Beranda Pendidikan

Sukseskan SDGs, Mahasiswa IPB University Ciptakan Generator Portabel Disinfektan untuk Sanitasi Air Bersih

BOGOR-RADAR BOGOR,Peran mahasiswa dalam menyosong program pembangunan yang berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia sangat diperlukan. Berbagai aksi nyata dan kontribusi mahasiswa telah diperlihatkan dengan berbagai inovasi yang dibuat. Mahasiswa IPB University, Evita Febriana, Alya Priskalita dan Nunuh Nugraha, berhasil membuat inovasi yang diberi nama Pordistor untuk sanitasi air bersih.

Inovasi ini berhasil meraih Juara 2 Nasional dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di Jambi pada tanggal 25-28 September 2019 yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran Universitas Jambi yang mengangkat tema “Sinergitas Pemuda dalam Upaya Mewujudkan Generasi Emas 2045 Yang Berdaya Saing Global”.

“Judul yang kita angkat dalam LKTI ini adalah Pordistor (Portable Disinfectan Generator) yaitu alat untuk menghasilkan air bersih bebas bakteri. Nah, bakterinya ini sendiri adalah bakteri E.Coli,” kata Evita.

Pordistor ini adalah salah satu inovasi untuk mendukung tujuan program berkelanjutan atau SDGs point ke enam yaitu air bersih dan sanitasi yang dikemas dalam bentuk teknologi berbasis ilmu kimia. “Teknologi ini sebenarnya ditujukan untuk masyarakat pesisir dalam penyediaan air bersih sebagai upaya mendukung program SDGs. Di teknologi ini, kita menggunakan reaksi elektrokimia. Reaksi elektrokimia ini menggunakan baterai bekas dengan karbon sebagai anoda dan zink sebagai anoda. Kemudian katoda ini dialirkan listrik arus searah untuk menghindari korsleting. Setelah dialirkan listrik terbentuklah oksigen reaktif. Oksigen reaktif inilah yang akan menjadi oksidator kuat untuk membunuh bakteri E.Coli,” kata Alya Priskalita.

Alasan mengapa hanya bakteri E.Coli yang menjadi fokus dari inovasi teknologi air bersih ini, mereka berpegang pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.32 Tahun 2017 yang menjelaskan bahwa parameter air bersih adalah terbebas dari nol bakteri E.Coli per 100 mililiter.

“Mengapa hanya bakteri E.Coli yang menjadi fokus teknologi ini? Karena kita menganut parameter air bersih menurut Permenkes No.32 Tahun 2017 yaitu nol E.Coli dalam 100 militer air untuk bisa disebut sebagai air bersih,” jelas Evita.

Karbon dan zink yang dipakai tidak akan memberikan efek samping, karena karbon di baterai yang dipakai sifatnya kompak dan katodik yaitu tereduksi dan terpakai kembali dan begitu seterusnya yang sifatnya mengalir.

“Untuk air yang dihasilkan ini tidak akan membahayakan karena karbon yang dipakai sangat kompak dan sifat alat ini pun katodik yaitu tereduksi dan terpakai kembali serta sifatnya mengalir, jadi sangat aman,” tambah Evita.

Untuk ke depannya, kedua mahasiswa ini akan mengembangkan teknologi ini untuk mematikan bakteri coliform dalam air sehingga air ini dapat menjadi air minum.

“Untuk pengembangan ke depannya, kita akan mencoba untuk fokus pada bakteri coliform, selain bakteri E.Coli agar airnya ini tidak hanya menjadi air bersih namun dapat menjadi air minum,” tutur mahasiswa Departemen Kimia IPB University ini. (Ath/ris)

Baca Juga