Beranda Berita Utama Mengikuti Kehebohan Parade Juara Golden State Warriors di Oakland

Mengikuti Kehebohan Parade Juara Golden State Warriors di Oakland

MERIAH: Rosyidan (tiga dari kanan) ikut berpesta bersama fans Golden State Warriors yang merayakan gelar juara timnya di Oakland, California.

Chief Editor Majalah Mainbasket Rosyidan merasakan pengalaman sangat spesial. Dia berada di Oakland, California, untuk ikut dalam pesta besar-besaran Golden State Warriors sebagai juara NBA 2016-2017. Rangkaian paradenya panjang. Suasananya meriah dan heboh.

Suasana Kota Oakland terasa tenang pada Rabu pagi 14 Juni lalu waktu setempat (Kamis malam WIB). Namun, di sejumlah ruas jalan, beberapa polisi dan sukarelawan berkaus kuning mulai memasang barikade, membangun panggung, dan mengerjakan beberapa persiapan lainnya.

’’Hari tenang sebelum ’badai manusia’ besok pagi,’’ kata seorang ibu yang menjadi sukarelawan kepada saya.

universitas ibn khaldun bogor uika

Kamis sekitar pukul 06.00 (kemarin WIB), tanda-tanda badai manusia mulai terlihat. Beberapa kelompok orang mulai bergerak ke arah yang sama. Dari kejauhan, tepian Jalan Broadway mulai terlihat ramai dan sesak. Hari itu keluarga besar Golden State Warriors akan berparade mengelilingi beberapa jalan utama di Oakland, California.

Rombongan parade dimulai dari perempatan Jalan Broadway dan 11th Street. Bergerak ke utara untuk kemudian berbelok ke kanan ke arah Grand Avenue, terus ke Harrison Street. Akhir parade adalah depan gedung besar Henry J. Kaiser Convention Center.

Empat jam sebelum parade dimulai, jalan-jalan yang akan dilalui parade mulai terisi penuh. Setiap orang tidak ingin tempat mereka yang terdekat dengan kendaraan parade diserobot orang lain. Media-media setempat, termasuk Greg Papa, pembawa acara NBC Sports Bay Area, menyatakan bahwa ada sekitar satu juta orang yang memadati Oakland hari itu.

’’Untuk kali kedua dalam tiga tahun kita menjadi juara. Hari ini kita merayakannya bersama. Kalian yang berkemah, ayo bangun, sarapan, dan bikin kopi. Anak-anak, jangan lupa sarapan. Kita akan bersenang-senang,’’ kata Papa yang muncul di semua layar televisi raksasa di depan panggung utama.

Di salah satu sudut menuju Harrison Street, seorang penjaja koran tampak dikerumuni pengunjung. Saya melihat, bebe­rapa penjaja koran di tempat lain mengalami hal yang sama. ’’Edisi istimewa, hanya 2 dolar (sekitar Rp26 ribu),’’ teriak si penjaja.

Koran yang dijual adalah San Francisco Chronicle dengan judul utama Champs Again. Tumpukan koran yang meng­gunung tampak sangat cepat terkikis. Persis tampilan air dari sisi gelas kaca yang tengah diminum orang yang kehausan dengan mengguna­kan sedotan.

Ada yang membeli dua eksemplar koran. Tidak sedikit yang membayar untuk 4–5 eksemplar sekaligus.

Di sisi lain, penjaja hotdog berseliweran. Mereka seolah tahu bahwa banyak yang datang dan belum makan pagi. Lima dolar (Rp 66 ribu) untuk satu hotdog panas yang dimasak di tempat. Seperti halnya koran pagi, hotdog itu pun laris manis.

Sepanjang jalan menuju jalur parade, tak terhitung banyaknya penjual pernak-pernik Warriors. Kaus, topi, dan segala rupa yang berbau ’’Dub Nation’’ diobral. Umumnya dengan warna kebanggaan biru dan kuningnya (mereka menyebutnya gold).

Harganya USD 5–USD 10 dolar (Rp66 ribu–Rp132 ribu). Tidak ada yang lebih mahal daripada itu. Para pembagi poster gratis menjadi incaran. Stok poster Kevin Durant, skuat Warriors; slogan-slogan; dan jargon-jargon kemenangan yang mereka bagikan seolah tak pernah habis.

Pukul 08.00, area di depan panggung utama sudah seperti lautan manusia. ’’Sungai’’ manusia dari segala penjuru pun masih terus mengalir. Warna kuning-biru di mana-mana. Setiap orang seperti ingin terlihat ’’paling Warriors’’.

Tepat pukul 10.00, rombongan pertama mulai bergerak dari Broadway. Saya menyangka parade akan berisi satu bus bertingkat yang diisi para pemain Warriors saja. Saya keliru. Rangkaiannya sangat panjang.

’’Cantik, cantik, cantik sekali. Saya sudah lama menunggu. Kami layak mendapatkan ini. Kami adalah tim basket terbaik di dunia. Tidak ada yang bisa mengalahkan kami dan kami akan tambah bagus tahun depan,’’ ujar Caliko, warga asli Oakland, yang datang sejak pagi.

