Beranda Berita Utama Waspada BBM Langka, Efek Mogok Membawa Derita!

Waspada BBM Langka, Efek Mogok Membawa Derita!

ilustrasi

BOGOR–Aksi mogok massal yang dilakukan para awak mobil tangki (AMT) Pertamina, Senin (19/6) depan, bakal membawa derita bagi masyarakat luas.
Seperti yang dikeluhkan Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) wilayah I Bogor, Bahriun Sinaga. Bahriun memastikan pasokan BBM akan terhambat dan stok BBM bisa terus menipis.

“Efeknya akan membawa derita karena distribusinya tidak jalan. Pengaruh pasti ada. Tapi kita harapkan tidak demikian,” ujarnya kepada Radar Bogor kemarin (15/6).
Dia mengatakan, aksi tersebut akan mengakibatkan tersendatnya distribusi pasokan ke 125 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang tersebar di Kota dan Kabupaten Bogor. Dirinya khawatir, jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, para konsumen akan beralih ke SPBU asing. Tentunya bakal memberatkan masyarakat juga karena harganya lebih mahal dari BBM milik Pertamina.

Untuk itu, Bahriun menyebut aktivitas distribusi harus tetap berjalan. Caranya bisa dengan mencari sopir pengganti sementara untuk AMT yang mogok kerja. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pertamina sempat mengerahkan mobil-mobil pengangkut yang didatangkan dari wilayah lain. “Dibantu mobil-mobil tangki dari luar daerah, seperti Jawa Tengah,” sebutnya.

penerimaan mahasiswa baru universitas nusa bangsa bogor

Namun, jika aksi mogok kerja AMT dilakukan skala nasional, harus ada langkah antisipasi yang lebih besar. Bisa dengan meminta bantuan pada TNI untuk mendistribusikan BBM. Sebab, menurutnya, mustahil mencari sopir dengan kemampuan serupa dalam waktu singkat. “Karena kalau mendadak cari sopir itu tidak bisa jenis truk sembarangan. Truk tangki yang menggunakan SIM B2 umum. Dua tahun yang lalu juga pernah terjadi kejadian semacam ini, ya, solusinya begitu, mencari sopir pengganti,” kata Bahriun.

Meski begitu, Bahriun masih berharap rencana mogok kerja tidak benar-benar terjadi. Dia pun meminta Pertamina segera bernegosiasi dengan para sopir dan anak perusahaan yang bertanggung jawab.

Menanggapi rencana hal tersebut, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Anton Charliyan mengatakan akan membahasnya sesegera mungkin. Sebab, ia belum membicarakan persoalan ini dengan jajarannya.

“Nanti akan kami bicarakan dan dinginkan bagaimana caranya,” singkatnya saat ditemui usai kegiatan Safari Ramadan Kapolri, di gedung Tegar Beriman Kabupaten Bogor, kemarin.

Sementara Kapolres Bogor AKBP AM Dicky menuturkan akan melakukan koordinasi dan mediasi dengan pihak Pertamina untuk mengetahui apa masalah yang terjadi sebenarnya. Namun, ia berharap massa urung menggelar mogok kerja. “Kita anggaplah mengalah untuk kemaslahatan dan kemanfaatan masyarakat banyak di bulan puasa ini kan berlipat-lipat,” tuturnya.

Kalau tangkinya sampai mogok, tambahnya, dikhawatirkan bahan bakar minyak akan sulit ditemukan. Sehingga menyebabkan warga susah menjadi semakin susah, dan yang parah, harga-harga akan menjadi naik. “Kalau sudah begitu kan kasihan masyarakat banyak,” singkatnya.

Hingga kabar ini beredar, belum ada pengaruh yang ditimbulkan terhadap distribusi BBM ke wilayah Bogor. Bahriun pun memastikan pasokan BBM saat ini terbilang normal.

Terpisah, Kepala Pengawas SPBU 34-16102 Jalan Pajajaran, Irawan (44), enggan terlalu jauh menanggapi rencana aksi mogok kerja AMT. Menurutnya, hanya beberapa sopir yang menggelar demo, dan masih banyak yang aktif.

Irawan menambahkan, selama musim mudik, terjadi penambahan konsumsi BBM yang signifikan. Berdasarkan tahun sebelumnya, puncak peningkatan konsumsi BBM terjadi pada saat malam takbir. “H-2 bisa menghabiskan 40.000 liter per hari. Kemudian malam takbirnya bisa menghabiskan 60.000 liter sehari. Itu gabungan antara jenis-jenis BBM yang ada. Padahal, di hari-hari biasa konsumsi BBM per harinya hanya berkisar 30.000,” terangnya.

Namun, Irawan memprediksi bakal ada penurunan konsumsi BBM per SPBU dari tahun sebelumnya. Hal itu lantaran jumlah SPBU di Bogor kian menjamur. “Prediksi untuk tahun ini sih kebutuhan menurun, ya, karena pom bensin juga bertambah terus,” tandasnya.

Sementara itu, sejumlah SPBU di wilayah Cibinong tetap memasok bahan bakar secara normal. Supervisor SPBU 34-16395 Triyana menuturkan, pihaknya tidak menambah pasokan selama musim mudik tahun ini. SPBU-nya mendapat jatah pertamax 8.000 liter dalam sekali pengiriman. Premium hanya mendapat jatah 8.000 liter. Untuk pertalite sekitar 9.000–10.000 liter. “Sampai sekarang belum terlalu terlihat penambahan pembelian dan cenderung normal,” tukasnya.

Senada, Supervisor SPBU 34-16916 Hariyanto menyebut tidak ada perubahan pasokan menjelang hari lebaran. Karena jika ia memasok bbm dengan jumlah yang banyak namun permintaan sedikit, itu akan membuat tangki SPBU tidak mencukupi. Untuk premium tersedia 8.000 liter, lalu pertamax 20.000 liter, dan pertalite 32.000 liter. “Dalam satu hari pertamax bisa habis 3.500 liter, pertalite 8.000 liter, premium 8.000 liter. Kalau minta lagi harus me­nunggu,” ungkapnya.

Sementara itu, Supervisor SPBU 34-16926 Joko Purwanto me­ngatakan, untuk mengan­tisipasi permintaan yang banyak menjelang Lebaran, ia akan menambahkan perbelanjaan pasokan bahan bakar. Untuk hari biasa, SPBU-nya menye­diakan 10.000 liter setiap harinya untuk empat jenis BBM, yakni premium, pertamax, pertalite, dan solar. Namun, menjelang Lebaran ada kemungkinan untuk menambahkannya menjadi 16.000 liter. “Nanti setelah Lebaran akan normal lagi, karena di sini sepi masyarakatnya sudah mulai mudik,” pungkasnya.(rp1/rp2/d)