Beranda Metropolis Tuntaskan Dulu Rerouting, Baru Angkot AC

Tuntaskan Dulu Rerouting, Baru Angkot AC

BOGOR-Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk memfasilitasi angkutan kota (angkot) dengan pendingin udara (AC) menuai beragam tanggapan. Tak terkecuali DPRD Kota Bogor. Pasalnya, masih banyak program pemecah macet yang belum berjalan optimal, seperti rerouting angkot dan konversi tiga angkot menjadi satu bus. Anggota Komisi C DPRD Kota Bogor, Teguh Rihananto menilai, justru jika menggunakan AC akan membuat Kota Bogor semakin jauh dari kata sejuk. Karena, sepengetahuannya, dengan menggunakan AC emisi gas buang kendaraan akan meningkat. “Banyak AC juga secara lingkungan malah tidak cocok, karena semakin banyak emisi gas buangnya,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Ditambah, kondisi Bogor yang dianggapnya sudah tidak sesejuk dulu. Untuk itu, menurutnya, langkah yang direncanakan Pemkot Bogor sangat tidak tepat. Malah, dirinya mengusulkan pemkot untuk merencanakan beberapa program yang bisa membuat Kota Bogor kembali menjadi sejuk. “Malah kalau bisa bukan angkotnya yang di­ACkan, Bogornya dibikin sejuk lagi kayak dulu, itu sebab esensinya. Kalau Bogor sejuk kayak dulu, misalnya banyak penghijauan banyak upaya menurunkan emisi gas buang, itu yang harusnya diutamakan,” paparnya.

Teguh menganggap, banyak hal yang harus lebih diprioritaskan di bidang transportasi ketibang merilis angkot AC. Problem yang kini menghantui Kota Bogor adalah kemacetan yang juga diakibatkan oleh membeludak nya jumlah angkot. “Sebenarnya ini (AC) bukan masalah utamanya. Masalah
kemacetan merupakan masalah utama yang harus terlebih dahulu ditangani pemerintah. Masalah rerouting, masalah penyediaan transportasi massal, itu dulu dituntaskan,” kata Teguh. Gagasan angkot AC ini dianggap akan memecah konsentrasi Pemkot Bogor dalam menuntaskan semrawut transportasi Kota Bogor. Ia berharap, agar pemkot dapat menyelesaikan programprogramnya secara matang meski dikerjakan secara bertahap. “Jangan sampai satu masalah belum selesai sudah mengurusi masalah yang lain. Sistem satu arah (SSA) misalnya, oke selesai, tapi kan belum menyelesaikan permasalahan. Kemacetan pun masih sering terjadi, jadi masih belum selesai,” paparnya.

universitas ibn khaldun bogor uika

elum lagi, dikhawatirkan angkot AC menimbulkan persoalan baru. Pasalnya, pasca menggunakan AC tarif angkot sudah pasti melambung. Padahal, peminatnya hanya sedikit dan rutenya pun tidak jauh. “Misalkan gini, angkot kalau ada AC tarif juga berubah, padahal penumpangnya juga hanya sedikit sedikit sudah gitu dekat dekat. Jadi jangan dulu kepada rencana yang seperti itu, tapi masalah lalu lintas masalah kemacetan, masalah rerouting,” ungkapnya. Untuk itu dirinya berpesan agar pemkot tetap fokus
menuntaskan kemacetan. “Jadi jangan dulu ngikut-ngikut daerah lain. Kalau Jakarta pakai AC wajar, kalau di Bogor yang paling krusial masalah kemacetan,” tandasnya.

Sebelumnya, Pemkot Bogor menerima bantuan 10 alat pendingin udara yang merupakan kerja sama Kemen terian Perhu bungan dengan perusahaan angkutan umum online. Bantuan ini merupakan kolaborasi antara pemerintah dan swas ta melalui program Kementerian Perhu bungan 2018 seluruh angkutan umum dilengkapi AC dengan mengusung program “Menyong song Angkutan Umum yang Dilengkapi dengan Pendingin Udara”.

Wali Kota Bima Arya mengatakan, dengan diberikan bantuan tersebut diharapkan masyarakat Kota Bogor lebih memilih menggunakan kendara an umum dibandingkan kendaraan pribadi, sehingga nantinya akan ber pengaruh ke jalanan yang lebih lengang. Dia juga berharap agar bantuan AC untuk angkot ini dapat ditambah secara bertahap, mengingat jumlah angkot di Kota Bogor sebanyak 3.412 yang telah diberikan izin. “Kalau bisa AC ditambah lagi 500­1.000. Dan dengan hal ini diharapkan pengemudi angkot bisa lebih tertib,” ungkapnya.(rp1)