Beranda Ekonomi

Maskapai Bertarif Rendah Marak, Boeing Kebanjiran Order Pesawat

BERBAGI
Proses perakitan pesawat Boeing (Cancer Treatment)

JAKARTA-RADAR BOGOR,Produsen pesawat Boeing (NYSE: BA) akan menyiapkan 42.730 pesawat jet baru senilai USD 6,3 triliun untuk dua puluh tahun ke depan. Hal ini menjadi proyeksi jangka panjang bagi produsen asal Amerika Serikat itu.

Berdasarkan keterangan resmi yang diperoleh Jawapos.com, armada pesawat dunia akan mengalami peningkatan permintaan untuk jasa aviasi komersial. Total potensi pasarnya mencapai USD 15 triliun.

Menariknya, pesawat berlorong tunggal akan mengalami pertumbuhan paling besar selama periode proyeksi, dengan adanya permintaan sebanyak 31.360 pesawat baru. Meningkat 6,1 persen dibanding tahun lalu.

Pasar dengan nilai USD3,5 triliun ini sebagian besar dipacu oleh pertumbuhan pesat maskapai penerbangan bertarif rendah, kuatnya permintaan dari emerging markets, dan meningkatnya permintaan pesawat pengganti di pasar seperti Cina dan Asia Tenggara.

“Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun, kami melihat ekonomi tumbuh di setiap kawasan di dunia. Pertumbuhan yang selaras ini memberi stimulus tambahan bagi perjalanan udara secara global. Kami melihat tren lalu lintas yang kuat tidak hanya pada emerging markets seperti Cina dan India, tetapi juga di pasar Eropa dan Amerika Utara,” kata Randy Tinseth, Wakil Presiden Commercial Marketing, The Boeing Company dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (17/7).

Perusahaan yang telah berganti nama menjadi Commercial Market Outlook (CMO) menyertakan analisa pasar jasa pendukung penerbangan yang dinamis. Dipresentasikan hari ini di Farnborough International Airshow. Sebagai tolak ukur industri angkutan udara global, CMO 2018 memproyeksikan jumlah total pesawat meningkat 4,1 persen dari perkiraan sebelumnya.

Menurut data armada, saat ini ada lebih dari 900 pesawat yang berusia lebih dari 25 tahun. Pada pertengahan tahun 2020, lebih dari 500 pesawat per tahun akan mencapai usia 25 tahun – dua kali lipat dari jumlah saat ini – yang akan memicu gelombang pensiun. Tinseth mengatakan, data tersebut menjelaskan mengapa 44 persen pesawat baru akan dibutuhkan hanya untuk menggantikan pesawat yang dipensiunkan, sementara selebihnya untuk mendukung pertumbuhan ke depan.

“Jika termasuk pesawat yang akan dipertahankan, armada global diproyeksikan meningkat dua kali lipat menjadi 48.540 pada tahun 2037,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk pesawat berbadan lebar membutuhkan 8.070 pesawat baru dengan nilai mendekati USD 2,5 triliun untuk jangka waktu 20 tahun ke depan. Permintaan pesawat berbadan lebar akan didorong oleh kebutuhan untuk mengganti pesawat yang akan pensiun mulai awal dekade berikutnya dan maskapai yang mulai menggunakan pesawat modern seperti 787 Dreamliner dan 777X untuk ekspansi jaringan global mereka.

Selanjutnya, Boeing memperkirakan kebutuhan untuk 980 pesawat kargo berbadan lebar produksi baru selama masa proyeksi, bertambah 60 pesawat dari tahun lalu. Selain itu, para operator diperkirakan akan membeli 1.670 pesawat kargo yang telah dikonversi.

(uji/JPC)

Baca Juga