Beranda Berita Utama Personel Band Efek Rumah Kaca Adrian Yunan yang Terus Berkarya dalam Gulita

Personel Band Efek Rumah Kaca Adrian Yunan yang Terus Berkarya dalam Gulita

TETAP SEMANGAT: Adrian Yunan ditemui di kediamannya Pamulang, Tangsel, Selasa (20/6/17). FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

BOCAH perempuan itu menggelayut manja di pangkuan sang ayah. Balon di tangan asyik dimainkannya.
’’Saya pernah bikin citraan visualnya dia,’’ kata Adrian Yunan Faisal, sang ayah, sembari mengecup lembut kepala Rindu, bocah tersebut.

Namun, lanjut basis band Efek Rumah Kaca (ERK) tersebut, upayanya itu ’’gagal’’. Bukan karena gambarnya tidak jadi. ’’Kata ibunya, Rindu lebih cantik dari bayangan saya, hehehe,’’ ujar pria kelahiran Jakarta 41 tahun lalu itu.

Maklum, Adrian mereka wajah Rindu berdasar suara yang ditangkap dari interaksi keseharian. Sejak bocah buah pernikahannya dengan Yonita Ismiyati itu lahir pada April 2014, Adrian memang belum pernah melihatnya langsung. Sebab, penglihatannya semakin buruk sejak 2010. Dari awalnya mengalami low vision, lalu hanya bisa melihat dengan mata kanan. Sampai kemudian, sebagaimana ditulisnya dalam Sebelah Mata, salah satu hit ERK, ’’gelap adalah teman setia/dari waktu-waktu yang hilang’’.

Kehilangan penglihatan itu memang sempat membuatnya sangat terpukul. Serasa jatuh ke terowongan tanpa cahaya di ujung sana. Tapi, ketegaran sang istri dan energi dari si buah hati mengembalikan semangatnya.

Buahnya adalah album solo Sintas yang dirilisnya pada Juni lalu. ’’Saya ingin sembuh. Bukan untuk saya, tapi untuk Rindu,’’ ucap Adrian.

Hari-hari gelap Adrian bermula pada 2005. Dia merasakan penglihatannya mulai berkurang. Selain mulai mengumpulkan materi untuk album pertama ERK, kala itu dia bekerja kantoran di bidang jasa kalibrasi. Otomatis, kejelian mata sangat dibutuhkan. ’’Awalnya, saya mikir mungkin kecapekan. Mata minus,’’ ungkapnya.

Namun, kian lama, low vision itu terasa kian mengganggu. Adrian pun memutuskan untuk mundur dari pekerjaannya.

Cek ke optik, bukan mata minus. Lantas, ketika periksa ke dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta, Adrian didiagnosis mengalami retinitis pigmentosa yang merupakan kelainan bawaan.

Yang paling memukulnya, dokter menyatakan tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan. Bahkan, Adrian disarankan mulai belajar huruf braille.

Jalan medis seolah buntu. Keluarga menyarankan menempuh pengobatan alternatif dengan metode pijat pada saraf area mata.

Hasilnya, penglihatan pria kelahiran Jakarta, 16 Maret 1976, itu membaik hingga bisa membaca lagi. Aktivitasnya bersama ERK pun terus berjalan. Dirintis sejak 2001, ketika akhirnya memutuskan memakai nama Efek Rumah Kaca empat tahun berselang, yang tersisa selain Adrian adalah Cholil Mahmud (gitar, vokal) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar).

Menggabungkan berbagai genre, mulai progressive rock, new wave, sampai jazz, lagulagu ERK yang banyak berbicara tentang realitas sosial dengan gaya puitis kian banyak dikenal di skena indie tanah air. Sampai akhirnya pada September 2007 mereka bisa menelurkan album debut dengan tajuk yang sama dengan nama band.

Tepat pada saat itu pula, Adrian kembali ngantor. ’’Dari awal mindset kami di band, tidak mutlak menggantungkan hidup dari musik. Jadi, kami bertiga (personel ERK) tetap kerja sambil ngeband,’’ tutur Adrian.

Ternyata, album itu meledak. Cinta Melulu yang menyindir industri musik tanah air dan Di Udara yang didedikasikan untuk almarhum Munir termasuk yang turut melambungkan album tersebut.

Kesibukan manggung Adrian otomatis makin padat. ’’Karena saya sangat menikmati aktivitas di musik, kelepasan, 2008 fisik ngedrop,’’ ujarnya.

Kondisinya naik turun hingga 2010. Manggung dalam kondisi fisik lemah dan penglihatan kabur sering dia rasakan.

Ketika pada Maret 2010 ERK mendapat undangan main di Singapura, Cholil dan Akbar menyarankan Adrian untuk sekaligus memeriksakan kondisi matanya di sana. ’’Kalau di rumah sakit Indonesia, hanya mata saya yang diperiksa. Di Singapura diminta general checkup,’’ urainya.

