Beranda Bogor Raya Garam Makin Tak Terkendali

Garam Makin Tak Terkendali

Ilustrasi garam naik harga

CIBINONG–Kelangkaan dan melonjaknya harga garam di pasaran semakin terasa. Terutama, bagi pengusaha kuli­­ner hingga ibu rumah tangga. Ma­salah tersebut pun menjadi per­hatian berbagai pihak.

Direktur Utama PD Pasar Tohaga Kabupaten Bogor, Eko Romli menga­takan, kenaikan harga garam mulai terasa sejak dua pekan terakhir.

“Hanya memang ketika barang ada, harganya langsung berganti. Yang sebelumnya seharga Rp500 saat ini menjadi Rp1.500,” ujarnya kepada Radar Bogor, kemarin (31/7).

Kenaikan tersebut, kata dia, merata di semua pasar. Ia pun mengaku tidak bisa melakukan upaya penurunan harga. Artinya, PD Pasar hanya sebagai penyedia tempat perniagaan. Sedangkan, barang dikelola penjual.

Ia pun cukup kaget, sebab garam yang dianggap bukan barang pokok tetapi dapat berdampak cukup besar kepada masyarakat. “Wewenang sih ada, tetapi kita tidak memiliki kekuatan karena tidak memiliki komunikasi atau hubungan dengan produsen garam,” terangnya.

Menurutnya, kenaikan garam harus bisa dinikmati para petaninya. Jangan sampai, menjadi alasan garam naik kemudian dibuka keran impor, sebab akan menjadi masalah ke depannya.

Ia menambahkan, jika impor dilakukan maka akan sulit untuk menutupnya. “Kami berharap memang negara harus hadir untuk komoditas yang terlupakan ini. Komoditas yang tidak terpikirkan bahwa akan seperti ini,” tukasnya. Ia ber­harap, pemerintah memiliki jalan keluar dengan daerah-daerah penghasil garam.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor, Dace Supriyadi berjanji, pekan ini segera turun ke pasar untuk meninjau langsung. “Saat ini, sedang dirancang,” akunya.

Sementara itu, salah seorang pedagang garam di Pasar Cibinong, Deni Irmawan (25) mengeluhkan kelangkaan dan kenaikan harga pasar. Menurutnya, bukan hanya konsumen yang menge­luhkan, tapi juga pedagang.

Ia memaparkan, saat ini garam bata kecil yang satu pak berisi 12 sebelumnya Rp 3.500 menjadi Rp7.000. Sedangkan garam bata yang ukurannya lebih besar se­belumnya Rp6.000 menjadi Rp12.000.

Kemudian, untuk garam kemasan plastik yang sebelumnya Rp500 sudah tidak lagi diproduksi. Saat ini, kemasan­nya menjadi lebih besar sehingga harganya saat ini mencapai Rp2.000 per ons.

Lebih lanjut ia mengatakan, yang lebih besar dengan ukuran dua ons Rp4.000. Deni mencontohkan, garam merk Lonceng sebelumnya Rp1.000 saat ini sudah Rp3.000. “Untuk garam yang kasar Rp10 ribu per kilo yang sebelumnya Rp4.000. Kalau yang bermerek lebih mahal lagi,” terangnya.

Ia mengakui, selama menjadi peda­gang, baru kali ini merasakan harga garam naik signifikan. “Biasa­nya garam hanya mengalami kenaikan sekitar Rp5.00, sedangkan saat ini yang murah Rp2.000 yang sebelumnya seharga Rp5.00,” pungkas dia.(rp2)