Beranda Berita Utama Masih Percaya kaum Hawa

Masih Percaya kaum Hawa

Kejutan demi kejutan terus tersaji di polling Radar Bogor. Seperti pekan ini, 100 tokoh Bogor telah menyampaikan aspirasi mereka soal nama-nama yang diinginkan untuk memimpin Bumi Tegar Beriman. Siapa saja bakal calon Bupati Bogor pilihan para tokoh?

Ade Munawaroh Yasin, Ade Ruhandi, Adang Suptandar, Ade Wardhana, Bayu Syahjohan, Dace Supriyadi, Didin Supriyadin, Erik Suganda, Gunawan Hasan, Iwan Setiawan, dan Nurhayanti, adalah nama yang kami susun secara alfabetis dalam polling tersebut.

Sebelum memaparkan hasil polling, redaksi sedikit men­jelaskan perihal 100 tokoh yang menjadi responden. Mereka adalah tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pengusaha, pimpinan komunitas di Bogor, serta para rektor perguruan tinggi. Tim mengajukan pertanyaan kepada para responden, terkait pengetahuan mereka seputar Pilkada Kabupaten Bogor.

universitas ibn khaldun bogor uika

Pertama, pengetahuan responden soal nama-nama bakal calon yang sudah menyatakan niatnya untuk maju dalam Pilbup 2018 mendatang. Nama yang diajukan juga telah disebut-sebut di berbagai media dan dalam perbincangan di forum-forum informal.

Tim juga menanyakan alasan responden memilih nama bakal calon. Serta, persoalan apa yang seharusnya menjadi prioritas pemimpin baru nantinya. Nah, bagaimana suara 100 tokoh Bogor?

Pertanyaan pertama yang tim ajukan adalah pengetahuan para responden terkait pemilihan kepala daerah Pilbup Bogor 2018. Hasilnya, sebanyak 97 persen mengetahui, dan sisanya tiga persen mengaku tidak tahu.

“Seluruhnya, responden atau 100 tokoh, juga menegaskan bahwa pilkada itu sangat penting. Ini menunjukkan keseriusan para responden menjawab polling kami,” ujar penanggung jawab eksekutif polling Radar Bogor Lucky Hakim.

Kemudian, pertanyaan berlanjut pada nama-nama yang dinilai layak menjadi Bupati Bogor periode 2018-2023. Sebanyak 35 responden masih mengingin­kan sentuhan bupati petahana Nurhayanti. Kemudian sebanyak 14 responden memercayakan kursi bupati kepada Ade Munawaroh Yasin, dan 10 persen atau sepuluh responden menginginkan tangan dingin Ade Ruhandi untuk mengubah wajah Bumi Tegar Beriman.

“Ada pula enam persen responden memilih Iwan Setiawan, empat persen Dace Supriyadi, tiga persen Erik Suganda, serta dua persen Adang Suptandar dan Gunawan Hasan,” kata Lucky.

Pertanyaan selanjutnya, jika Nurhayanti tidak mencalonkan diri pada pilkada mendatang, siapa yang paling layak menjadi Bupati Bogor menurut para tokoh? Sebanyak 23 persen memilih Ade Munawaroh Yasin, 15 persen Ade Ruhandi, tujuh persen Adang Suptandar, 6 persen Dace Supriyadi, dan 6 persen memilih Iwan Setiawan.

Apa alasan para responden memilih nama-nama di atas? Sebanyak 21 persen menyebut alasan jujur, tegas, dan tidak korupsi, kolusi, ataupun nepotisme. Sementara 14 lainnya menyatakan para calon tersebut dianggap mumpuni untuk menjadi bupati. Sedangkan 11 persen responden menyebut alasan karena nama-nama itu diterima di segala kalangan di Kabupaten Bogor, dan 7 persen memiliki pengalaman dan kemampuan sebagai pemimpin. “Ada sebanyak enam persen yang memilih nama bakal calon karena mereka putra daerah,” ungkap Lucky.

Para tokoh yang menjadi responden juga menyoroti program apa yang selayaknya menjadi prioritas bagi Bupati dan Wakil Bupati Bogor periode 2018-2023? Sebanyak 47 persen menegaskan tentang pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran, 18 persen soal pembangunan dan perbaikan infrastruktur, serta 7 persen menyoroti kemacetan lalu lintas yang tak kunjung tertangani.

“Kami juga tanyakan, lebih penting mana, mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran atau membangun sarana dan prasarana jalan? Hasilnya, 52 persen mengurangi angka kemiskinan dan 26 persen mem­bangun sarana dan prasarana jalan raya,” tandasnya.

Hasil polling Radar Bogor juga memperlihatkan fenomena kepercayaan terhadap kaum hawa sebagai pemimpin. Seperti sang petahana Nurhayanti yang masih menjadi pilihan terbanyak tokoh Bogor. Pengamat politik Yusfitriadi menganggap gender bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Karena tak sedikit wanita yang berhasil memimpin dan mendapat predikat ‘inspiring woman’. “Risma, contohnya, dia mampu membawa Kota Surabaya lebih maju dan banyak mendapatkan prestasi internasional. Sebaliknya, banyak sekali kepemimpinan pria, yang bukan hanya tidak maju, tapi tidak sedikit berakhir di jeruji besi dengan menyalahgunakan kewenangannya untuk kepentingan pribadi dan kekuatan politiknya,” kata ketua STKIP Muhammadiyah Bogor ini kemarin (30/7).

Meski begitu, Yus -sapaan Yusfitriadi- mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan polling menyatakan pilihan kepada Nurhayanti. Secara administratif, Nurhayati memang dinilai berhasil. Terbukti dengan diraihnya predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) hasil penilaian laporan keuangan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Tapi, yang patut disayangkan adalah, apa yang diraih dalam bidang administratif tidak ditindaklanjuti dengan kroscek ke lapangan. Dalam kacamata saya sebagai masyarakat, cukup senjang antara hasil progres administratif dengan fakta di lapangan. Misalnya, rata-rata sekolah yang belum mencapai target standar, tata kelola transportasi yang jauh dari memadai, tata kelola pasar tradisional yang semrawut,” paparnya.

Sementara terkait pilihan kedua yang jatuh pada Ade Munawaroh Yasin, dianggapnya sebagai sesuatu yang logis. Ade Munawaroh dinilai sangat kuat membawa stigma positif bupati sebelumnya, Rahmat Yasin. “Karena di sebagian besar masyarakat Kabupaten Bogor, sosok Rahmat Yasin masih sangat didambakan. Hal itu dibuktikan dengan masih kuaknya basis-basis massa yang kini seakan tidak bergeser,” ujarnya.

Strategi Ade Munawaroh yang kerap kali melekatkan nama besar Rahmat Yasin dalam setiap kegiatan blusukan terbilang efektif. Tapi, di kalangan elite, sangat mungkin Ade Munawaroh pada akhirnya bukan menjadi pilihan utama.

Yus mengatakan bahwa sangat memungkinkan bila pilihan yang ada secara drastis berubah ketika ada calon yang lebih kuat muncul pada injury time menjelang pilbup.

“Sangat mungkin akan muncul sosok-sosok lain dari kalangan pengusaha, misalnya, maju di pilkada, sehingga mengubah konstelasi politik yang saat ini terjadi,” tandasnya.(ric/rp1/c)