Beranda Metropolis

Investigasi Coran Tol BORR Ambruk Tuntas, Sanksi Tegas Menanti Kontraktor

Pekerja proyek toll Borr IIIA melakukan pengerjaan perbaikan bolk penyangga yang runtuh beberapa hari sebelumnya, Kamis (11/7). Nelvi/Radar Bogor.

BOGOR – RADAR BOGOR, Pasca ambruknya coran Tol BORR Seksi III A Kayumanis, Tanah Sareal, pada Rabu (10/7/2019) lalu, dilakukan investigasi terkait peristiwa tersebut.

Investigasi yang dilakukan oleh tim dari Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) itu pun tuntas kemarin. Dan rencananya hari ini Jumat (12/7/2019) akan diumumkan ke publik.

“Ya, hasil investigasi akan diumumkam Jumat siang,” ujar Direktur Utama PT Marga Sarana Jabar (MSJ) Hendro Atmodjo kepada Radar Bogor.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan PT MSJ pun siap memberikan sanksi kepada kontraktor atas runtuhnya balok penyangga atau pier head tol tersebut. Atas kejadian itu dua pekerja luka-luka dan jalur tersebut ditutup.

Perlu diketahui, pembangunan tol yang melintas dari simpang Yasmin hingga simpang Semplak itu melibatkan tiga perusahaan. Pertama: PT MSJ yang merupakan pengelola. Kedua: PT PP sebagai kontraktor. Dan ketiga: PT Indec KSO sebagai konsultan.

Sebagai pengelola PT MSJ tak segan-segan menegur dan memberikan sanksi kepada PT PP dan PT Indec KSO jika diketahui ada kesalahan fatal dalam proses konstruksi tol sepanjang 2,85 kilometer itu.

Misalnya menyalahi prosedur, mengganggu ketertiban umum dan merugikan negara dan masyarakat. “Yang terpenting adalah ketegasan bagi kontraktor dan konsultan yang mengerjakan,” tegas Hendro.

Selain menyiapkan sanksi, pihaknya juga mengebut proses evakuasi sisa-sisa konstruksi yang ambruk dan menutupi sebagaian badan jalan Sholeh Iskandar (Sholis) dari arah Bogor-Parung. Hingga kemarin penutupan jalan di jalur tersebut masih dilakukan.

Rekayasan lalu lintas satu jalur masih diberlakukan bagi kendaraan dari arah Parung menuju Bogor. Konstruksi Tol BORR juga untuk sementara dihentikan sampai waktu yang belum ditentukan.

Hendro menyakini penyetopan kontruksi tidak akan mengganggu deadline pembangunan

jika hanya mundur sekitar satu atau dua minggu. Namun akan berbeda jika dampak kejadian tersebut terus berlarut-larut. Pasalnya progres pembangunan tol baru di angka 35,571 persen. Sedangkan deadline kontruksi menyisakan lima bulan lagi atau selesai pada 21 Desember 2019.

Nah, agar hal itu tak terjadi, pihaknya tengah fokus pada pembongkaran material Pier Head yang belum dipotong di lokasi kejadian. Ketika hal itu selesai dilakukan, minimal kedua jalur di Jalan Raya Semplak dapat dilintasi kembali oleh masyarakat. “Targetnya besok (hari ini,red) bisa dua jalur untuk traffic,” bilangnya.

Terkait banyaknya perusahaan maupun rumah sakit yang mengalami kerugian atas kejadian itu, Hendro meminta maaf kepada semua pihak. Jika ada tuntutan atau yang lain, dia siap untuk membicarakannya. “Kali perihal kerugian, kami masih menginventarisasirnya,” ucap dia.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Danang Parikesit menambahkan ada beberapa sanksi yang akan diberikan jika terbukti ada kesalahan kerja yang dilakukan terkait kecelakaan konstruksi pada proyek Tol BORR. Sanksi akan diberikan kepada pegawai, badan usaha, hingga kontraktornya. “Itupun dengan catatan terbukti adanya kesalahan kerja,” jelasnya.

Adapun sanksi untuk pegawai bisa berupa pencabutan izin sebagai profesi insinyurnya. Untuk badan usaha bisa dicabut izin pengusahaan jalan tol nya, sedangkan untuk kontraktornya akan mendapat peringatan tegas.

Hingga saat ini, kata Danang, pasca kejadian ambruknya balok penyangga tol BORR, investigasi masih dilakukan tim independen dari pengawasan mutu dan komite jalan, jembatan, dan terowongan. Dia berharap seluruh badan usaha jalan tol (BUJT) dan pihak terkait selalu mematuhi prosedur kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang berlaku.

Ketentuan itu telah diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5/PRT/M/2014 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum. BPJT juga akan lebih mengaktifkan konsultan Pengendali Mutu Independen (PMI) untuk memastikan kepatuhan badan usaha dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi.

“Pengawasan internal dari BUJT pada kontraktor pelaksana juga harus terus dilakukan secara lebih ketat dalam pelaksanaan kegiatan konstruksi jalan tol guna menghindari berulangnya kejadian yang serupa,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Operasional II PT PP Muhamad Toha Fauzi selaku kontraktor Tol BORR Seksi IIIA mengaku siap menerima hasil evaluasi dari KKJTJ usai ambruknya cor konstruksi balok penyangga Tol BORR.

PT PP kata dia, akan terbuka kepada tim investigasi perihal kronologi maupun data terkait peristiwa tersebut. Namun, ia meyakini konstruksi yang dikerjakan sebelumnya sudah diperiksa dan aman.

“Kalau kita lihat dari data yang diterima, kita pelajari sebetulnya kontruksi ini sudah aman. Namun, kita masih menunggu dari komite silahkan dicek kita terbuka, semuanya sudah sesuai SOP yang disepakati bersama,” jelasnya.

Selain itu, Toha mengatakan akan berusaha tetap menyelesaikan proyek Tol BORR sesuai target yang berikan yakni pada akhir Desember 2019 mendatang.

“Saya ushaakan tidak menganggu target awal proyek (Desember 2019). Misalnya nanti berhenti tiga hari, kita akan rubah metode kita atau menambah equipment agar kembali ke target awal,” katanya. (gal/c)

Baca Juga