Setelah rombongan drum band atraktif beraksi, bus pertama yang membawa pemain muncul. Klay Thompson dan Matt Barnes berada di atas bus yang sama. Klay dengan kaus putih dan topi terbaliknya seolah berusaha melambai kepada semua orang yang memanggil namanya.

Bus kedua tak langsung muncul. Masih ada iring-iringan penghibur yang lewat sebelum sebuah bus biru pemain mengekor di belakangnya. ’’Lihat! Itu Iggy!’’ ujar seorang pengunjung.

Iggy adalah Andre Igguodala. Dia satu bus dengan James McAdoo. ’’Good day to be a Warrior!’’ Terdengar teriakan lain dari tempat lain. Beberapa detik kemudian, terdengar teriakan berbarengan, ”Waaarrrriioorrrssss!’’

’’Paradenya luar biasa. Semua orang datang dan senang-senang. Tidak ada kerusuhan dan semua orang saling sayang dan menghormati. Ini hari yang indah bagi Oakland,’’ tambah Caliko.

Nama-nama besar muncul di bus-bus berikutnya. Kevin Durant duduk santai di depan salah satu bus sambil melambai-lambai, sedangkan David West yang sebus dengan dia berdiri di ekor bus. ’’MVP! MVP! MVP!’’ ujar semua yang ada di pinggir jalan bersorak.

Joe Lacob dan Peter Guber, dua pemilik Warriors, juga tampak duduk di jok belakang dua sedan terbuka yang berbeda. Teriakan terima kasih dari para pendukung Warriors mengudara di mana-mana. Menyusul kemudian Draymond Green yang tentu saja mendapat sambutan sangat luar biasa. Beberapa pengunjung terlihat histeris meneriakkan nama Green.

’’Saya suka Draymond. Dia membawa intensitas tinggi dan sikap yang menyenangkan bagi tim ini. Defense-nya luar biasa. Dia bisa blok pemain yang posturnya dua kali lipat dari dirinya. Saya suka komentar-komentar angkuh Draymond. Walau terdengar angkuh, dia mampu membuktikan kata-katanya,’’ ujar Mitch H., teknisi furnitur yang datang dengan mengenakan jersey Green.

Tiba-tiba ada sebuah bus tanpa pemain Warriors. Ternyata, si pemain malah berjalan kaki dan menyalami para pengunjung di pinggir jalan. Dialah Javale McGee. Sosok kocak yang mulai dicintai fans Warriors. ’’Hey, jangan berlari! Naik bus saja!’’ Terdengar lagi teriakan yang, tampaknya, diarahkan kepada sosok penting di tengah parade, tetapi bukan McGee.

Rupanya, dia berteriak ke arah pelatih Warriors Steve Kerr. Kerr, seperti halnya McGee, juga bersalaman langsung dengan para pengunjung yang beruntung berada di barisan paling depan di tepi jalan. Bedanya dengan McGee, Coach Kerr menyalami sambil berlari.

’’Saya khawatir dengan punggungnya,’’ komentar orang di sebelah saya.

Coach Kerr memang kerap tak hadir di pinggir lapangan karena berkutat dengan cedera punggung. ’’Steve Kerr itu genius. Dia tahu bagaimana membuat tim yang menangan. Dia belajar dari Coach Pop (Gregg Popovich), dia juara bersama Chicago Bulls. Dia tahu cara membangun tim juara,’’ ungkap Yella, pengunjung dari Oakland yang sangat mengagumi Steve Kerr.

Walau berpusat dan bermarkas di Oakland, Golden State Warriors adalah tim kebanggaan bersama milik mereka yang tinggal di Bay Area. Bay Area merupakan istilah untuk menyebut wilayah yang tersebar mulai San Francisco, San Pablo, San Jose, dan Oakland. Termasuk sembilan wilayah kecil (county) di sekitarnya.

Dimulai pukul 10.00, parade usai pukul 12.00. Kerumunan di pinggir jalan kemudian bergerak ke arah Henry J. Kaiser Convention Center. Tempat semua peserta parade berkumpul untuk memberikan sambutan.

Matahari sudah cukup terik. Panggung besar di depan Henry J. Kaiser Convention Center sudah diisi para pemain, pelatih, staf manajemen, pemilik tim, serta keluarga besar Golden State Warriors.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Waktu setiap pemain memberikan sambutan, kesan-kesan, ucapan terima kasih, atau apa pun tentang Warriors.

Umumnya, para pemain mengucapkan kata-kata sambutan normatif yang sopan dan rendah hati. Stephen Curry mengucapkan terima kasih kepada para pendukung, manajemen, dan teman satu tim. Hal serupa diungkapkan Kevin Durant.

Tetapi, tidak demikian Draymond Green. Dan yang mengejutkan adalah Steve Kerr. Sebelum acara resmi di atas panggung utama, melalui wawancara televisi di belakang panggung, Green bahkan sudah memulai kata-kata pedasnya yang ditujukan kepada LeBron James.

Sepanjang parade, Green mengenakan kaus bertulisan ’’Quickie’’. Dia mengungkapkan, kaus itu ditujukan untuk membalas kaus yang dikenakan LeBron James ketika juara pada 2016 yang bertulisan ’’The Ultimate Warrior’’.(*/c5/nur)