Beranda Berita Utama

Mendag Dituding Biang Kerok Rupiah Anjlok, Presiden Tak Berani Tegur Takut Surya Paloh

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

JAKARTA-RADAR BOGOR, Sejumlah pengamat ekonomi menilai salah satu penyebab anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yakni tidak seimbangnya ekspor dan impor. Impor lebih besar ketimbang ekspor.

Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan, biang kerok impor pangan yang sangat tinggi itu adalah Mentri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita .

Pernyataan Rizal Ramli sampaikan saat dihubungi presenter TV One dalam acara Indonesia Busines Forum yang membahas anjloknya nilai tukar rupah terhadap dollar AS.

Menurut Rizal, Enggar melebihkan impor garam 1,5 juta ton, impor gula ditambahkan 2 juta ton, impor beras ditambah 1 juta ton. Hal itu membuat petani di dalam negeri menjerit, terutama petani garam.

“Jadi biang keroknya sebetulanya saudara Enggar, cuman Presiden Jokowi gak berani negur karena takut Surya Paloh,” ucap Rizal Ramli.

“Saya katakan Pak Jokowi, panggil saya aja, biar saya yang tekan Surya Paloh, karena ini brengsek, impor naik tinggi sekali, petani itu dirugikan, petambak diugikan, akibatnya selektabilitas Pak Jokowi juga merosot digerogoti,” tambah Rizal.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Institute For Development For Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri juga menyatakan hal serupa. Faisal menuding kebijakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebabkan impor yang masuk ke Indonesia saat ini sangat tinggi.

Menurut Faisal, derasnya impor dari berbagai negara tak terlepas dari kebijakan yang dibuat oleh Mendag.

“Sebelum batasi (impor), tertibkan dulu kelakuan Pak Enggar. Yang tadinya ada rekomendasi, sekarang enggak ada rekomendasi. (Impor) Seperti air bah sekarang,” tegas Faisal dalam acara yang ditayangkan di TV One, Kamis (6/9/2018).

Faisal mencontohkan, sejak Januari hingga Juli 2018, jumlah impor ban melonjak mencapai lebih dari 100 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Hal itu dipicu lantaran kebijakan Mendag yang memutuskan untuk tidak perlu lagi rekomendasi dari Kementerian Perindustrian untuk bisa impor ban. (one/ysp)

Baca Juga