Beranda Bogor Raya Konversi Angkot Mulai Dikaji

Konversi Angkot Mulai Dikaji

CIBINONG–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor berambisi membangun sistem transpor tasi massal. Program tersebut, sebagai upaya pengurangan volume kendaraan yang setiap tahunnya kerap meningkat.

Saat ini, pemerintah yang dipimpin Nurhayanti tersebut sedang menanti kepastian berdirinya stasiun light rapid transit (LRT). Sebab, belum ada kepastian dari pemerintah pusat bakal bangun di kawasan Sentul City atau di Tanah Baru, Kota Bogor.

Jika telah ditetapkan, Pemkab Bogor akan memiliki rencana menjadikan kawasan yang dilewati LRT sebagai transit oriented development (TOD) di Bumi Tegar Beriman.

Kepala Bappedalitbang Kabupaten Bogor, Syarifah Sofiah menjelaskan, saat ini pemerintah konsen untuk mengembangkan wacana TOD.

Sehingga, jika LRT benar­benar di bangun di kawasan Sentul, maka otomatis akan mendukung upaya pembangunan koridor bus rapid transit (BRT) yang akan tersedia tiga koridor di kawasan Cibinong Raya. “Kami memang sudah merencan akan untuk mulai mengurangi angkutan kota dalam provinsi (AKDP),” ujar dia.

Meski demikian, kon sep tersebut harus beririn gan dengan rencana pemerintah pusat. Konsep BRT, kata dia, mengadopsi layaknya TransJakarta dengan mengandalkan bus berkualitas tinggi berbasis transit yang cepat, nyaman, dan murah.

“Intinya membuat kenyamanan, dalam BRT didukung oleh stasiun KRL, hunian vertikal. Jadi, dalam satu kawasan ada hunian, dan moda transportasi yang saling terintegrasi,” sambungnya.

Sedangkan, BRT merupakan salah satu upaya konversi angkutan perkotaan (angkot) menjadi angkutan massal berupa bus. Terutama, untuk mengurangi kepadatan angkot dan minimnya penambahan jalan di pusat kegiatan wilayah (PKW) Kabupaten Bogor.(ded/c)