Beranda Metropolis

Kata Bima Arya Soal Sahur On The Road

BOGOR-RADAR BOGOR, Fenomena Sahur On The Road (SOTR) kian marak di kalangan remaja pada setiap momen Ramadhan, tidak terkecuali di Kota Bogor.

Sebenarnya SOTR mengusung misi yang sangat mulia. Di mana bertujuan untuk berbagi kepada pihak yang kurang mampu dan membutuhkan paket sahur tersebut agar dapat menjalankan ibadah puasanya dengan optimal.

Namun, SOTR yang biasanya dilakukan secara berkelompok mengalami pergeseran nilai. Lantas, bagaimana Wali Kota Bogor Bima Arya menyikapinya?

Bima Arya menyatakan tidak akan melarang kegiatan sahur bersama, tetapi harus sesuai dengan aturan yang berlaku serta tertib. “Kami tidak melarang untuk sahur bersama, tapi kita mengimbau untuk tidak melakukan konvoi atau pawai karena rawan kecelakaan,” ungkap Bima di sela cucurak bersama awak media di kediaman pribadinya, Komplek Baranangsiang Indah, Bogor Timur, Jumat (3/5/2019).

Ia menambahkan, dari pengalaman Ramadhan tahun sebelumnya, banyak orangtua yang mengaku resah ketika anak-anaknya mengikuti sahur on the road dengan teman-teman sekolahnya. “Ada yang berangkat malam, pulang sore. Belum lagi sebagian dari mereka membuat kegiatan yang destruktif, seperti vandalisme, tawuran dan lain sebagainya. Itu aja yang kita cegah,” jelasnya.

Bima pun menyarankan bagi yang melaksanakan sahur bersama, agar dilaksanakan di tempat-tempat tertentu seperti masjid, panti asuhan dan lainnya. Tidak dengan konvoi yang membahayakan. “Tidak hanya sekedar bagi-bagi makanan saat sahur saja, diharapkan ada sisipan kegiatan lain seperti kultum, ngaji bersama atau kegiatan positif lainnya,” terang dia.

Cucurak
Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Bima Arya juga tak melewatkan tradisi cucurak. Menurut dia, tradisi makan bersama sekaligus ungkapan rasa syukur menyambut datangnya ramadhan ini memiliki nilai yang sangat kental.

“Cucurak setiap tahun selalu. Sama keluarga besar, muspida, media dan warga lainnya. Munggah pasti kumpul di keluarga besar. Cucurak ini filosofinya dalam sekali, tidak semua orang bisa dan mau berbagi makanan dalam satu hamparan daun seperti yang kita lakukan ini,” ungkap Bima.

Ia menambahkan, tradisi cucurak selain mempererat tali silaturahmi juga sebagai pesan yang kuat dalam membangun kebersamaan. “Ini kita semua duduk sama-sama, tidak ada yang tinggi atau rendah. Menunya juga sama ada jengkol, urap, ayam, sambal dan lalapan. Menu rakyat, semua suka,” tandasnya. (Humpro :adt/arvan/pri)

Baca Juga