Beranda Berita Utama Para Petambak di Pangkep yang Mendadak Kaya karena Kelangkaan Garam

Para Petambak di Pangkep yang Mendadak Kaya karena Kelangkaan Garam

SAKINAH/FAJAR/JPG
AJI MUMPUNG: Meroketnya harga garam di tengah panen yang melimpah dianggap sebagai mukjizat. Muhtar (kiri) adalah salah satu petambak yang merasakan manisnya harga garam.

Dulu para petambak di Pangkep bisa menyimpan garam di gudang sampai tujuh tahun, menunggu harga bagus. Kini mereka sampai kekurangan stok saking banyaknya pembeli. Berhaji cara mereka mensyukuri
”mukjizat” itu.

BAGI Jala, hanya ada satu cara untuk mengungkapkan syukur atas drastisnya kenaikan harga garam belakangan. Pergi ke bank dan mendaftarkan empat anaknya naik haji.

”Baru ada lebihnya saya simpan. Karena tiap hari juga saya pakai untuk membayar upah pekerja yang mengangkat garam dari gudang ke kontainer,” ujar Jala yang sudah pernah menunaikan haji itu kepada Fajar (Grup Radar Bogor).

radarbogor universitas terbuka

Jala dan para petambak lain di sentra garam di kawasan Bori Masunggu, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, memang benar-benar tak menduga harga garam bakal ”segila” seperti sekarang ini. Dari dahulu hanya bisa mengantongi keuntungan Rp20 juta sampai Rp30 juta dalam satu musim garap, tapi kini bisa mengantongi sampai Rp300 juta dalam sebulan. Itu untuk penjualan 3 ribu sak (karung) garam.

Jadilah muncul banyak orang kaya mendadak di kawasan yang masuk Kecamatan Labakkang itu. Dan, semuanya pun mengungkapkan rasa syukur mereka dengan cara serupa seperti Jala: mendaftar haji.

”Doa dikabulkan. Makanya, kita pakai untuk daftar haji. Daripada membeli mobil, lebih baik digunakan untuk ibadah supaya lebih berkah lagi keuntungan garam,” jelas Wale, petambak lain dari kelurahan yang sama.

Hari-hari ini kelangkaan garam di tanah air memang merata di penjuru tanah air. Buntutnya, harganya di pasaran pun melonjak berlipat-lipat.

Karena itu, dalam waktu dekat, pemerintah segera mendatangkan 75 ribu ton garam bahan baku untuk mengatasi kelangkaan garam di tanah air. Jika sesuai rencana, garam impor tersebut akan tiba di tanah air pada 10 Agustus.

 

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengungkapkan, kebutuhan garam konsumsi di dalam negeri saat ini sangat mendesak. Setelah melalui berbagai pertimbangan, keputusan impor diambil. ”Pemerintah menugaskan PT Garam untuk melakukan importasi,” katanya kepada media di Jakarta kemarin (28/7).

Bertambak garam sangat bergantung cuca panas. Karena itu, musim garap hanya berlangsung pada musim kemarau. Di Bori Masunggu, di luar kemarau, para petambak biasanya bekerja sebagai petambak ikan.

Jika kemaraunya benar-benar kering, setengah bulan sekali garam bisa dipanen. Bahkan kadang cukup sepekan. Jadi, kalau kemarau berlangsung normal selama enam bulan, petambak bisa panen belasan sampai puluhan kali dalam sekali musim garap.

Untuk sekali panen di lahan tambak seluas 1 hektare, petambak bisa memanen 100 sak garam. Rata-rata luas lahan para petambak di Bori Masunggu memang 1 hektare.

Biasanya petambak tak langsung menjual hasil panen. Melainkan menyimpannya dulu di gudang yang bisa sampai tujuh tahun. Demi menunggu harga jual yang bagus.

Nah, harga jual yang bagus itulah yang selama ini sangat sulit didapat. Menurut Muhtar, petambak di Bori Masunggu lainnya, sebelum melonjak belakangan, dulu per sak garam rata-rata hanya bisa dijual Rp20 ribu.

”Mencari pembeli susah sekali dulu. Kami sudah sangat bersyukur kalau ada yang beli garam satu karung itu Rp40 ribu,” katanya.

Jala juga tampak berkaca-kaca ketika menceritakan betapa berdarah-darahnya selama puluhan tahun menjadi petambak garam. Sebab, membudidayakan garam tidak semudah yang dilihat. Jika tiba-tiba hujan, dipast­ikan hasilnya berkurang ataupun tidak ada sama sekali.

Misalnya, terlihat pada Kamis (27/7) di gudang Jala yang berukuran 5 x 5 meter. Pengemasan saja harus begitu hati-hati. Jangan sampai terkena tanah atau kotoran lain.

Muhtar menambahkan, dirinya kerap harus bekerja sebulan menggarap lahan garam. Tetapi, tidak membuahkan hasil apa-apa. Kadang juga dia terpaksa meminjam uang untuk meme­nuhi kebutuhan keluarga. ”Pernah juga ada yang mau beli garam. Karena belum ada, dia bayar di depan karena sudah kasihan sama petambak garam,” ujarnya.

Namun, semuanya berubah sekarang. Muhtar bahkan menyebutnya sebagai ”mukjizat”. Satu sak garam berbobot 50 kg yang dulu susah payah dijual Rp 40 ribu sekarang bisa berharga Rp150 ribu–Rp175 ribu. Itu pun stok sangat terbatas.

Wale mengaku sampai kewalahan melayani permintaan. Di gudangnya, pembeli mengalir deras tiap hari. Padahal, cuaca belakangan juga tidak mendukung untuk produksi. Di Juli yang semestinya masuk kemarau ini, hujan bisa tiba-tiba mengguyur.

”Di sekitar sini puluhan gudang garam yang dibuat petambak. Tetapi, hanya tersisa satu atau dua yang terisi,” jelasnya.

Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut. Brahmantya Satyamurti Poerwadi, produksi garam nasional saat ini memang lesu. Faktor utamanya memang cuaca yang tidak bisa diprediksi.

Stok dari musim kemarau awal tahun lalu juga belum banyak membantu. Namun, dia berharap, setelah Agustus 2017, produksi garam di tingkat petani akan berangsur-angsur pulih.

Pria yang akrab disapa Tio tersebut mengungkapkan, dua indikator menjadi acuan perhitungan kebutuhan garam nasional. Yakni, industri pergaraman rakyat plus ketersediaan di PT Garam.

Normalnya, dua sektor produsen garam tersebut mampu menghasilkan 2 sampai 2,5 juta ton garam setiap tahun atau 166 ribu ton setiap bulan. Pada Mei hingga Juli 2017, stok nasional drop ke angka 63 ribu ton.”Ini kan sudah jauh sekali selisihnya, kita mesti segera ambil tindakan,” kata Tio. (*/c10/ttg)

 

Kalau kemudian para petambak di Singkep masih bisa memanen garam dan meraup keuntungan yang berlipat-lipat, menurut Muhtar, itu juga tak lepas dari ikut turun tangannya pemerintah kabupaten. Petambak mendapat bantuan terpal. (*/c10/ttg)