Beranda Ekonomi

Bersaing dengan Taksi Online, Blue Bird Yakin Menang soal Keamanan

BERBAGI
Direktur PT Blue Bird Tbk Sigit Djokosoetono (kiri) di acara pengumuman kerja sama dengan TCash di Jakarta, Kamis (2/8). (Rian Alfianto/JawaPos.com)

JAKARTA-RADAR BOGOR, Bukan rahasia lagi bahwa hadirnya transportasi massa berbasis online mengubah tren penggunaan transportasi publik konvensional. Taksi misalnya. Sejak platform angkutan umum online hadir, popularitas taksi konvensional tergerus. Bahkan beberapa perusahaan sampai gulung tikar gara-gara tak mampu bersaing dengan angkutan umum berbasis internet itu.

Meski demikian, adanya gempuran angkutan online yang tumbuh beberapa tahun belakangan ini rupanya tidak berpengaruh bagi brand taksi legendaris Blue Bird. Mereka mengaku bisnisnya tetap positif. Artinya, Blue Bird bisa ikut bersaing dengan angkutan umum online dan perlahan bangkit kembali meski nyatanya memang agak sulit.

Direktur PT Blue Bird Tbk Sigit Djokosoetono mengungkapkan, saat ini taksi konvensional seperti Blue Bird dapat terus hidup dan bersaing karena beberapa faktor. Keamanan dan kenyamanan misalnya. “Dari sisi keamanan, kami dari Blue Bird jelas mengedepankan hal itu. Dari mulai seleksi driver, kontrol terhadap kendaraan terus dipantau, dan berbagai service lainnya,” ujarnya dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Kamis (2/8).

“Setiap driver tercatat posisinya di mana, historinya bagaimana, tamunya bagaimana, jemput dan turun di mana tercatat melalui sistem GPS kami. Itu yang diharapkan menjadi faktor pembantu dalam meningkatkan layanan terhadap pelanggan kami,” sambung Sigit Djokosoetono.

Menurut dia, kini konsumen juga mulai belajar bahwa pelayanan memang menjadi faktor utama. Termasuk keamanan dan harga. “Konsumen bisa memilih, harga murah tapi pelayanan jelek atau sedikit mahal tapi jelas aman dan nyaman,” katanya.

Kemudian, Blue Bird yang sempat dicap tidak update teknologi ini juga mengaku perlahan mulai berubah. Ketika Blue Bird melakukan inovasi, lanjut Sigit, konsumen mau menerima dan terus tumbuh kembali.

“Dari segi teknologi, Blue Bird juga memiliki aplikasi MyBlueBird. Itu menjadi tanda bahwa kami juga mengikuti laju teknologi. Kemudian tren transaksi, kalau sebelumnya transaksi 100 persen tunai, sekarang sudah tidak lagi. Perlahan konsumen kami mau mengikuti juga dan masuk ke dalam iklim cashless berbasis teknologi,” jelas Sigit Djokosoetono.

Sekadar informasi, dsri sisi aplikasi, Blue Bird selain memiliki MyBlueBird, layanannya juga ada yang berjalan di atas platform angkutan online lain dalam hal ini Gojek. Kendati begitu, Sigit mengatakan bahwa user masih banyak datang dari channel yang dimiliki Blue Bird.

Menurut Sigit, transaksi melalui Gojek (GoCar) disebutnya hanya merupakan transaksi tambahan saja. Itu hanya menjadi opsi lain dari tamu yang menggunakan layanan Blue Bird. Namun jumlah totalnya masih paling banyak di channel yang dimiliki Blue Bird. “Total transaksi tidak bisa kami sebutkan, namun trennya positif,” katanya.

Sigit Djokosoetono menambahkan, setahun dua tahun terakhir ini Blue Bird memang berfokus pada perbaikan layanan baik itu keamanan dan kenyamanan. Selain itu Blue Bird juga berfokus pada peningkatan dari sisi teknologi. “Dengan pelayanan yang baik, konsumen akan bertahan,” pungkasnya.

(ryn/JPC)

Komentar Anda

Baca Juga