Beranda Traveling Ramadan Seru di Mesir

Ramadan Seru di Mesir

PENINGGALAN ABAD XV: Alexandria adalah kota wisata yang sangat lengkap. Ia punya pantai, masjid, makam Nabi Daniel, serta Benteng Qaitbay yang perkasa ini.

TAHUN lalu, Ramadan di Timur Tengah bertepatan dengan musim panas. Saya yang sedang studi pascasarjana di International Islamic University Islamabad (IIUI), Pakistan, merasa kesepian lantaran kuliah sedang libur semester. Sebagian besar teman pulang, selain dua teman perempuan yang sama-sama bengongnya. Belum tahu mau ke mana.

Sempat tebersit ide mengh­abiskan libur panjang di Negeri Ali Jinnah dengan kondisi puasa Ramadan 17 jam di bawah cuaca panas ekstrem yang suhunya lebih dari 40 derajat. Kami pun bingung mengoptimalkan kegiatan di asrama putri yang sangat sepi. Maka, timbullah niat berhijrah ke Mesir yang terkenal sebagai Negeri Kinanah atau Negeri Para Anbiya’ (Negeri Para Nabi). Dibutuhkan tekat superkuat dan optimisme yang sangat tinggi. Sebab, sebagai mahasiswa rantau, duit kami pas-pasan. Kami tidak tahu bagaimana dan dengan cara apa kami bisa bertahan hidup di sana. Nekat sajalah pokoknya.

Setelah melalui berbagai liku-liku, pendeknya, kami akhirnya mendapatkan visa visit selama 2 bulan. Kemudian, kami hunting tiket pesawat yang harganya bersahabat dengan kantong mahasiswi. Tanpa disangka, setelah menghubungi teman-teman Indonesia yang berada di Kairo, alhamdulillah, mereka bersedia menjemput serta mengizinkan kami tinggal di rumahnya.

wisuda unpak bogor

Itinerary pun disusun. Kami akan masuk Mesir via ibu kota, Kairo. Setiba di sana, kami akan tinggal di Hai’Asyir, sekitar sejam dari pusat Kairo. Di kota pelajar itu, kebanyakan teman-teman mahasiswa dari Indonesia berkumpul. Kami sudah membayangkan keasyikannya. Ketika kali pertama kaki ini menginjak di bumi para nabi, hati ini makin merunduk. Di setiap langkah, kami dapat merasakan kehidupan yang sangat dekat dengan Tuhan.

Satu contoh yang mudah saja. Banyak orang pribumi dan pendatang yang setia menjaga wudu untuk melantunkan atau menghafalkan ayat-ayat suci Alquran di mana pun mereka berada. Muratal pun dikuman­dangkan di kendaraan maupun tempat umum.

Semangat mengkaji ilmu pengetahuan agama terlihat nyata. Banyak di antara mereka yang berbondong-bondong belajar bertatap muka dengan para masyayikh (sebutan orang yang berilmu dan disegani) untuk menimba ilmu tanpa harus mengeluarkan iuran sepeser pun. Bahkan, banyak (para masyayikh) yang memberikan kitab dan alat tulis secara cuma-cuma.

Selesai mengkaji ilmu, mendekati waktu buka puasa, disediakan menu buka puasa yang terasa nikmat. Bulan suci Ramadan juga tidak mematah­kan semangat para mahasiswa Indonesia yang berada di sana untuk tetap aktif. Akhirnya, kami pun mengikuti berbagai kegiatan. Misalnya, pengajian bersama KBRI, lomba cerdas cermat antarmahasiswa, kajian ilmiah, olahraga bersama, hingga membuka lapak maka­nan untuk berbuka puasa.

Lebih dari itu, yang paling menakjubkan adalah kaum muslimin berlomba-lomba memberikan zakat kepada yang berhak. Juga saling mendului bersedekah buat orang-orang yang menjalankan puasa. Ter­ma­suk kepada kami, mahasiswa Indonesia. Alham­dulillah, kami pun tak takut kekurangan rezeki dan gizi. Setiap kami keluar rumah, banyak yang membe­rikan bahan pangan serta maka­nan dan minuman untuk berbuka.

Kami pun berbuka secara beramai-ramai yang biasa kami sebut ”maidanur rahman” atau tempat kasih sayang. Suatu hari, kami sempat merasakan hanya memegang uang EGP 1 atau sekitar Rp700. Tanpa disangka, setelah kami selesai belajar kitab, ada yang memberikan uang yang biasa disebut musa’adah. Artinya, pertolongan. Jika dikumpulkan, selama bulan puasa kami menerima ”donasi” sekitar Rp800 ribu. Begitulah kuasa Allah.(*/c25/na)