Beranda Metropolis KOTA HUJAN KRISIS AIR

KOTA HUJAN KRISIS AIR

ANTRE: Warga RT 01/12 Kelurahan Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah, harus mengantre untuk mendapatkan air bersih, kemarin (18/7). KELIK RADAR BOGOR

SEJAK sore, puluhan warga mulai mengantre untuk mendapatkan air. Ketidakjelasan kapan air PDAM akan mengalir kembali juga tak pasti. “Sudah empat hari gangguan. Kalaupun ada airnya juga kecil, tidak bisa digunakan,” keluh Ketua RT 01/12 Kelurahan Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah, Jatnika.

Gangguan yang menimpa warganya, kata dia, sangat berefek kepada aktivitas sehari- hari. Beberapa warganya terpaksa harus menunda keberangkatan waktu kerja, lantaran harus meminta air kepada tetangganya yang memiliki sumur.

Bahkan, karena saluran airnya tak kunjung membaik, beberapa warga rela mengantre dengan membawa ember untuk mengambil air sumur. “Mau tidak mau jadi minta ke yang punya sumur. Lumayan ngantre karena banyak juga yang butuh air,” terangnya.

universitas ibn khaldun uika bogor

Meskipun pihak PDAM mengklaim telah menyediakan mobil tangki keliling sebagai pelayanan air darurat, tapi menurutnya, mobil tersebut sama sekali tak menampakkan wujudnya di tempat Jatnika. Dia hanya bisa berharap agar pelayanan PDAM Tirta Pakuan bisa kembali berjalan normal.

Kekecewaan serupa dilon- tarkan oleh warga Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Gus Uwik. Ia mengatakan, aliran air PDAM ke rumahnya sempat beberapa kali terhenti. “Kemarin (17/7) malam dari jam 18.00–23.00. Tadi (18/7) mati lagi dari jam 10.00 sampai sekarang (16.00),” jelasnya kepada Radar Bogor.

Ia dan sekeluarga merasa terganggu atas matinya saluran PDAM Tirta Pakuan.

“Keluarga kami sangat terganggu. Karena air sudah menjadi kebutuhan vital. Jadinya, ketika istri mau masak buat malam gak bisa. Apalagi untuk buka puasa. Jadinya keluar rumah. Itu pun belum mandi. Untuk sekarang, sampai sore kita belum apa-apa. Mau masak belum bisa,” keluhnya.

Ia menyarankan, jika PDAM Tirta Pakuan melakukan pengerjaan perbaikan, sepatutnya dilakukan malam hari. Sebab, jika dilakukan pada waktu-waktu selain itu berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.(rp1)