Beranda Berita Utama Rico Andrean Maulana, Korban Rivalitas Supporter Meninggal Dunia

Rico Andrean Maulana, Korban Rivalitas Supporter Meninggal Dunia

 

BERPULANG: Foto Rico saat masa-masa kritis, di ruang Lukas Nomor 7 Rumah Sakit Santo Yusuf Bandung.

Ratusan penggila klub sepak bola Persib Bandung tak kuasa menahan air mata, saat memadati rumah duka Rico Andrean Maulana (22), di Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung.
Rico adalah korban pengeroyokan salah sasaran, oknum pendukung Persib, pada laga Persib kontra Persija, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Sabtu (22/7).

Tepat pukul 05.00 subuh kemarin, Rico mengembuskan napas terakhirnya usai lima hari dirawat intensif di ranjang ruang Lukas Nomor 7 Rumah Sakit Santo Yusuf Bandung. Ironis memang, karena luka parah tersebut merupakan “hadiah” dari oknum Bobotoh, alias ”teman korban’’ sendiri. Para oknum berlaku barbar karena mengira Rico adalah salah satu anggota The Jakmania, suporter Persija Jakarta. Padahal, korban sempat menunjukkan identitasnya.

Nasib yang dialami oleh Rico mengundang simpati dari berbagai lapisan masyarakat. Sejumlah pemain Persib seperti Kim Jeffrey Kurniawan, Raphael Maitimo, Atep, Billy Paji Keraf datang menjenguk bersama Manajer, Umuh Muchtar. Tak hanya itu,Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil pun meluangkan waktu menjenguk korban di sela kesibukannya.

universitas pakuan unpak

Memang, menjenguk atau menunjukkan simpati tersebut harus diapresiasi. Hanya saja, respons itu seperti deja vu, dari aksi serupa yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Karena, sampai saat ini belum ada langkah konkret dari pihak terkait untuk menghentikan tindakan brutal dari para oknum bobotoh yang mengatasnamakan gengsi serta rivalitas antar kedua kelompok suporter yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade.

Dari kacamata psikologi, perselisihan terjadi antara Bobotoh dan The Jak masuk dalam kategori kebencian membuta. Yakni suatu rasa benci tanpa alasan yang jelas, bahkan tanpa argumen yang kuat dan logika berpikir yang normal.

“Kebencian yang demikian bisa membutakan, artinya, orang itu tidak mempunyai pilihan lain, pokoknya benci, titik. Bahkan yang lebih parah lagi, mengajak orang lain untuk membenci,” ujar Psikolog, Efnie Indrianie.

Perempuan yang juga dosen Universitas Parahyangan itu melihat perselisihan antara kedua kelompok suporter tersebut adalah adanya enkulturasi (penanaman nilai) kebencian dan permusuhan yang diturunkan secara turun-temurun kepada anggotanya yang lebih muda.

Usia remaja merupakan usia konformitas di mana nilai yang mereka anut seragam sesuai dengan kelompok usianya. Nilai yang tertanam itu akan diaplikasikan, karena di usia remaja, mereka cenderung membutuhkan pengakuan dari orang sekitar di tengah proses pembentukan jati dirinya.

“Usia remaja usia itu cenderung konformitas, yang mana mereka akan menjadikan nilai yang mereka anut harus seragam. Jika nilai yang ditanamkan itu kebencian, maka konflik ini akan terus berlanjut entah sampai kapan,” ucapnya.

Yana Umar, ketua Viking menjelaskan, upaya mendamaikan kedua belah pihak sudah pernah dilakukan, namun tetap tidak membuahkan hasil yang signifikan. Teman dekat dari Ayi Beutik ini mengaku, tidak mudah untuk mengatur para anggotanya yang berjumlah ribuan orang. Apalagi sebarannya tidak hanya di seluruh Indonesia, tetapi hingga luar negeri.

“Ya, saya sangat sedih dengan korban yang berjatuhan, saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang. Tentunya upaya damai terus dilakukan, tapi pasti ada saja oknum-oknum di dua belah pihak yang melakukan hal tidak patut,” katanya saat dihubungi, Kamis (27/7).

Sementara itu, Ketua Umum The Jakmania, Ferry Indra Syarif, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Rico Andrean Maulana, suporter Persib Bandung yang menjadi korban pengeroyokan Bobotoh.

“Sepak bola bukanlah ritual yang harus memakan tumbal! Semoga sakitmu kemarin menjadi penggugur dosa. Amal ibadahmu diterima dan mendapat terbaik di sisi Allah SWT,” tulis Ferry di akun Instagram Infokom­jakmania.

Rico menjadi korban pengeroyo­kan seusai laga Persib dan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu (22/7).
Dia mengembuskan napas terakhir pada Kamis (27/7), setelah dirawat secara intensif di Rumah Sakit Santo Yusuf, Kota Bandung.
Insiden ini menjadi perhatian skuad Persib dan manajemen. Beberapa pemain seperti Atep, Kim Kurniawan dan manajer Umuh Muchtar sempat menjenguk Ricko di rumah sakit.

Sempat dikabarkan kondisinya membaik. Tetapi kabar duka yang justru diterima pada Kamis pagi karena dia sudah mengembuskan nafas terakhir.

Ferry Indra mengaku sempat menjenguk Ricko saat dirawat di Rumah Sakit Santo Yusuf, Kota Bandung pada Rabu (26/7) pagi.(ric/bbb/net)

 

“Saya kemarin datang ke Bandung. Berangkat jam 3 pagi sampai sana jam 7 pagi. Saya tidak sendiri ke sana. Ada beberapa teman The Jakmania yang menemani saya. Di sana sudah ditunggu sama Heru Joko,” kata Ferry.

Ferry mengatakan The Jakmania bernisiatif menjengkuk Ricko setelah mengetahui korban kritis.

“Di sana tidak banyak yang kami sampaikan. Hanya berharap semoga almarhum segera sembuh. Tapi nyatanya pagi tadi bung mendengar dia udah meninggal,” ucap Ferry.

Saat menjengkuk, Ferru sempat berbicara dengan kakak Ricko.

“Bung tidak banyak berbicara dengan kakaknya. Cuma menyampaikan permintaan maaf akibat rivalitas ini membuat almarhum menjadi salah korban. Intinya kami ingin perdamaian antara The Jak dan suporter Persib segera terlaksana. Kami tidak mau adanya seperti ini lagi,” tegasnya.(ric/bbb/net)