Beranda Bogor Raya

Kesaksian Warga Cileungsi Soal Kerusuhan Wamena, Pendatang Diminta Angkat Kaki

Yuliani bersama anak pertamanya saat sudah berada di kampung halamannya Babakan, Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi.

CILEUNGSI-RADAR BOGOR, Sejak terjadinya kerusuhan di Wamena, Papua pada 23 September 2019 lalu, sejumlah warga pendatang asal Kabupaten Bogor akhirnya pulang ke kampung halamannya sendiri.

Yuliani Rahmawati (38), warga Kampung Babakan, Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, yang baru saja tiba dari Papua bersama dua anak perempuannya, Katnis Wenda (3) dan Kaila Wenda (1).

Mereka dipulangkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menggunakan pesawat Hercules, Rabu (9/10) malam.

Sayangnya, Suami Yuliani, Kantuis Wenda (29), tak ikut pulang kampung lantaran harus bekerja di sana. Kepada Radar Bogor, Yuliani Rahmawati menceritakan, pecahnya kerusuhan ini terjadi sekira pada akhir bulan September lalu.

Kantor Bupati Kabupaten Jayawijaya, yang hanya terbatas gang dengan rumahnya, sejak pagi hari sudah ramai diontrog masyarakat Papua.

“Ya mulai saat itu saja ramai pedemo. Rumah kita berbatasan dengan Kantor Bupati,” ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis (10/10).

Menurut Yuliani, kerusuhan yang terjadi di depan kantor bupati tidak melebar hingga ke permukiman kediamannya. Aksi anarkis pedemo hanya dilakukam tepat di halaman kantor bupati. Sedang di permukiman rumah, sejauh kerusuhan terjadi tetap aman dari berbagai ancaman.

“Pertama di kantor bupati dan di Jalan Raya Yos Sudarso saja. Karena terhalang gang, alhamdulillah tidak sampai masuk ke wilayah kami,” kata Yuliani.

Meski tidak sempat mendapat kontak fisik dengan pendemo, Yuliani mengaku khawatir dengan keamanannya beserta keluarga. Pedemo terus mengancam siapa saja yang memiliki ciri fisik berbeda dengan mereka agar meninggalkan kota.

“Pendatang akan dibakar hidup-hidup. Mereka minta pendatang angkat kaki. Kami betul khawatir, karena kami punya rambut lurus,” lirihnya.

Di Jalan Yos Sudarso, Sinagma, Kabupaten Jayawijaya, Yuliani tinggal bersama sang suami, Kantius Wenda, dan kedua anaknya.

Mereka tinggal berdampingan dengan ayah dan ibu dari Kantius. Di sana ia memiliki usaha kios sembako, bensin, minyak tanah, dan lainnya.

Meski serangan kerusuhan masyarakat Wamena tidak sampai ke wilayah rumahnya, namun semakin hari isu ancaman pedemo terus diperbincangkan warga sekitar.

Masyarakat yang takut tinggal di rumahnya, kata Yuliani, memilih mengungsi di pengungsian, Kodim 1702/Jayawijaya dan Kantor Polres Jayawijaya. Sekira ada 3000 warga yang mengungsi di sana.

“Kami berjaga-jaga saja, taku pendemo masuk ke wilayah kami. Kios-kios yang dibuka saat kerusuhan berlangsung itu dibakar oleh masyarakat massa,” ungkapnya.

Yuliani menceritakan, kerusuhan terparah terjadi mulai dari Pasar Baru, Hom-hom, dan Pasar Tradisional Polikelek. Di sana, lanjut Yuliani, hampir seluruh kios dan barang-barang lainnya milik warga hancur dibakar. “Kantor Bupati hancur dibakar,” ungkapnya.

Dia belum bisa memastikan sampai kapan berada di Cileungsi. Namun, yang jelas, Yuliani berencana Oktober ini dirinya akan kembali ke Wamena. “Tapi tentu saya akan kembali setelah kondisi di sana benar-benar kondusif,” pungkasnya. (rp1/c)

Baca Juga