Beranda Politik

Ma’ruf Amin Bercerita Detik-detik Dirinya Diminta Jadi Cawapres

JAKARTA-RADAR BOGOR, Ma’ruf Amin Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengungkapkan dalam sejarah hidupnya, dirinya tidak pernah bercita-cita menjadi calon wakil presiden (cawapres).cNamun takdir berkehendak lain di Pilpres 2019 ini dirinya dipercaya menjadi pendamping Joko Widodo (Jokowi).

“Saya memang tak pernah bercita-cita atau berharap untuk jadi wapres. Karena saya itu disuruh jadi kiai oleh keluarga‎ saya,” ujar Ma’ruf Amin di DPP PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat (10/8).

Bahkan pada saat sebelum dirinya ditunjuk oleh Jokowi menjadi cawapres. Ma’ruf mengaku siangnya pada (9/8) masih sibuk di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengumpulkan donasi terkait gempa di Lombok.

Kemudian, saat ‎itu Ketua Umum PPP Romahurmuziy menghubungi dirinya sekira pukul 16.30 WIB untuk bersiap-siap menjadi cawapres Jokowi. Ma’ruf pun kaget karena yang ia tahu Jokowi sudah pasti menujuk mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD.

Di percakapan telpon itu ada seorang pria yang dengan samar berbicara, ada arah baru mengenai cawapres. Kemudian sekira pukul 17.00 Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menghubunginya untuk bersiap diri menjadi cawapres Jokowi.

“Saya katakan saya enggak enak di jalur ini (jadi cawapres). Tapi kalau negara membutuhkan, saya siap,” katanya saat mengenang kejadian tersebut.

Rais Amm Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menambahkan, ada yang pihak yang memintanya untuk tidak menerima pinangan Jokowi tersebut. Namun Ma’ruf Amin mengaku penunjukan dirinya adalah sebuah panggilan takdir Ilahi.

“Jadi saya bilang memang yang boleh jadi presiden dan wapres itu politisi saja, tentara saja, dan pengusaha saja. Kiai juga boleh waktu Gus Dur jadi presiden boleh. Giliran saya jadi wapres tidak boleh. Masa iya tidak boleh,” kenangnya.

Oleh sebab itu Ma’ruf Amin berterima kasih kepada Jokowi yang telah memilih ulama dan kiai untuk menjadi pendampingnya di Pilpres 2019 mendatang.

“Penunjukan saya ini, saya anggap sebagai penghargaan pada ulama,” pungkasnya. (rdw/JPC/mg1/JPG)

Baca Juga