Beranda Metropolis

Kemungkinan Gagal Bowling Tetap Ada

ilustrasi tebang pohon

BOGOR -RADAR BOGOR,Budiasi adalah sebuah yayasan yang konsen bergerak dalam bidang pembibitan pohon. Yayasan yang didirikan insan TNI ini jarang terlihat melakukan aktivitas seremonial penanaman.

Lebih dari itu, para pengurusnya selalu bergerak di lapangan. Bisa dikatakan, mereka sangat sensitif jika mendengar kabar adanya pohon yang mati ditebang. Seperti dalam serangkaian proses perjalanan pembangunan Tol BORR sejak seksi I A hingga saat ini memasuki III A.

Pengurus harian Yayasan Budiasi Mayor Inf Ermansyah menuturkan, ia baru saja menerima sebanyak 354 pohon yang sebelumnya ditanam di sepanjang ruas Tol BORR Seksi III A. Sebenarnya, di sepanjang jalan itu terdapat 354 pohon. Akan tetapi, 80 pohon dinyatakan sudah dalam batas udzur. Karenanya langsung dimusnahkan. Ke-354 pohon sisanya saat ini masuk dalam proses karantina untuk ditumbuhkan kembali.

“Ada dua tempat proses pembowlingan. Pertama di Sentul sebanyak dan kedua di Kayumanis. Tapi lebih banyak di Sentul karena lahannya luas. Sekitar 4 hektar. Kalau pohon yang di Kayumanis hanya yang memiliki diameter kecil. Diameternya kurang dari 20 CM,” kata Ermansyah kepada Radar Bogor.

Ia membeberkan, pohon-pohon yang dikarantina antara lain jenis tabebuya, trembesi, kenari, dan bungur. Setiap pohon memiiliki daya ketahanan berbeda-beda. Ada yang rentan, kuat, dan sedang. Trembesi, kata Ermansyah, adalah pohon paling kuat yang memiliki daya tahan lebih. Proses bowling paling pertama adalah membaringkan pohon tersebut di atas sebuah lahan. Setelah itu, bagian akar pohon dibungkus dan diberikan perangsang akar. Tujuannya memberikan asupan agar fungsi akar tidak hilang.

Untuk tetap merangsang klorofil atau zat hijau daun, diberikan antonik atau semacam perangsang daun untuk tetap tumbuh. Di bagian atas pohon juga diberikan green house, sebuah media untuk menjaga agar pohon tidak langsung terkena sinar ultraviolet. Setelah proses ini selesai, selanjutnya pohon tersebut dibiarkan dan menunggu sampai waktu tertentu.

“Lama atau tidaknya bowling kembali lagi kepada kekuatan pohon itu. Ada yang 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, atau mungkin bisa satu tahun. Proses bowling dinyatakan berhasil sampai tumbuh tunas. Nah, tunas inilah yang sering kita jadikan patokan apakah pohon bisa bertahan atau tidak,” ungkapnya.

Ermansyah mengakui, tidak semua pohon bisa lulus dan hidup selama proses pembowlingan. Dari pengalamannya mengelola pohon-pohon, termasuk pohon tol BORR seksi sebelumnya, kemungkinan gagal tumbuh sangat mungkin. Ia menyebut, 20 sampai 30 persen pohon-pohon itu ada peluang untuk mati. (rp2/ysp)

Baca Juga