Beranda Berita Utama Bahas Sawit dan Terorisme

Bahas Sawit dan Terorisme

 

PERTEMUAN BILATERAL: Para pemimpin di dunia termasuk Presiden Joko Widodo menghadiri KTT G-20 di gedung Messe Und Congress, Hamburg, Jerman, kemarin (8/7).

 

HAMBURG–Sejumlah pertemuan bilateral dilakukan Presiden Joko Widodo di sela KTT G-20 di gedung Messe Und Congress, Hamburg, Jerman, kemarin (8/7). Beberapa di antaranya dengan PM Belanda Mark Rutte dan Presiden AS Donald Trump. Sejumlah tema dibahas dalam pertemuan tersebut, termasuk soal sentimen negatif terhadap produk sawit Indonesia.

Persoalan sawit itu menjadi bahasan yang serius saat Presiden bertemu dengan PM Rutte. Saat ini, tutur Jokowi, perdagangan antara Indonesia dan Belanda mengalami tren penurunan bebeapa tahun belakangan. Dia berharap, tren tersebut bisa segera berbalik menjadi positif. Terutama, bila negosiasi Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) telah selesai.

Secara khusus, Jokowi meminta perhatian Rutte soal ekspor kelapa sawit Indonesia. Kelapa sawit Indonesia masih saja mengalami kampanye negatif di Eropa. Terlebih, barubaru ini Uni Eropa baru saja mengeluarkan resolusi tentang sawit dan deforestasi. ’’Penjelasan Indonesia sebelum resolusi sama sekali tidak diperhatikan,’’ terangnya.

penerimaan mahasiswa baru universitas nusa bangsa bogor

Meskipun resolusi itu tidak bersifat mengikat, Indonesia tetap saja khawatir. Kampanye hitam dan diskriminasi itu berpotensi merugikan ekspor sawit Indonesia. ’’Saya meminta, kiranya Belanda dapat memperlakukan secara fair ekspor sawit Indonesia ke Eropa,’’ lanjut Presiden yang baru saja menapaki usia 56 tahun itu.

Sementara itu, sawit juga menjadi bahasan ketika Presiden Jokowi bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Selama ini, Indonesia aktif mengekspor sawit untuk kebutuhan biodiesel AS. Di sisi lain, Inodnesia juga mengimpor kedelai dalam jumlah besar dari negeri Paman Sam. Kedua presiden sepakat meningkatkan nilai dan volume perdagangan masing-masing.

Jokowi juga mengapresiasi Trump yang tidak menunjukkan rasa permusuhannya terhadap Islam. Juga, kesediaan bekerja sama dengan sejumlah negara muslim untuk memerangi terorisme. Sehingga, pergerakan ISIS di Timur Tengah makin sempit. ”Sekarang kita harus memberikan perhatian ekstra terhadap pergerakan mereka di kawasan lain, termasuk Asia Tenggara,’’ ujar Jokowi.

Serangan di Marawi, Filipina, menjadi bukti bahwa ISIS sudah masuk ke Asia Tenggara sehingga perlu penanganan khusus. ’’Ini bukti bahwa ancaman terorisme meningkat (di Asia Tenggara),’’ lanjutnya. Karena itu, dia berharap Trump bersedia bekerja sama lebih jauh dengan Indonesia dalam hal penanggulangan terorisme. (byu)