Beranda Ekonomi

Tiga Jurus Introspeksi Merengkuh 2019 Lebih Baik

Penulis : Mohamad Cholid (
Business & Executive Coach, sertifikasi Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching)

BAGAIMANA pun hasil bisnis Anda selama 2018, terima saja sebagai fakta apa adanya. Kalau berhasil melebihi target yang dipatok awal 2018, syukuri dan tetap berusaha lebih baik lagi, jaga stamina fisik dan mental untuk terus berkembang. Ingat kata-kata Bill Gates, pendiri dan pemilik Microsoft: “Sukses itu guru yang buruk.” Artinya, sukses dapat membuat lalai.

Jika hasilnya kurang dari yang Anda targetkan, tetap bersyukur untuk dua hal: pertama, masih diberi peluang mengelola bisnis memasuki 2019; kedua, diberi kesempatan oleh Tuhan untuk belajar meningkatkan kompetensi diri sendiri dan tim. Proses pembelajaran dan upaya lebih cerdas meningkatkan skill dan kompetensi dalam mengelola organisasi memiliki bobot tinggi, membuat Anda dan tim menjadi pribadi-pribadi yang lebih profesional, lebih efektif bekerja.

Tiga actions yang perlu Anda ambil hari ini juga untuk merengkuh sukses 2019, adalah:

Pertama, evaluasi diri secara jujur dan mendalam, apa sesungguhnya alasan filosofis dan tujuan-tujuan membangun bisnis. Jawaban orang-orang yang masih belum belajar umumnya, “membangun bisnis untuk kaya, punya kekuatan modal, dst….” Tidak ada yang salah untuk itu.

Tapi coba renungkan kembali, berapa juta orang di negeri ini yang memiliki alasan yang sama saat mendirikan perusahaan? Berapa persen dari mereka bisnisnya bertahan lebih dari lima tahun? Bukan karena mereka kurang pintar (di antara mereka ada yang bergelar MBA atau MM dan berpengalaman kerja di perusahaan besar); bukan pula karena kondisi pasar sedang lesu (kenyataannya perusahaan-perusahaan lain yang sejenis tetap berkembang).

Kelemahan mereka yang bisnisnya gulung tikar sebelum tahun kelima umumnya kurang punya “alasan kuat” (why) dan kurang memiliki life purpose yang jelas, serta malas belajar untuk meningkatkan business skill – umumnya merasa sudah pintar. Sehingga terkena goncangan sedikit langsung oleng dan ambruk.

Para pemilik/pengelola bisnis yang bertahan sampai belasan atau puluhan tahun dalam kondisi makin baik umumnya memiliki why dan life purpose gamblang. “He who has a why to live can bear almost any how,” kata filsuf Friedrich Nietzsche. Ibarat seorang nakhoda bermental kuat dan tujuan pasti, gelombang dan angin topan tetap dihadapinya untuk ke pelabuhan tujuan.

Kedua, cek kembali pemahaman dan penghayatan Anda tentang entrepreneurship. Inti dari entrepreneurship adalah “selalu melakukan hal-hal baru atau mengerjakan sederet hal yang selama ini dilakukan tapi dengan cara baru.” Di sini perlu keberanian merambah wilayah yang belum terjamah (misalnya, mengggali informasi pasar sedalam mungkin), sikap rendah hati dan keterbukaan pikiran untuk terus belajar dari perspektif pihak lain (konsumen dan bahkan kompetitor). Perubahan dinamika pasar dan preferensi konsumen belakangan ini menuntut kita untuk terus meningkatkan kompetensi dan business skill.

Ketiga, lakukan asesmen ulang personel dan proses bisnis, dengan tiga pertanyaan dasar:1). Apa saja yang sudah dikerjakan selama 2018 (buat daftar hal yang memberi benefit dan urusan yang sesungguhnya tidak perlu); 2). Apa yang tidak dikerjakan (padahal sangat diperlukan untuk kebaikan bersama); 3).Bagaimana selama ini Anda dan tim merespon kejadian-kejadian di internal organisasi, di lingkungan industri Anda, dan terkait situasi makro ekonomi.

Ketiga hal mendasar tersebut tampak sederhana, tapi sering dilupakan oleh para pengelola bisnis. Konsistensi melakukan asesmen tersebut dapat membantu Anda memimpin lebih efektif. Dalam menyikapi realitas hasil usaha hari ini, tidak perlu menyalahkan pihak lain, cari-cari alasan, atau membuat alibi — alibi tidak mengubah fakta. Hal yang dapat meningkatkan prestasi Anda dan tim adalah tindakan-tindakan kongkret, actions lebih baik dan terukur. (*)

(Untuk konsultasi mengembangkan bisnis Anda secara sehat, kontak Nella – 085280538449).

Baca Juga