Beranda Nasional

Ketika Cinta Mengalahkan Segalanya

film ali dan nino
ALI DAN NINO

Untuk pertama kalinya Azerbaijan, negeri indah di tepi Kaspia yang dikenal sebagai pertemuan antara Timur dan Barat ini mengikuti festival film yang dikenal sebagai “Europe on Screen” atau Eropa yang disajikan pada layar (cinema). Tahun ini merupakan tahun ke-19 bagi perayaan “Europe on Screen” di Indonesia dan kedutaan besar Azerbaijan di Jakarta yang diwakili oleh Charge d’affairs, Ruslan Nasibov merasa sangat senang negaranya dapat bergabung pada acara bergengsi yang diadakan oleh perwakilan Uni Eropa di Indonesia mulai 18-30 April 2019.

Dalam sambutannya pada program nonton film bersama di pusat kebudayaan Belanda, Erasmus Huis (19/04) di Jakarta, Ruslan Nasibov menggambarkan ketika perang dunia pertama pecah, revolusi bergejolak dan Azerbaijan mencari kemerdekaannya dari kekaisaran Russia. Ali dan Nino menemukan diri mereka terperangkap dalam dunia perubahan yang dramatis, di mana cinta mereka satu sama lain adalah satu-satunya yang tetap sama, meski Ali adalah seorang Muslim dan Nino adalah seorang Kristen Ortodox Georgia.

Seting film berdurasi 1 jam 40 menit ini banyak diambil di Azerbaijan, Turkey, Georgia dan Russia, pada sekitar tahun 1910-an. Film di buka dengan pesta kaum bangsawan yang diadakan di kediaman keluarga Kipiani dan Ali merupakan salah satu tamu kehormatan karena persahabatan ayahnya dan ayah Nino sebagai pengusaha sukses. Adam Bakri (31), aktor sentral berkebangsaan Palestina yang memerankan Ali Khan Shirvanshir adalah pemenang Academy Awards ke-86 dengan perannya di film Omar karya Hany Abu-Assad.

Sejak awal sutradara sudah memanjakan mata penonton dengan keindahan cita rasa para bangsawan lewat baju-baju sutra dan perhiasan yang indah, perlengakapan makan kelas satu serta dekorasi rumah keluarga Nino yang menonjolkan kekhasan rumah bangsawan Georgia. Maria Valverde (32), aktris asal Spayol yang memerankan Nino Kipiani dengan sangat piawai. Ali dan Nino yang sedang mabuk kepayang terbentur perbedaan keyakinan saat Nino mengutarakan niat Ali yang ingin menikahinya kepada sang ayah. Jalan menjadi buntu karena perbedaan prinsip yang sama-sama dipegang kedua keluarga mereka, namun ayah Ali lebih terbuka. Seorang pengusaha asal Armenia bernama Malik Nakhararyan awalnya ingin membantu Ali dan Nino, namun Malik ternyata ular bekepala dua dan membawa kabur Nino. Dalam pertarungannya dengan Ali, Malik terbunuh oleh pisaunya sendiri dan perut Ali yang bersimbah darah karena tertusuk pisau, dilarikan jauh ke sebuah desa di pegunungan yang tenang dan damai, di kenal sebagai desa Khinalig dengan alasan untuk menghindari perang antar keluarga.

Setelah bertemu kembali, kedua sejoli itu menikah dan tinggal beberapa waktu di Khinalig sampai akhirnya invasi Uni Soviet terhadap Azerbaijan memaksa Ali untuk bergabung dengan teman-temannya memerangi musuh.

Selain para pemainnya yang rupawan, penonton disuguhi gambar-gambar yang indah disekitar kota tua Fountain Square, tangki-tangki minyak buatan lama yang justru terlihat indah dari jauh seperti menara dan menggambarkan betapa Baku menjadi booming karena produksi minyaknya, lensa film kemudian beralih ke pemandangan salju di pegunungan di desa Khinalig, dan kota Tehran namun dengan latar belakang masjid Shah yang berada di kompleks bangunan istana Shirvanshahs di kota tua Baku. Film dengan nilai produksi sebesar 20 juta dollar ini diproduseri oleh Kris Thykier dan Leyla Aliyeva, Wakil Presiden Yayasan Heydar Aliyev, yang bertindak sebagai Direktur Eksekutif. Film yang melibatkan banyak orang terkenal dari jagat film dunia seperti Christopher Hampton penulis skenario Dangerous Liasons yang memenangi Oscar, Asif Kapadia sebagai sutradara yang menang dalam film dokumenter berjudul Senna, Michele Clapton, desainer kostum dari film Game of Thrones, serta aktor dan aktris dari Negara Maroko, Spanyol, Denmark, Turki, Iran, Georgia, dan tentu saja Azerbaijan.

Film yang mengaduk-ngaduk emosi penonton antara cinta, perang, dan nasionalisme ini, mengibaratkan kekuatan cinta Ali dan Nino yang setara dengan ratusan dinamit yang diledakkan oleh tentara Azerbaijan meski jumlahnya tidak sampai setengah pasukan Uni Soviet namun dapat menewaskan banyak tentara beruang merah itu. Ali tertembak peluru di atas jembatan yang memisahkan kota Ganja, sementara Nina dengan kawalan ketat pergi menuju ke Tblisi, ibukota Georgia, dengan mengendong anak satu-satunya. Perdana Menteri Fatali Khan diperankan oleh Halit Ergenc (49) aktor Turki yang terkenal di Indonesia sebagai pemeran Sultan Sulaeman dalam drama televisi tertangkap dan diadili.

Novel Ali dan Nino yang ditulis dengan nama pena Kurban Said, pertama kali dipublikasikan di Jerman pada tahun 1937, diterjemahkan ke 33 bahasa dan telah dicetak ulang sebanyak 100 kali. “Ali dan Nino memiliki banyak hubungan dengan dunia kita dari perebutan di atas tanah yang mengandung minyak hingga masalah seputar pernikahan di antara mereka yang berbeda agama. Kenyataan itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu, namun entah mengapa film ini menjadi relevan,” pungkas Ruslan. (Nia S. Amira/Penulis hubungan internasional dan penyair)

Baca Juga