Beranda Metropolis

Proyek Double Track Ancam Pasokan Air, 70 Persen Pelanggan Kena Imbas

Salah satu pemukiman warga di Kecamatan Bogor Selatan yang dilalui jalur Kereta Api Bogor-Sukabumi.

BOGOR-RADAR BOGOR, Rencana pembangunan double track atau jalur ganda kereta api Bogor-Sukabumi bukan hanya berdampak sosial pada masyarakat yang tinggal di wilayah Kecamatan Bogor Selatan dan sebagian Bogor Tengah.

Pun dengan pendistribusian air milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan. Pasalnya, sepanjang lokasi yang akan dibangun proyek strategis nasional itu, tertanam pipa air baku yang didistribusikan kepada warga.

Termasuk Istana Bogor yang notabenenya ditinggali oleh Presiden, Joko Widodo. Karenanya, diperlukan penanganan sementara sebelum proyek tersebut berjalan.

“Harus ada penanganan sementara dulu. Karena itu menyangkut pelayanan kurang lebih 70 persen pelanggan di Kota Bogor dan masalahnya juga kan disini ada presiden,” ujar Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Pakuan Deni Surya Senjaya kepada Radar Bogor.

Deni menyebut, telah melaporkan kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) sejak April 2019 dimana rencana double track mulai digulirkan.

Pihaknya telah mengirimkan Detail Engineering Design (DED) yang diperlukan untuk pemindahan utilitas pipa yang sebelumnya tertanam.

Tinggal menunggu PT KAI yang informasinya telah mengajukan anggaran kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) agar pekerjaan itu dapat dilakukan.

“Informasi terakhir mereka harus memasukkan itu ke anggaran, kalau tidak mereka tidak akan bisa bekerja,” ungkapnya.

Deni mengaku tak tahu berapa anggaran yang dibutuhkan. Sebab itu dilakukan oleh PT KAI. Sementara pihaknya hanya menerima aset ketika pekerjaan selesai dilakukan.

“Mereka harus merelokasi pipa kita lalu membuat yang baru. Ketika sudah selesai baru bisa di koneksikan dengan mengangkat pipa yang lama,” ungkap Deni.

Deni menerangkan, panjang pipa yang tertanam sekitar 3 kilometer yang membentang dari Cipaku hingga Stasiun Ciomas Rancamaya.

Pipa tersebut memiliki ukuran 1.000 milimeter dan 700 milimeter. Karenanya tidak mungkin pendistribusian dihentikan. “70 persen pelayanan Kota Bogor akan terganggu jika itu di stop,” imbuhnya.

Disisi lain, Deni mengungkapkan bahwa PDAM Tirta Pakuan menyewa lahan PT KAI. Biaya sewa sekitar Rp 3 miliar untuk tiga tahun. Karenanya, ketika pipa telah direlokasi ke lahan baru maka sewa akan kembali dilanjutkan.

“Selama ini kita sewa pertiga tahun sekitar Rp3 milyar. Kita terakhir bayar sewa 2017 dan mungkin 2021 baru bayar sewa lagi,” pungkasnya. (gal/c)

Baca Juga