Beranda Berita Utama MUI: DKM Harus Pilih Penceramah yang Bijak 

MUI: DKM Harus Pilih Penceramah yang Bijak 

 

Ilustrsi ujaran berbau SARA

BOGOR–Mendengarkan tausiyah di bulan yang penuh berkah ini sudah menjadi agenda rutin umat muslim. Siraman rohani dari para alim ulama menjadi kebutuhan tersendiri. Namun, di beberapa kesempatan, ada tausiyah dengan tema-tema tertentu yang kurang mengena di hati warga Bogor.

Kemarin Radar Bogor melaku­kan polling dengan cara acak kepada 43 pembaca. Alhasil, 86 persen lebih menyukai tausiyah tentang pendalaman agama, situasi kekinian 11,6 persen, dan politik sebanyak 2,3 persen.

Sedangkan, bahasan yang tak disukai tentang isu suku, agama, ras (SARA) sebanyak 76,7 persen, kekerasan 16,3 persen, dan pelecehan 7 persen. Tak hanya itu, Radar Bogor pun membuka polling melalui Twitter.

universitas ibn khaldun bogor uika

Dari 477 suara warganet, tercatat 86 persen tak menyukai ceramah tentang isu SARA. Tak hanya itu, 8 persen tak mau membahas pelecehan, dan 6 persen menolak kekerasan. Sedangkan, dari 289 suara tercatat 75  persen lebih menyukai ceramah tentang pendalaman agama, 12 persen situasi kekinian, 7 persen kondisi ekonomi, dan 6  persen situasi politik.

Berdasarkan polling tersebut, ternyata masyarakat lebih menyukai ceramah atau tausiyah mengenai pendalaman agama, situasi politik, situasi kekinian, dan kondisi ekonomi. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, KH Ahmad Mukri Aji membenarkan hal itu. Menurutnya, dakwah Islamiyah semestinya lurus dan jelas akidahnya. Tak hanya itu, metolodogi penyampaian pun mesti halus dan lembut.

“Agar hubungan dengan sesama muslim semakin baik, dan yang sudah baik, menjadi lebih baik. Nah, yang nonmuslim ya pasti paham, jika mendapat taufik dan hidayah mereka bisa masuk Islam,” tuturnya kepada Radar Bogor kemarin.

Terlihat dari hasil polling, ceramah atau tausiyah yang tidak disukai oleh masyarakat adalah yang mengenai isu SARA, keke­rasan dan pelecehan. Karenanya, Mukri Aji menyayangkan jika ada ulama yang menyampaikan tema-tema seperti itu.

“Bhinneka Tunggal Ika memang merupakan ajaran agama Islam, bahwa kita saling menghormati, saling betoleransi. Tapi, bukan dalam pengertian bahwa kita ini menggangap semua orang akan menganut agama yang banyak, tidak gitu. Yang Islam tetap konsisten Islam, yang nonmuslim tetap konsisten dengan agamanya. Dengan tidak menghina, melecehkan atau menodai, kita semua harus saling menghargai, karena Islam adalah agama yang damai, sejuk tetapi tegas bagi umatnya,”

imbuhnya.Melalui polling ini, Mukri Aji berharap masing-masing dewan kesejahteraan masjid (DKM) memilihkan narasumber yang bijak. Karena pendengar berhak mendapat tausiyah yang membangun, yang bisa menyadarkan tapi bukan menyinggung atau menghina. Tidak boleh menjadikan konflik internal atau eksternal, tidak boleh malah membuat umat bingung atau memprovokasi.

“Itu tidak ada di dalam agama Islam. Harus yang membuat silaturahmi makin bagus, komunikasi kreatif, saling menyapa saling mengingatkan bukan menjatuhkan, bukan mem-bully, tidak boleh hal-hal negatif,” cetusnya.

Senada, Ketua MUI Kota Bogor, KH Mustofa Abdullah Bin Nuh menyayangkan masih adanya tausiyah yang menyinggung SARA. MUI, kata dia, akan segera membuat imbauan untuk menegaskan hal tersebut. “Bhinneka Tunggal Ika itu rohnya. Dari situ lahir Pancasila dan UUD 1945 berwujud dalam NKRI,” tegas pria yang akrab disapa Ustaz Toto tersebut.(cr6/c)