Beranda Metropolis

Kekeringan Mulai Melanda Kota Hujan, Dua Wilayah Minta Pasokan Air

Warga Tarikolot Ciluar Bogor Utara, mendapatkan bantuan pasokan air bersih.

BOGOR–RADAR BOGOR, Kekeringan akibat musim kemarau panjang saat ini sudah mulai terjadi di Kota Bogor.

Sejumlah wilayah sudah mulai mengeluh kehabisan air bersih. Salah satunya di Kampung Tarikolot RT 03/04 Kelurahan Ciluar Kecamatan Bogor Utara.

Sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) mulai mengeluhkan kesulitan air. Senin (12/8), mereka harus sabar mengantri untuk mendapatkan air bersih yang dikirimkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor.

Selain di Kecamatan Bogor Utara, musibah kekeringan juga terjadi di wilayah Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan.

Operator Pusdalops BPBD Kota Bogor, Yogi Marzati Utama mengatakan, lokasi kekeringan di Kelurahan Mulyaharja terjadi di empat lokasi, yakni Jalan Jambu Cibereum RT 02 dan RT 03 RW 05, Jalan Cipete RT 01/06 dan Jalan Pabuaran Tengah RT 03/06.

Kekeringan terjadi akibat musim kemarau yang sudah terjadi sekitar satu bulan terakhir. Sehingga kurang tersedianya sumber air bersih di wilayah tersebut.

“Di RT 02 dan 03 RW 05 mengakibatkan sekitar 260 KK mengalami dampak dari kurang tersedianya air bersih,” ungkapnya.

Sementara, sambung dia, di lokasi RT 01/06 ada 130 KK dan 03/06 ada 105 KK yang mengalami kurang tersedianya air bersih. BPBD, kata dia, sudah menurunkan bantuan air bersih sebanyak 7.500 liter ke lokasi tersebut.

“Pendistribusian 2.500 liter air untuk 260 KK dan 5.000 liter untuk 235 KK sudah selesai kita lakukan,” pungkasnya.

Menanggapi kekeringan, Kasi Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kota Bogor, Budi Hendrawan mengatakan, dalam menghadapai segala kemungkinan, BPBD siap siaga melalui piket 1 x 24 jam.

Intinya, di Mako BPBD tidak ada kosong, minimal ada 15 anggota setiap harinya. Sehingga apapun kebutuhan warga, semisalnya membutuhkan air bersih bisa difasilitasi.

“Kalau kemarau panjang, antisipasi soal kekeringan yang juga tidak signifikan. Semisalnya kekeringan ada yang minta distribusi air bersih, kami sarankan ke pemerintah setempat dulu, dalam hal ini kelurahan, nanti kelurahan yang menghubungi BPBD. Selanjutnya kami mengambil air di PDAM,” beber Budi.

Dikatakan Budi juga, setelah adanya laporan dari kelurahan, sekalipun permintaan cukup tinggi, pihaknya akan menjadwalkan pendistribusian air bersih.

Mengingat keterbatasan kendaraan yang hanya satu. Berbanding dengan tahun lalu, pendistribusian air bersih tahun ini cukup tinggi.

“Kalau tahun lalu cukup satu kali, itu pun hanya setengah tangki. Kalau tahun ini lumayan, ada setiap hari distribusi air bersih. Minggu-minggu ini meningkat,” katanya.

Budi memaparkan, dalam satu tangki cukup untuk beberapa RT dalam satu RW, dengan catatan tidak semua RT membutuhkan bantuan air bersih. Untuk satu tangki pengiriman mencukupi beberapa RW.

“Sebenarnya tergantung permintaan, misalkan di satu RT ada beberapa KK yang membutuhkan, sisanya tidak. Jadi tidak dalam satu RW semua RT membutuhkan, hanya beberapa,” bebernya.

Lebih lanjut, Budi menerangkan, BPBD tetap berpedoman dengan data yang dikeluarkan BMKG soal musim kemarau. Menurut BMKG, kata Budi, Kota Bogor berada di non zona, artinya, meskipun musim kemarau, tapi sewaktu-waktu ada hujan.

“Titik-titik krisis air, kami baru dapatkan sekarang-sekarang ini, ya. Di 2016-2017, belum sempat ada distribusi air. Di 2018 saja, di Bojongkerta itu hanya setengah tangki air yang didistribusikan, sekitar 3000 liter, dan itu pun hanya satu kali dalam satu tahun itu. Makanya, di Kota Bogor ini tidak menetapkan darurat kekeringan, jadi masih bisa diantisipasi,” katanya.

Budi menambahkan, permintaan kini banyak datang dari wilayah Mulyaharja, Bogor Selatan. Sedianya air melimpah, hanya ada beberapa kendala yang terjadi, semisalnya mesin pompa yang bisa digunakan, tidak dirawat hingga bermasalah.

“Sementara ini yang paling parah Kecamatan Bogor Selatan, karena ada pemintaan banyak. Lalu sempat ngisi juga di Kecamatan Bogor Utara, di Ciluar,” pungkasnya.

Terpisah, Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Pakuan, Deni Surya Senjaya mengaku telah menerima laporan atas kekeringan yang terjadi.

Dia akan segera mengirimkan petugas lapangan untuk melakukan verifikasi dan survey di lokasi terdampak, sehingga diketahui apakah penyediaan TAHU dimungkinkan atau tidak.

“Kalau ada lahan nanti kita pasang TAHU untuk antisipasi. Besok sekalian distribusi air kita akan survey,” ungkapnya.

Melihat warga terdampak, menurut Deni, kebutuhan air bersih bisa di distribusikan dua kali dalam sehari. Karena itu, PDAM Tirta Pakuan akan siap menyediakan kebutuhan warga.

“Kalau 50 KK kebutuhan perorang sekitar 0,5 kubik air, jadi dua tangki cukup untuk satu hari, kewajiban kita untuk membantu sesuai kebutuhan mereka,” pungkasnya. (wil/gal/pkl6/pkl7/c)

Baca Juga