Urug, Abah Ukat Raja Aya atau sering dipanggil dengan Abah Ukat, sejarah Kampung Urug erat kaitannya dengan Baginda Ratu Eyang Prabu Silwangi. “Saat berada di Kadu Jangkung, Eyang Prabu berkata bahwa suatu saat kampung itu akan menjadi daerah pertanian,” tuturnya kepada Radar Bogor, kemarin (8/8).

Cerita atau sejarah yang dipahami Abah berasal dari kokolot yang selalu diceritakan setiap tahun saat Perayaan Seren Pataunan. Sementara penduduk Kampung Urug menyambung hidup dengan berprofesi sebagai petani padi. Baik pria maupun wanita.

Mereka masih menjaga tradisi para karuhun dan menunggu izin pemangku adat untuk melakukan kegiatan menanam padi, memanen padi, menumbuk padi, menyimpan padi ke leuit hingga pertama memasak beras.

“Ini menjadi tradisi yang masyarakat pegang.Jadi untuk seluruh kegiatan bertani, dari menanam padi sampai menjadi nasi, itu sesuai dengan apa yang dikatakan pemangku adat,” tuturnya.

Sementara itu, asal-usul nama Kampung Urug berawal dari kata guru yang dibaca secara terbalik. Seperti diucapkan Ketua Adat Kampung Adat Urug, Abah Ukat Raja Aya. Dia mengatakan, asal mula Kampung Urug pada saat terjadi pemindahan pemerintahan dari Kawali, Ciamis ke Pakuan (Bogor).

Penyatuan Kerajaan Sunda Galuh dan Pakuan menjadikan Prabu Dewata bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji Pakuan Pajajaran atau lebih dikenal Prabu Siliwangi. Dia minta salah satu putranya menjadi yang dituakan di kampung tersebut dan diberi nama Kampung Guru.

“Dahulu namanya Kampung Guru, dan ketika salah saeorang ulama besar di Makkah yang kerap menyambangi kampung tersebut memberi nama Kampung Urug dari kata guru dengan dibaca terbalik,” tuturnya.(all/c)