Beranda Olahraga All Sport

Sepak Takraw, Olahraga Nusantara yang Kembali Dibicarakan

Dari depan kiri Muslimatin(Ibu), Saiful Hilal(adik terakhir), Katirin (bapak) dari kiri belakang Nofita Risqi (adik nomer dua), Saiful Rijal (bang ipul), dan Nadifatul Afrina (adik pertama) di rumah Dusun Krajan Desa Sumberurip RT 19 RW 10 Kec. Pronojiwo (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

JAKARTARADAR BOGOR, Sepak takraw. Olahragaitu tak pernah hadir dalam percakapan keseharian kita. Tenggelam oleh riuhnya sepak bola. Juga bola voli dan bulu tangkis. Padahal, sepak takraw merupakan olahraga asli Nusantara.

Asian Games
2018 mengubahnya. Terlebih setelah Saiful Rijal bersama rekan-rekannya meraih medali emas dari nomor kuadran.

Saat pertandingan final melawan Jepang berlangsung, jutaan pasang mata menyaksikan perjuangan tim sepak takraw Indonesia.
Sepak Takraw, Olahraga Nusantara yang Kembali Dibicarakan
Saiful Rizal Smash ke pemain takraw Jepang. Tim Takraw Indonesia, Muhamad hardiansyah, Noifrizal, Saiful Rizal, Husni Uba, Rizky Arahan Pago, Abdul halim Radjiu kalahkan Jepang. (EVAN ZUMARLI/SUMATERA EKSPRES/Jawa Pos Group)

Semua bersukacita begitu medali emas dari sepak takraw berhasil diraih. Itulah medali emas terakhir yang direngkuh Indonesia dalam Asian Games 2018. Membuat Indonesia mendulang 31 medali emas.

Setelah final itu, orang-orang pun memperbincangkan sepak takraw. Menjadi hafal nama-nama pemainnya. Terutama nama Nofrizal dan Saiful Rijal. Semua pun seperti menjadi ngeh bahwa ada olahraga itu. “Alhamdulillah, sekarang sepak takraw ramai dibicarakan orang. Itulah bonus yang membahagiakan saya,” ungkap Rijal.

Pria asal Lumajang tersebut tidak memungkiri bahwa dirinya begitu senang dengan guyuran bonus ratusan juta rupiah dari pemerintah. Dia juga sangat bahagia bisa mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Namun, kebahagiaan terbesarnya saat ini adalah melihat sepak takraw diperbincangkan dalam keseharian.

Sepak takraw sejatinya pernah ramai dimainkan orang pada 2006. Namun, itu tak lama. Selepas 2010, sepak takraw tenggelam. Nah, Asian Games 2018 bagaikan menjadi jembatan bagi sepak takraw untuk dikenal kembali oleh masyarakat.

“Dan saya sangat senang masyarakat bisa tertawa lagi ketika melihat sepak takraw,” kata Rijal. Dia pun berharap sepak takraw setelah ini tidak lagi sekadar diperbincangkan. “Tapi, sepak takraw bangkit dan dimainkan banyak orang. Terutama anak-anak sekolah,” ujar pria 27 tahun itu.

Lalu, bagaimana dengan bonus uang dari pemerintah? “Kalau itu, belum kepikiran dibuat apa. Disimpan dulu di bank saja.”

Jika Rijal belum terpikir mau dikemanakan uang bonus yang diterimanya, tidak demikian halnya dengan Nofrizal. Nofrizal berencana berinvestasi. “Ya, beli tanah sama nyicil bangun rumah. Kecil-kecil dulu,” ungkapnya.

Kebetulan, di luar bermain sepak takraw, Nofrizal tidak memiliki pekerjaan lain. Karena itu, dia terpikir untuk berinvestasi. Langkah itu dilakukan demi menghidupi istri dan anaknya. Sebab, dia menyadari, profesi atlet tidaklah panjang. Apalagi atlet sepak takraw yang tak ada kompetisi rutinnya.

(gil/han/c5/fim)

Baca Juga