Beranda Ekonomi

Rupiah Mulai Menguat, BI Tetap Waspada

ilustrasi

JAKARTA-RADAR BOGOR,Rupiah kini mulai bangkit. Walau baru menguat tipis, tapi sedikit menggembirakan. Berdasar data Spot Exchange Bloomberg pada pembukaan perdagangan kemarin (6/9), rupiah rebound di posisi 14.875 per dolar AS atau menguat 0,42 persen.

Mata uang negeri ini ditutup terapresiasi di level 14.893 per dolar AS atau meningkat 0,30 persen dari penutupan sebelumnya yang sebesar 14.938 per dolar AS. Rupiah kemarin diperdagangkan di level 14.875-14.905 per dolar AS.

Sementara itu, berdasar kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah kemarin berada di posisi 14.891 per dolar AS. Posisi tersebut juga menguat jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya, yakni Rp 14.927 per dolar AS.

Meski tekanan terhadap rupiah mereda, BI tetap mewaspadai pergerakan nilai tukar. “Dalam dinamika harian, BI akan tetap konsisten dan sekuat tenaga melindungi rupiah dari pelemahan yang cepat dan tajam,” jelas Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah kemarin.

Nanang melanjutkan, pihaknya tetap menjaga stabilitas di pasar valas untuk memastikan ketersediaan valas mencukupi. “BI akan terus memastikan pergerakan likuiditas dan efisiensi di pasar valuta asing Indonesia tetap terjaga,” ujarnya.

Di samping itu, otoritas moneter menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan. Di antaranya dengan menaikkan tarif PPh impor bagi sejumlah komoditas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penyesuaian di sisi fiskal tersebut dilakukan agar secara tidak langsung memberikan kestabilan pada nilai tukar. Pihaknya terbuka jika ada usulan lain yang perlu dilakukan untuk menekan defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan. “Kita lihat saja dari menteri perindustrian kalau butuh insentif tambahan (lagi, Red),” kata perempuan yang kerap disapa Ani tersebut.

Salah satu penyebab defisitdi Indonesia adalah impor migas yang tinggi. Per Juli 2018, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD 2,03 miliar. Kondisi itu dipicu defisit sektor migas senilai USD 1,19 miliar. Nilai impor seluruh komponen migas yang meliputi minyak mentah, hasil minyak, dan gas mencapai USD 81,2 juta, USD 382,4 juta, dan USD 11,7 juta masing-masing. Secara year-on-year (yoy), impor minyak mentah naik 15,01 persen, impor hasil minyak melonjak 28,81 persen, dan impor gas naik 4,29 persen.

Menurut Ani, untuk menekan defisit itu, Indonesia perlu belajar dari Islandia. Negara yang bergantung pada impor minyak itu berhasil mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) geotermal. Hal tersebut mampu memperbaiki defisit neraca perdagangan Islandia. Sebab, impor migasnya tersubstitusikan dari energi hasil geotermal.

Sementara itu, beberapa importer terkena dampak kenaikan tarif PPh. Salah satunya importer mobilmewah. Presdir Prestige Image Motorcars Rudy Salim menegaskan bahwa pihaknya mendukung keputusan pemerintah tersebut. Namun, dia menilai kontribusi barang-barang mewah seperti mobil terhadap keseluruhan nilai impor hanyalah 20 persen. Sementara itu, 70 persen impor terkait dengan bahan baku dan penolong.

Pengamat ekonomiIndef Bhima Yudhistira menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi sentimen negosiasi Argentina dengan International Monetary Fund (IMF). Karena itu, proyeksinya, dana talangan IMF akan meredakan sejenak krisis Argentina. Kemudian, dari dalam negeri, BI melakukan intervensi skala besar melalui operasi pasar sekunder. “Meskipun rupiah menguat tipis, risikonya, cadangan devisa tergerus,” jelasnya.

Karena itu, Bhima memprediksi penguatan rupiah hanya temporer. Sebab, dari sisi global, masih ada Afrika Selatan dan Turki yang krisis keuangannya diproyeksikan berlanjut. Selain itu, belum ada titik temu terkait dengan perang dagang antara AS dan Tiongkok. “Ditambah lagi rencana Fed menaikkan bunga acuan dua kali lagi tahun ini,” imbuhnya.

Mata uang dolar AS yang beberapa hari sebelumnya bergerak liar kemarin mulai melandai. Kombinasi meredanya tekanan eksternal dan langkah-langkah yang diambil pemerintah serta BI menjadi faktor penguat rupiah.

Sementara itu, JK menegaskan, berbagai upaya pemerintah untuk memperkuat nilai tukar rupiah mulai menunjukkan hasil. Itu dibuktikan dengan nilai tukar yang menguat kemarin. Karena itu, dia meminta masyarakat tidak resah. “Bagus lah. Berarti, ada pengaruh daripada kebijakan pemerintah. Buktinya, jam-jam ini turun (nilai tukar rupiah, Red),” ujar JK kemarin.

Bagaimana imbauan masyarakat agar menukarkan dolar AS ke rupiah? JK menyebut hal itu belum dilakukan oleh pemerintah. Sebab, dia yakin pemerintah dan bank sentral bisa menjaga rupiah tetap kondusif. “Sehingga siapa yang simpan-simpan dolarnya (untuk spekulasi, Red) nanti rugi belakangan,” tegas JK.

(ken/jun/rin/c11/agm)

Baca Juga