Beranda Female Annisa Nurul Koesmarini, Berbisnis dari Buah Pala Manfaatkan yang Terbuang Jadi Bernilai

Annisa Nurul Koesmarini, Berbisnis dari Buah Pala Manfaatkan yang Terbuang Jadi Bernilai

BERKHASIAT: Annisa memperlihatkan beberapa produk minumannya yang berasal
dari buah pala. FEBY/RADAR BOGOR

TUGAS Annisa memberikan edukasi kepada masyarakat melalui website, memasarkan produk melalui media sosial dan pameran. Seorang digital marketing harus mempunyai inovasi-inovasi yang fresh dan terbaru agar bisnisnya terus berkembang dan tidak mati. Latar belakang Annisa memilih untuk membangun sebuah bisnis karena waktu lebih fleksibel. Dengan menjadi pengusaha, bisa membantu banyak orang seperti karyawan dan bisa bertemu banyak orang atau menjalin relasi agar bisa mendapat pengertahuan, menyerap ilmuilmu baru, dan memperbanyak kenalan. Pala pun jadi inovasinya. Sayangnya, buah khas Kota Bogor ini keberadaannya kurang dimanfaatkan masyarakat untuk penganan. Biasanya, yang diambil hanya biji dari pala untuk rempah-rempah. Dagingnya, justru dibuang begitu saja. Nah, wanita kelahiran Padang, 5 November 1988 ini memutuskan mencari solusi terbaik untuk bisa memanfaatkan buah pala bersama rekannya.

Yakni peluang bisnis membuat suatu olahan yang mempunyai nilai jual tinggi dengan daya tahan lama. “Kita ingin membuat terobosan dengan memanfaatkan buah pala. Akhirnya, setelah menemukan formula dan dikembangkan ternyata mendapat apresiasi baik, dan alhamdulillah sudah berjalan selama tujuh tahun,” terangnya. Sekitar 2010, berdirilah CV Cielofood Pratama – Sirup Pala Bogor, yang merupakan usaha kecil dan menengah dengan memproduksi berbagai macam olahan pala seperti sirup pala, ready to drink yaitu cielo drink (minuman dari sari pala), slomo drink (minuman dari buah pala, salak, dan mint) dan selai buah pala. Untuk saat ini Annisa sudah memiliki lima karyawan yang memproduksi sirup dan minuman siap minum setiap hari. Namun untuk selai, dibuat berdasarkan pesanan.

Pemasaran sirup dan minuman buah pala ini melalui media sosial, website dan pasar tradisional. “UKM itu urat nadinya cash and carry, jadi kita mencari sasaran yang lebih fleksibel seperti pasar tradisional. Nantinya, kita juga akan mencoba ke pasar modern, untuk Carefour sendiri sudah masuk namun hanya di tiga cabang. Sekarang sudah proses memasukkan di Go-Food,” tuturnya. Untuk sirup pala, setiap bulan bisa memproduksi 3.000 botol, kalau untuk minuman siap minum sampai mencapai 10.000 botol setiap bulan. ”Kami punya satu agen besar yang mengembangkan dengan sistem SPG,” ujarnya.(cr6/c)

universitas pakuan unpak