Sebab, satu organ dengan organ lain di tubuh saling berkaitan. Dari pemeriksaan menyeluruh itu, dokter menyampaikan diagnosis yang jauh berbeda dari diagnosis awal lima tahun sebelumnya.

Dokter di salah satu rumah sakit kenamaan di Singapura itu menjelaskan, penglihatan Adrian menurun karena dulu dia terserang virus toksoplasma yang sangat tinggi. ’’Kalau ditarik mundur, waktunya sekitar lima tahun ke belakang. Agak berdekatan dengan pertama saya merasakan low vision,’’ kenang pria yang banyak menulis lagu-lagu ERK itu.

Virus tokso tersebut tidak hanya menyerang organ mata, tapi ke seluruh badan. Menyerang kekebalan tubuh Adrian. ’’Ada yang pilek sedikit, saya ketularan,’’ ucapnya. Sayang, ketika datang untuk pemeriksaan menyeluruh tersebut, kondisi saraf-saraf mata Adrian sudah terlalu rusak. Kalau saja sejak awal terdiagnosis terkena virus tokso, pengobatan bisa dilakukan dengan minum obat antivirusnya

Karena itulah, dokter pun melakukan treatment ’’pemungkas’.’ Menyuntikkan obat langsung ke saraf mata. Meski, itu tidak menjamin akan pulih total.

Sepulang dari Singapura, kondisi mata Adrian lumayan membaik. Begitu pula fisiknya. Dengan bersemangat dia turut serta dalam tur ERK ke sembilan kota.

Namun, setelah kota ketujuh, Adrian kembali ngedrop. Dia masih memaksakan untuk bisa menyelesaikan manggung di dua kota terakhir.

Dampaknya, beberapa hari setelah pulang tur, Adrian terbangun tanpa cahaya. Gelap di mana-mana. ’’Itu kali pertama saya merasakan tanpa penglihatan sama sekali,’’ ucapnya getir.

Sedih, terpukul, dan frustrasi. Bukan hanya fisiknya yang drop, mental pun terjun bebas. Kepala seperti ditarik-tarik, nyeri, terutama di sekitar mata.
’’Saya nggak bisa naruh kepala di bantal karena sakit banget. Kalau sampai bisa tidur, itu karena saking capeknya merasakan sakit,’’ ungkap dia

Adrian juga tak mampu menulis lagu. Gitar memang diletakkan di samping tempat tidur, menunggu untuk disentuh. Namun, Adrian tidak sanggup. ’’Saya bed rest total. Rasanya sudah dekat (dengan ajal),’’ kenangnya dengan lirih.

Hari beranjak siang. Rindu masih asyik bermain dengan balonnya. Masih menggelayut manja. Adrian mengusap lembut rambut si upik jantung hatinya itu.

Kenangan Adrian seolah terbang ke masa-masa ketika mimpi-mimpinya terasa hancur karena penglihatan yang hilang itu. Sebab, musik dan ERK adalah hidupnya.

Dia pun kembali memeriksakan kondisinya di rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit pertama pada 2005 di Jakarta. Ternyata, dia mendapat diagnosis yang lagi-lagi berbeda. Yaitu, Behcet disease, penyakit yang melemahkan saraf dan paling sering menyerang mata.

Dipengaruhi faktor genetik yang kebanyakan diderita keturunan Arab dan Tionghoa. Memang, dari garis ibu, beberapa keturunan ke atas ada yang berdarah Tionghoa. Namun, tidak ada yang mengalami gangguan penglihatan seperti itu.

Berada di antara tiga diagnosis berbeda itu tentu saja membuat Adrian bimbang. ’’Namun, sejujurnya saya lebih condong kena virus,’’ ucapnya.

Dukungan keluarga, terutama sang istri tercinta, membuat Adrian perlahan berusaha bangkit. ”Walau nggak bisa baca, saya masih bisa main bas,’’ ujarnya.

Lagu Sebelah Mata yang ditulisnya diambil dari apa yang dia rasakan saat hanya menggunakan mata kanannya untuk melihat. Betapa segala yang tertangkap matanya menjadi demikian berharga. Termasuk, sebagaimana termaktub dalam lirik, sebercak warna sekalipun.

Peran sang istri sangat besar dalam kembali berkaryanya Adrian. Yonita yang tak punya latar belakang musik mau mempelajari dari nol.

Sepulang kerja atau saat weekend, dia belajar dari teman Adrian tentang software untuk merekam musik. Jadi, begitu sang suami menulis lagu, drafnya diproses dengan menggunakan software tersebut.

Draf-draf itulah yang kemudian dipakai dalam album Sintas. Di-launching pada 4 Juni di Paviliun 28, Jakarta Selatan, album tersebut terdiri atas 10 lagu yang dikumpulkan sejak 2010.(*/c5/ttg)