Beranda Pendidikan

UT Masuki Usia Ke-34, Ini Misi Besar Menristekdikti

BERBAGI
Suasana perayaan Dies Natalis ke-34 tahun Universitas Terbuka di Auditorium kampus Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Tangerang Selatan (4/9).

JAKARTA – RADAR BOGOR, Universitas Terbuka (UT) sebagai pelopor perkuliahan jarak jauh, Selasa (4/9) menggelar Dies Natalis memasuki usia yang ke-34 tahun. Peringatan ini dipusatkan di auditorium dan diikuti sejumlah mahasiswa, dosen, serta para mantan rektor UT sebelumnya. Diantaranya adalah mantan rektor UT Tian Belawati.

Rektor UT Prof Ojat Darojat mengatakan salah satu langkah kongkrit UT adalah ikut andil dalam meningkatkan APK pendidikan tinggi. Dia menjelaskan saat ini telah bekerjasama dengan 28 kampus negeri dan 12 kampus swasta terkait kuliah jarak jauh.

Dalam kerjasama tersebut, UT ikut menyiapkan konten dan teknologi perkuliahan jarak jauh. Dia menyebutkan semakin banyak kampus yang menjalankan kuliah jarak jauh layaknya UT, maka bisa mengatrol APK pendidikan tinggi.

“Kami di UT akan terus mendukung pembelajaran online supaya semakin diperluas,” kata dia.

Sementara itu Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan kualitas sebuah kampus bukan dilihat dari usianya. Jadi meskipun usia UT baru 34 tahun, bukan berarti kualitas UT tidak bagus.

Meskipun begitu Nasir mengingatkan supaya UT terus meningkatkan kualitas pembelajarannya.

Selain itu dia menyampaikan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi. Dia menjelaskan saat ini APK tercatat di angka 32,5 persen. Itu artinya hanya 32,5 persen anak Indonesia yang usia kuliah bisa mengakses kuliah.

“Target 2019 APK bisa naik menjadi 39 persen. Ini tidak susah,” katanya.

Menurut Nasir upaya meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi itu bisa didorong oleh kampus penyelenggara pendidikan jarak jauh (PJJ). Salah satu kampus yang menjadi pioneer dalam menyelenggarakan PJJ adalah UT.

Nasir menerima laporan awalnya UT hanya menerima 20 ribuan mahasiswa baru. Tetapi dengan perkembangan layanan PJJ saat ini UT bisa sampai menerima 65 ribu lebih mahasiswa baru.

“Bisa dilakukan untuk mengejar APK supaya lebih tinggi lagi. Ini baru di UT, apalagi kalau kampus lain ikut menjalankan PJJ seperti UT,” jelasnya.

Nasir mengatakan data Kemenristekdikti menyebutkan saat ini ada 26 unit program studi (prodi) yang menjalankan PJJ. Semuanya tersebar di kampus negeri maupun swasta. Salah satunya ada di Binus Jakarta, UGM, dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Nasir menjelaskan Kemenristekdikti sudah menyiapkan regulasi pelaksanaan PJJ. Tetapi dalam perkembangannya regulasi tersebut direvisi. Sebab Nasir kurang cocok dengan skema PJJ yang masih mengharuskan kuliah tatap muka (face to face).

“Seharusnya ada kebebasan. Bisa 100 persen online learning seperti UT ini. Jadi masih ada revisi peraturan,” pungkasnya.

(wan/JPC)

Baca Juga