Beranda Bogor Raya

Kekeringan Masih Melanda, 900 Warga Babakanmadang Antre Air Bersih

Warga Desa Cicadas, Kecamatan Babakan Madang mengantre air bersih yang disubsidi YBM PLN, yang juga bekerja sama dengan Baitulmal Tazkia, kemarin.

BABAKANMADANG-RADAR BOGOR, Sebanyak 900 kepala rumah tangga di Desa Cicadas, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, mendapat bantuan 21.000 liter air bersih yang disalurkan Yayasan Baitulmaal Perusahaan Listrik Negara (YBM PLN), yang juga bekerjasama dengan Baitulmal Tazkia, kemarin.

Bantuan tersebut dibagikan secara cuma-cuma untuk membantu warga kesulitan air bersih. Ada tiga titik lokasi saat pendistribusian air berlangsung. Yakni, untuk warga di RT01, 02, dan 03 wilayah RW02 Desa Cicadas.

Sebanyak tiga unit tanki air yang dikerahkan pada bantuan tersebut. Satu unit tanki berkapasitas 5.000 liter, dua unit lainnya memiliki daya tampung sebanyak 8.000 liter air bersih.

Manager program Baitulmal Tazkia, Pangesti Tito menjelaskan, bantuan air bersih ini sebagian dari penerapan program Baitulmal Tazkia yang sudah dilakukan beberapa bulan sebelumnya.

“Sudah berjalan beberapa bulan lalu, sejak kekeringan melanda masyarakat khususnya wilayah timur Kabupaten Bogor,” kata Pangesti.

Perempuan yang akrab disapa Esti ini menyebut, kali ini Baitulmal Tazkia bersinergi dengan YBM PLN dalam pendistribusian warga terdampak. Program air bersih ini juga sebagai treatment awal bagi masyarakat Desa Cicadas.

“ini menjadi treatment awal untuk masyarakat Desa Cicadas. Harapannya dengan pendistribusian air bersih ini dapat memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar” tuturnya.

Kondisi di sana, sumber air satu-satunya milik warga adalah air yang mengalir di sungai. Sayang debit air sungai pun mulai kering, air yang mengalir tidak lagi deras seperti sebelumnya. Belum lagi, warga betul-betul memanfaatkan sungai untuk keperluan lainnya. Seperti buang air besar dan mandi.

Warga RT01/02, Saripudin (65) menjelaskan dampak musim kemarau telah terjadi sejak empat bulan terakhir. Warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

Untuk sekadar minum, mereka harus merogoh kocek agar dapat membeli air di depot-depot air.

Dia menyebutkan, kondisi di desanya hanya memiliki satu sumber air bersih yakni di sungai.

Sayang debit air sungai pun mulai kering, air yang mengalir tidak lagi deras seperti sebelumnya. Belum lagi, warga betul-betul memanfaatkan sungai untuk keperluan mandi cuci kakus.

“Desa kami sudah mengalami kekeringaan empat bulan” ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis (03/10).

Akibat sulitnya air, sebagian besar warga terpaksa mengambil air yang berasal dari Sungai Citeureup. Mirisnya, warga tetap menggunakan air tersebut meski kondisi airnya keruh dan bau.

“Karena terpaksa. Selama ini kami hanya bisa mengambil air dari sungai yang keruh. Kami juga berharap ada solusi lain mengatasi masalah kekeringan ini,” tandasnya. (rp1/b)

Baca Juga