Beranda Metropolis

Penderita HIV di Kota Bogor Berkurang 25 Persen, Ini Penyebabnya

Ilustrasi HIV AIDS

BOGOR –RADAR BOGOR, Jumlah jiwa yang terinfeksi immunodeficiency virus (HIV) dalam tiga tahun terakhir angkanya berkurang di Kota Bogor. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) menghitung ada sekitar 25 persen ODHA berkurang sejak 2016 lalu.

Dari data yang dihimpun Radar Bogor, sejak tahun 2005 hingga 2018 tercatat sudah mencapai 4.000 kasus HIV dan AIDS, baik yang sudah meninggal ataupun dalam masa pengobatan.

Namun secara grafik setiap tahun kasusnya mengalami penurunan di mana pada tahun 2015 ada 700 kasus, sementara 2016 sekitar 400 kasus dan saat ini kasusnya berkurang menjadi 337 kasus.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bogor Iwan Suryawan menjelaskan, angka itu sejalan dengan upaya yang dilakukan oleh KPA yang sudah bekerjasama dengan instansi terkait di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dan Lembaga Swadara Masyarakat (LSM), yang bergerak dalam penanggulangan HIV dan AIDS, melalui pencegahan dan penanggulangan.

“Kami butuh menginformasikan dan menyebarluaskan ke masyarakat agar tahu harus melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Bogor, ” kata dia.

Dia melanjutkan, pencegahan pertama melakukan edukasi tentang HIV dan AIDS kepada seluruh elemen masyarakat. Berikut penanggulangan, dengan melakukan penjangkauan menyisir kepada kelompok populasi kunci, di antaranya pengguna narkoba, gay, waria dan WTS terakhir pelanggannya.

Selain itu, Iwan menambahkan, bahwa saat ini Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor melalui Puskemas telah memberikan pelayanan secara cuma-cuma bagi masyarakat untuk pemeriksaan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS).

“Jadi mungkin bagi yang pernah melakukan perilaku hubungan beresiko harus dicek darah di 25 Puskesmas Kota Bogor dan ini gratis,” ungkapnya.

Sementara itu, Focal Points Jaringan Indonesia Positif (JIP), Ihsan Purnama menambahkan, dengan adanya kemitraan dengan media dapat terjalin terus, supaya mampu menyampaikan informasi yang benar terkait HIV dan AIDS.

Menurutnya, dalam penyajian pemberitaan tidak hanya dari sisi negatif saja, tetapi ada sisi positif, dalam hal ini edukasi, terhadap pembaca. “Misalnya konten HIV. HIV memang virus yang menular, tetapi penularannya dalam proses tertentu melalui hubungan seks, berganti jarum suntik, ibu ke anak. Jadi jangan terlalu bikin heboh masyarakat yang berpikir menakut-nakuti,” katanya.

Terkait adanya pergeseran dalam upaya pencegahan penularan HIV terhadap ibu dan anak, Ihsan berharap masyarakat melakukan program PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission of HIV). “Program ini apabila ibu positif atau bapak positif agar anak negatif dengan konseling dan therapy,” imbuhnya.

JIP berharap, keberadaan pengidap HIV di masyarakat sama seperti pada umumnya bisa normal bisa seperti yang lain, bekerja dan sekolah. Baginya intervensi pemerintah saat ini juga cukup mendukung dalam program HIV melalui layanan. Namun belum dalam hal pengadaan obat yang gratis bagi para pengidapnya.

“Pelayanan sudah cukup baik hanya saja yang disayangkan dalam pengadaan obat gratis belum,” pungkasnya. (gal/c)

Baca Juga