Beranda Metropolis Kenalkan Calon Wali Kota ke PNS

Kenalkan Calon Wali Kota ke PNS

BOGOR–Halal bihalal yang berlangsung di Plaza Balaikota, kemarin (3/7), sedikit berbeda. Wali Kota Bima Arya memberikan kejutan kepada ratusan PNS dan puluhan kepala dinas yang hadir dengan memperkenalkan bakal calon (balon) wali kota Bogor yang akan maju di pemilihan wali kota (Pilwalkot) pada 2018 mendatang.

Suami Yane Ardian itu menilai, sedianya para PNS dan kepala OPD harus mengetahui siapa saja yang akan maju sebagai balon wali kota. Dia pun memperkenalkan Dadang Danubrata sebagai calon wali kota dari PDI Perjuangan. Kemudian, Bima kembali memperkenalkan Tauhid J Tagor dari Partai Golkar, disusul Zaenul Muttaqin atau biasa disapa ZM dari PPP. “Juga ada Wakil Ketua DPRD dari Partai Gerindra, Sopian Ali Agham. Terima kasih semuanya yang hari ini (kemarin, red) sudah hadir dalam acara halal bihalal,” ujarnya di sela­sela sambutan.

Tak berhenti di situ, Bima pun menyinggung wakilnya, Usmar Hariman yang juga kader dari Partai Demokrat. Ia mempertanyakan apakah Usmar akan maju sebagai wali kota Bogor periode mendatang atau tidak. “Kalau dari Demokrat siapa ya Pak Wakil? Pak Wakil akan maju juga!” kata Bima sembari diiringi tawa.

universitas ibn khaldun bogor uika

Di sisi lain, sambung Bima, selain tokoh partai politik yang maju sebagai balon wali kota, ada juga tokoh partai lainnya yang hadir. Sebut saja, Heri Firdaus dari PKB juga PKS.

Pada kesempatan itu, Waketum Partai Amanat Nasional (PAN) itu sekaligus ingin berbagi dan mengajak kepada semua, khususnya untuk dirinya sendiri, untuk merenungkan beberapa hal. Dikatakannya, bulan suci Ramadan adalah madrasah untuk memperbaiki diri.

“Ramadan juga sebagai ajang latihan dari godaan duniawi dan ukhrawi, serta konon, selepas bulan suci Ramadan bahwa semua umat muslim akan menjadi manusia yang lebih baik. Kalau saja, spirit of Ramadan terus mengiringi hingga 11 bulan ke depan, Insyaallah tidak akan ada masalah di dunia ini, di kota ini,” kata Bima.

Selain itu, ia pun tak lupa mengajak semua pihak untuk merenung sedikit saja, seberapa besar dan serius mendapatkan makna dan hikmah dari Ramadan dan Lebaran. “Sebagian besar dari kita termasuk saya sendiri kehilangan makna Ramadan dan Lebaran. Ketika maaf hanya di bibir, ketika halal bihalal menjadi sebatas ritual, ketika lepas dari Ramadan kita tidak menjadi lebih baik. Tetapi mungkin sama saja,” tandasnya. (wil/c)