Beranda Politik

Jenderal Kardus Vs Jenderal Baper Teknik ‘Name Calling’ Yang Dinilai Tidak Strategis

BERBAGI

JAKARTA-RADAR BOGOR, Ada isitilah baru muncul anatara komunikasi politik Partai Demokrat dan Partai Gerindra yaitu ‘Jenderal Kardus’ dan ‘Jenderal Baper’. Julukan ini kurang enak ini mendadak heboh di pengujung masa pendaftara Capres-Cawapres, hingga berisiko pada pecahnya koalisi kedua partai.

Pada mulanya, wakil sekretaris jenderal (Wasekjen) Demokrat Andi Arief yang Ketua Umum Gerindra Prabowo sebagai jenderal kardus, menolak kedatangan Prabowo ke rumah Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kuningan, Jakarta Selatan.

Tak berselang lama, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, membalas dengan menyebut Andi hilang kesadaran. Arief pun menyebut SBY sebagai jenderal baper, alias bawa perasaaan.

Melihat aksi saling cemooh tersebut, pengamat komunikasi politik Gun Gun Heryanto mengatakan sebutan ‘jenderal kardus’ dan ‘jenderal baper’ adalah teknik name calling yang biasa terjadi dalam eskalasi politik.

“Name calling itu tentu kalau kita baca teknik propaganda, biasa terjadi di politik. Namanya, name calling technique,” kata Gun Gun kepada JawaPos.com, Kamis (9/8).

“Seperti penyebutan jenderal kardus apalah, jenderal baper,” lanjutnya.

Gun Gun melihat, pernyataan baik Andi maupun Arief bukan tindakan spontan. Pasalnya, SBY dan Prabowo telah melakukan pertemuan secara intensif sebelumnya.

Sehingga, menurutnya, kecil kemungkinan tindakan para elite partai itu tanpa sepengetahuan yang lainnya. “Karena biasanya hal-hal seperti itu sensitif, pada saat menjaga komunikasi pasti dia menjaga koordinasi,” ucap Gun Gun.

Oleh karena itu, Gun Gun menyebut manajemen konflik yang terjadi antara Partai Demokrat dengan Partai Gerindra sangat tidak strategis. Sebab, hal tersebut dilakukan jelang akhir pendaftaran capres-cawapres.

“Kalau itu bacaannya managemen konflik sangat riskan, tapi lihat satu hari ke depan seperti apa,” pungkasnya.

(rdw/JPC/mg1/JPG)

Komentar Anda

Baca Juga