Beranda Metropolis Urgensi Normalisasi Sungai Sholis

Urgensi Normalisasi Sungai Sholis

PERLU DINORMALISASI: Banyak ditemukan sampah di gorong-gorong di bawah Jalan Sholis kemarin. Gorong-gorong ini menghubungkan aliran sungai dari Kampung Cimanggu Lamping, Kelurahan Kedungwaringin, melintasi drainase Jalan Sholis, kemudian menyambung ke Kampung Kukupu Kelurahan Cibadak.nelvi/ radar bogor

BOGOR– Warga yang bertempat tinggal di sekitaran Jalan Sholeh Iskandar (Sholis) patut waswas. Kejadian banjir bandang yang menerjang SMAN 2 Bogor di Kelurahan Sukaresmi beberapa bulan lalu, bisa saja terjadi kapan pun.

Itu melihat kondisi salah satu sungai kecil yang melintas di bawah Jalan Sholis yang mengalami pendangkalan dan permukaannya sebagian tertutup tanah.

Pantauan Radar Bogor kemarin (13/6), anak sungai yang berlokasi tak jauh dari Lotte Mart itu, sudah mengalami penyempitan aliran. Maklum, di sekitar area tengah berlangsung pelebaran jalan dampak pembangunan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) seksi IIB Kedungbadak-Yasmin.

universitas pakuan unpak

Sungai ini mengalir dari Kampung Cimanggu Lamping, Kelurahan Kedungwaringin, melintasi drainase Jalan Sholis yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter, kemudian menyambung ke Kampung Kukupu Kelurahan Cibadak.

Pemilik rumah makan yang letaknya berada di samping sungai, Hendi (36) mengatakan, lokasi sungai yang jaraknya sekitar 200 meter dari Lotte Mart itu sempat meluap saat hujan deras. Tapi, menurutnya, meluapnya sungai tersebut terjadi sebelum pembangunan Tol BORR dilakukan. “Dulu sekitar tahun 2008. Kalau sekarang rasanya sudah tidak pernah lagi kayak gitu,” jelasnya.

Berbeda dengan banjir di Sukaresmi yang terjadi di hilir, peristiwa banjir di tahun 2008 itu, menurutnya, terjadi di daerah hulu, yakni Kampung Cimanggu Lamping, Kelurahan Kedung­waringin. Saat itu terjadi penyumbatan di bagian drainase Jalan Sholis, sehingga arus sungai yang seharusnya mengalir ke Kampung Kukupu malah tersumbat. “Waktu itu tersumbat di gorong-gorong. Kasihan warga Cimanggu Lamping yang kebanjiran,” ujar Hendi.

Dia yang sudah berjualan di daerah tersebut sejak 17 tahun lalu, sudah tentu hafal betul apa yang terjadi. Tapi, karena terkena pembebasan lahan, rumah makan miliknya terancam dipindah karena kontraknya tidak diperpanjang oleh pemilik lahan. “Paling mau pindah ke Karadenan. Di sini sudah gak dikasih perpanjang kontraknya. Tidak enaknya di Karadenan itu sepi kalau malam hari,” tuturnya.

Terpisah, Project Manajer PT Wijaya Karya (Wika), Ali Afandi membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan pelebaran jalan di sepanjang Jalan Sholis. Ia mengaku akan segera menormalisasi sungai pasca pelebaran jalan. “Drainasenya memang sudah ada, tinggal dinormalisasi,” jelasnya ketika dikonfirmasi.

Kini, menurutnya, pelebaran jalan masih terkendala lahan yang belum dikosongkan. Ada beberapa toko besi dan kayu yang masih buka di dekat Lotte Mart. Padahal, seharusnya pelebaran jalan tersebut dilakukan hingga persimpangan Jalan KH Abdullah bin Nuh dan Sholis.

Dia menduga ada perselisihan antara pihak penyewa lahan dan pemilik lahan, sehingga penyewa lahan belum mau meninggalkan toko yang dibangun di atas tanah sewaan. “Kayaknya masih ada perma­salahan antara penyewa dengan pemilik. Kami tidak punya kewenangan juga kalau ke arah situ,” tandasnya.(rp1/c)