Beranda Metropolis Permintaan Maaf tak Cukup DPC PDI-P Serahkan Kasus Ketua DPRD ke BK

Permintaan Maaf tak Cukup DPC PDI-P Serahkan Kasus Ketua DPRD ke BK

BOGOR–Kekisruhan yang terjadi di sidang paripurna Rabu (5/7), antara Ketua DPRD Kota Bogor Untung Maryono dengan anggotanya, berbuntut panjang. Untung yang salah kostum karena menggunakan seragam Pemuda Panca Marga (PPM) ketika memimpin sidang, dinilai sudah melanggar tata tertib dewan. Politikus PDI-P itu terpaksa harus mendapat teguran dari partai yang dipimpin Megawati Soekarno Putri tersebut. Pelanggarannya juga sedang diproses Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Bogor. “Sekarang sudah berproses di BK. Kalau saya secara personal sudah mengingatkan jangan diulang lagi. Dia sudah menjelaskan kronologisnya, yang pasti tidak ada unsur kesengajaan karena berbarengan acaranya,” ujar Ketua DPC PDIP Kota Bogor, Dadang Danubrata kepada Radar Bogor, kemarin (7/7). Dalam penjelasan Untung kepadanya, apa yang dilakukan dia (Untung) itu bukan tanpa alasan. Makanya, Dadang memaklumi dan menganggap interupsi kepada Untung yang dilakukan pertengahan sidang oleh sejumlah anggota tidak tepat. “Harusnya, peserta sidang kalau mau menolak, ya di awal sidang. Kemudian, dia sudah meminta izin duluan di depan sidang sebelum dimulai. Dia sudah meminta izin wali kota juga, bahwa dia tadinya tidak mau memimpin sidang itu karena masih memakai seragam (ormas) dan kebetulan ada acara yang sama. Itu yang diceritakan ke saya,” paparnya. Meski begitu, Dadang tidak membenarkan 100 persen apa yang dilakukan Untung. Ia meminta agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Sebab, menurutnya, perilaku tersebut kurang pantas untuk dilakukan seorang anggota DPRD. “Saya sudah mengingatkan, ini yang pertama dan terakhir, jangan diulangi lagi. Kurang pantas lah. Saya tanya tanggapannya ke dia, ya, ini peringatan buat kang Untung saja, jangan sampai diulangi lagi,” kata Dadang. Sementara itu, Untung Maryono meminta maaf atas kejadian penggunaan seragam ormas yang dilakukannya ketika memimpin sidang paripurna di DPRD Kota Bogor, Rabu (5/7). Menurut dia, itu dilakukan bukan disengaja. “Secara aturan tata tertib saya paham. Karena itu, saya minta maaf. Tapi, karena waktu yang mendesak dan saat itu juga ada acara yang sama dan kondisi jalan macet, jadinya saya tidak ada pilihan hadir dengan kostum (ormas, red) tersebut,” ungkapnya. Dia menceritakan, sebelumnya rapat paripurna yang dimulai pukul 11.00 WIB itu akan dipimpin wakil ketua dewan karena dia harus hadir di acara berbeda. “Tapi, karena harus menandatangani dua perda, akhirnya terpaksa saya hadir. Saya sadar, salah kostum. Niat ingin ganti pakaian, namun kondisi perjalanan macet. Akhirnya, saya datang dengan telebih dulu menyampaikan permohonan maaf kepada anggota dewan, karena saya sadar salah menggunakan kostum sebagaimana yang diamanatkan tata tertib dewan,” lanjutnya. Untung juga kembali menyampaikan permintaan maaf. Awalnya, Untung mengaku tidak akan hadir saat rapat paripurna dewan hanya karena tidak membawa pakaian ganti. Namun, niat tersebut akhirnya dibatalkan. Dia menceritakan, pada hari yang sama pukul 14.00 WIB, sebagai sekretaris Pemuda Panca Marga (PPM) Jawa Barat, ia menghadiri acara penerimaan anugerah piagam penghargaan dari Padepokan IPSI Sangsakabuana. “Namun karena rapat paripuna adalah prioritas, saya terpaksa harus mendahulukan dan menerima risiko diprotes soal kostum di dewan. Sekali lagi saya sampaikan mohon maaf. Sama sekali tidak ada unsur kesengajaan maupun maksud apa pun,” ujarnya.

Terpisah, anggota Komisi C DPRD Kota Bogor, R Dody Setiawan yang sempat diajak berduel oleh Untung pasca sidang paripurna, mengaku belum ada ucapan maaf yang diterimanya dari Untung. “Enggak, dia itu bilang minta maaf ketika di forum rapat paripurna, memakai baju itu. Setelah kejadian tidak ada ngomong minta maaf. Dia bahkan ngajak berantem sama saya. Kita malu, DPRD itu lembaga terhormat. Malu kita sama semuanya,” sesalnya. Dia menjelaskan, mayoritas anggota DPRD protes karena insiden tersebut baru pertama kali terjadi di Indonesia. Dia juga merasa terpukul, karena DPRD Kota Bogor telah kehilangan marwahnya setelah kegaduhan itu. “Kenapa dewan banyak yang protes? Karena ini baru pertama kali di Indonesia, di negeri yang kita cintai ini. Paling tidak, 10 sampai 15 menit kan bisa minta diskors untuk ganti pakaian,” kata Dody. Belum lagi, politikus Partai Demokrat itu merasa malu, ketika Untung menginterupsi wali kota saat memaparkan laporan di sidang paripurna, dengan alasan ada kepentingan lain. “Ini wali kota sedang berbicara saja diinterupsi sama dia, supaya jangan lama-lama karena dia ada kepentingan. Malu kita,” tandasnya.(rp1/c)