Beranda Ekonomi

RI Berpotensi Jadi Importir Kopi

Biji kopi (Dok. JawaPos.com)

JAKARTA-RADAR BOGOR, Pertumbuhan produksi kopi di Indonesia tercatat masih lesu, yakni sebesar 0,3 persen. Produktivitas kopi petani kini sekitar 0,53 ton per hektare dari total potensi sebesar 2 ton per hektare untuk kopi robusta dan 0,55 ton per hektare dari total potensi 1,5 ton per hektare untuk kopi arabika.

Padahal, Indonesia adalah negara yang memiliki varian rasa kopi paling kaya di dunia. Sebut saja kopi Gayo, Kintamani, Flores Bajawa, Toraja, dan lain-lain. Keanekaragaman itu dianggap tidak sesuai pertumbuhan produksinya.

“Kalau tidak diantisipasi tidak menutup kemungkinan 2-3 tahun mendatang kita menjadi importir kopi,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasutuon di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (8/8).

Dia menilai, upaya itu perlu diantisipasi dengan meningkatkan produksi kopi di tanah air. Di sisi lain, pengembangan lahan kopi juga perlu dilakukan untuk mendukung peningkatan produksinya.

Sebab, data 2017 menunjukkan areal lahan kopi di Indonesia hanya sebanyak 1,25 juta hektare saja. Jumlah itu masih di bawah area lahan untuk karet dan kelapa sawit yang sudah di atas 2 juta hektare.

“Nah, gerakan peningkatan produksi dan mutu kopi nasional merupakan langkah strategis dan sangat prospektif bagi perekonomian nasional,” tuturnya.

“Yang sebagian besar (lahan) merupakan kopi robusta kira-kira 73 persen dan arabika 27 persen. Baik kopi robusta maupun arabika sebagian besar dikelola petani. Sama dengan karet dan kelapa. Satu-satunya komoditas perkebunan penting yang peranan besar itu cukup tinggi itu kelapa sawit,” tandasnya.

(ce1/hap/JPC)

Baca Juga